Minggu, 12 April 2026

29 dari 52 Perempuan Rohingya yang Diwawancarai Mengaku Diperkosa oleh Serdadu Myanmar

Salah satunya adalah Hala Sadak dari Desa Hathi Para. Perempuan 15 tahun itu berkata dia telah diperkosa oleh 10 tentara.

Editor: Zaenal
CNN
Wanita etnis Rohingya menangis di atas kapal yang mengangkut ke lokasi pengungsian. Banyak dari pengungsi adalah ibu dan anak-anak yang meninggalkan kampung mereka di Myanmar untuk menghindari pembunuhan oleh tentara Myanmar. 

SERAMBINEWS.COM, NAYPYIDAW - Lembaga Pengamat HAM menilai, serdadu Myanmar melakukan kekerasan fisik secara sistemis ketika melakukan operasi militer kepada etnis Rohingya 25 Agustus lalu.

Dilansir Sky News Kamis (16/11/2017), penilaian itu didasarkan pada wawancara 52 perempuan Rohingya, baik dewasa maupun anak-anak, dari 19 berbeda.

Wawancara itu dilakukan di kamp pengungsi di Banglades.

29 di antara 52 perempuan tersebut mengaku diperkosa. Hanya satu yang mengatakan diperkosa secara bergiliran.

Salah satunya adalah Hala Sadak dari Desa Hathi Para. Perempuan 15 tahun itu berkata dia telah diperkosa oleh 10 tentara.

"Ketika kakakku datang untuk menyelamatkan saya, saya sudah terbaring di rerumputan. Mereka mengira saya sudah mati," ungkap Sadak.

(Baca: Derita Rohingya belum Berakhir, Mereka Dieksploitasi, Dilecehkan, bahkan Diperdagangkan)

Skye Wheeler, penulis laporan itu menjelaskan, dalam delapan kasus yang dia temukan, perkosaan itu dilakukan lima orang atau lebih tentara Myanmar.

Akibatnya, korban terpaksa berjalan berhar-hari dengan menahan rasa sakit di organ kewanitaan mereka untuk mencapai Banglades.

"Perkosaan sudah menjadi ciri khas dari tentara Myanmar ini dalam kampanye mereka membersihkan etnis Rohingya," kecam Wheeler.

(Baca: Aceh Galang Dana untuk Rohingya dan Palestina)

Tindakan barbar ini, lanjut Wheeler, telah membuat puluhan perempuan Myanmar mengalami trauma fisik dan mental.

Laporan yang dirilis Wheeler terjadi setelah Utusan Khusus PBB Bidang Kekerasan Seksual, Pramila Patten, memberikan ulasannya.

Patten menyatakan, aparat keamanan Myanmar terbukti mengatur dan memerintahkan kekerasan seksual.

Fakta ini membuat banyak pihak mendesak Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi embargo senjata kepada Myanmar.

Namun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, menilai sanksi tidak akan serta-merta menyelesaikan krisis kemanusiaan di Myanmar.

Akibat operasi militer yang dilakukan militer, sebanyak 600.000 orang mengungsi ke Bangladesh.(*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemerkosaan Perempuan Rohingya Dilakukan Lebih dari 5 Tentara Myanmar"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved