Mihrab
Masjid Labui, Kisah Tongkat Iskandar Muda
MASJID Raya Labui yang awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeuruhom, dipercayai sebagai masjid tertua di Aceh
Seiring bergulir waktu Masjid Raya Po Teumeuruhom yang letaknya sekitar 4 kilometer sebelah barat Kecamatan Kota Sigli, dibangun dalam konstruksi modern. Sehingga diwai yang yang melingkari dinding masjid diruntuhkan. Kecuali, masjid lama digeser ke sebelah kanan setelah atap masjid diganti dengan seng. Masjid lama itu kemudian dilestarikan dengan cagar budaya.
Menurut Tgk Munir, pembangunan baru Masjid Raya Po Teumeuruhom awalnya dicanangkan Prof Syamsuddin Mahmud, kala menjabat sebagai Gubernur Aceh. Saat itu, Prof Syamsuddin berkunjung ke masjid tersebut untuk kegiatan kerjanya. Masjid itu masih bernama Masjid Raya Po Teumeuruhom.
“Pak Gubernur minta masjid itu dibangun baru, tapi syaratnya bangunan masjid lama tidak dibongkar karena masjid itu sebagai bukti sejarah. Alternatifnya masjid lama digeser ke samping,” sebutnya.
Menurutnya, peletakkan batu pertama pembangunan masjid itu dilakukan pada masa Drs Nurdin AR menjabat sebagai Bupati Pidie. Bupati Nurdin meletakkan batu pertamanya.
Tak hanya itu, Nurdin AR menggantikan nama Masjid Raya Po Teumeuruhom menjadi Masjid Raya Labui. Masjid Raya Labui, kini terus bersolek supaya tetap indah. Selain digunakan untuk sarana ibadah, dimamfaatkan untuk kegiatan akad nikah.
Saat ini, mampu menampung 2.000 lebih jamaah. Di halaman depan ditanami pohon-pohon trembesi sehingga suasana menjadi sejuk, meski teriknya sinar mentari. Di bawah pohon itu disulap menjadi lahan parkir kendaraan.
Warga yang menunaikan Shalat Jumat di Masjid Raya Labui, dari Kemukiman Paloh, Kota Sigli, Garot, Lhok Kaju dan Caleu. Ramai warga Shalat Jumat di masjid itu, karena letaknya di pinggir hamparan sawah. Sehinnga angin sepoi-sepoi mampu mengusir hawa panas.
“Saat bulan Suci Ramadhan jamaah Shalat Tarawih penuh di Masjid Raya Labui,” demikian Munir Muhammad.(nazaruddin)