Mihrab
Masjid Labui, Kisah Tongkat Iskandar Muda
MASJID Raya Labui yang awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeuruhom, dipercayai sebagai masjid tertua di Aceh
MASJID Raya Labui yang awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeuruhom, dipercayai sebagai masjid tertua di Aceh yang menyimpan nilai historis. Bukti sejarah itu sampai sekarang masih tetap utuh, meski sempat dilakukan modifikasi dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya. Modifikasi dilakukan supaya warisan sejarah itu tetap awet.
Adalah tongkat kayu berukir dan mimbar (mihrab). Mimbar dibuat pengrajin yang didatangkan khusus dari Negara Cina sekitar abad 1416 M. Uniknya mimbar dengan arsitektur Cina itu kaya dengan ukiran, sampai kini masih berdiri kokoh di dalam masjid.
Mimbar tersebut masih digunakan untuk khatib saat berkhutbah pada hari Jumat. Untuk mempertahankan mimbar terus awet dan cantik, pengurus Masjid Labui melapisinya dengan cat warna emas.
Tongkatnya sendiri terbuat dari campuran emas, tembaga, dan kuningan juga digunakan khatib saat berkhutbah. Kedua bukti sejarah itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal maupun bagi turis asal Malaysia yang pernah berkunjung ke masjid yang dibangun di atas tanah seluas 7.396 m2 tersebut.
“Usia tongkat dan mimbar itu telah mencapai ratusan tahun. Tongkat tersebut hadiah Raja Aceh, Sultan Iskandar Muda,” kata Ketua Panitia Masjid Labui, Dr Tgk Munir Muhammad MAg, didampingi anggota pengurus Tgk Muhammad Abbas dan Tgk Muhammad Yusuf SAg kepada Serambi Mihrab, Selasa (28/11).
Dikisahkan kembali, bahwa tongkat tersebut milik Sultan Iskandar Muda dibawa saat singgah di Masjid Labui untuk menghimpun kekuatan perang dalam upaya mengusir penjajahan Belanda. Iskandar Muda bersama pasukannya sampai di Masjid Labui menempuh jalan darat dengan menunggangi gajah putih.
Ketika melanjutkan perjalanan, Sultan Iskandar Muda meninggalkan tongkatnya di Masjid Raya Labui. Ditinggalkan karena Masjid Raya Labui dibangun pertama kali oleh Iskandar Muda. Sehingga masjid tersebut dahulunya dengan nama Masjid Raya Po Teumeureuhom. Bukan saja masjid, tongkat pun diberinama tongkat Po Teumeureuhom.
“Tongkat itu panjangnya 1,2 meter dan berat lima kilogram dan bentuknya beruas-ruas seperti batang tebu. Tongkat itu pernah diambil Ulee Balang Bambi, kemudian diserahkan kembali kepada masjid,” ujarnya.
Menurut Bilal Masjid, Tgk Muhammad Yasin, tongkat peninggalan Raja Aceh, Iskandar Muda, masih dipercayakan sebagian warga untuk menjadi obat. Sehingga sebagian warga datang mengambil air tongkat tersebut. Pihak panitia tidak memungut biaya, tapi warga tetap memberikan dalam bentuh sedekah dengan memasukkannya sendiri dalam celengan masjid.
“Tongkat itu sempat dicuri karena dipikir emas, lantaran tongkat itu berwarna kuning. Tapi, akhirnya dibawa pulang kembali ke masjid,” jelasnya.
Menurutnya, Masjid Raya Labui tercatat masjid bersejarah sehingga warga dari Malaysia pernah berkunjung ke masjid tersebut. Juga warga dari luar Aceh terkagum memperhatikan mimbar masjid dan tongkat peninggalan Sultan Iskandar Muda.
Masjid Po Teumeuruhom
Ketua Panitia Masjid Raya Labui, Doktor Munir Muhammad menjelaskan, sejarah berdirinya Masjid Raya Labui awalnya masjid tersebut dibangun dari kayu beratap rumbia. Dinding masjid terbuat dari batu dicampur kapur. Kala itu, masjid tersebut bernama Masjid Po Teumeuruhom.
Waktu itu, Po Teumeuruhom adalah Sultan Iskandar Muda (1607-1636) bersama masyarakat membangun masjid secara gotong-royong. Masjid itu pernah dijadikan benteng pertahanan perang atau disebut dengan diwai, yang dibangun melingkari masjid.
Dengan semangat tinggi, masyarakat bersedia berdiri sekitar 30 kilometer untuk mengangkut batu secara estafet dari Muara Tiga (Laweung) hingga ke Labui. Batu bercampur kapur diambil di lokasi proyek pembangunan pabrik semen sekarang ini. Kekompakan warga sangat luar biasa waktu itu, demi tercapainya untuk membangun rumah ibadyang berlingkar diwai.
Kata Tgk Munir, Masjid Raya Po Teumeuruhom pernah dijadikan pusat pendidikan agama Islam. Banyak santri menimba ilmu di masjid itu. Mereka berasal dari seluruh penjuru Aceh. Baik dari Pidie, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Besar, dan Aceh Tenggara. Rumah Allah, yang pernah dijadikan sebagai masjid Kerajaan Pedir atau masjid kabupaten.