Kamis, 21 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kids Zaman Now, Salah Siapa?

Maka dari situ kita tidak perlu heran kenapa kids zaman now ini berkelakuan layaknya orang dewasa, baik dari segi pembicaraan maupun tingkah laku

Tayang:
Editor: Zaenal
IST
Ardahtun 

Oleh: Ardahtun

Kalimat “Kids Zaman Now” sedang ngetrend di media sosial.

Dilansir Kompasiana.com, 17 Oktobr 2017, Koko Dwiyanto dalam tulisan berjudul "Asal Mula Kalimat 'Kids Jaman Now'" menulis, kalimat yang kini sedang viral ini awalnya diunggah oleh akun palsu dengan nama Seto Mulyadi.

Istilah ini sebenarnya merupakan guyonan untuk menyikapi kelakuan aneh dan tidak wajar tapi dianggap lazim oleh remaja dan pemuda saat ini.

Dari segi bahasa, 'kids' dan 'now' merupakan kata yang berasal bahasa Inggris.

Kids artinya anak-anak,  dan now adalah sekarang.

Yang menjadi aneh, kedua kata Inggris tersebut justru digabungkan ke dalam satu kalimat dengan kata 'zaman' yang berasal dari bahasa Indonesia.

Nah, gabungan antara kata Inggris dan Indonesia ini persis menggambarkan perilaku remaja dan anak muda zaman sekarang yang kerap menganggap wajar hal tidak lazim.

Perbandingan Zaman

Zaman 2000-an sangat jauh perbedaannya dengan zaman 90an, baik dari segi teknologi informasi maupun dari teknologi komunikasi.

Begitu juga dengan prilaku generasinya, sangat jauh perbedaan antara keduanya.

Apa-apa saja perbedaan antara kedua generasi itu?

Pertama, Perbedaan tingkah laku

Anak zaman 90an murni tingkah laku anak-anak pada umumnya. Sementara anak-anak zaman sekarang tidak tampak lagi seperti tingkah laku anak-anak, melainkan seperti orang dewasa.

Contoh anak-anak sekarang ini, SD saja sudah berani berkelakuan layaknya orang dewasa yaitu berpacar-pacaran, dan bermain ke sana ke mari.

Lebih parahnya lagi anak-anak zaman sekarang  ada yang mencoba bunuh diri karena cinta ditolak.

Kejadian ini mungkin tidak pernah terjadi di Aceh, akan tetapi di luar sana banyak sekali terdengar tentang peristiwa tersebut.

Kedua, Perbedaan kecerdasan

Anak zaman dahulu yang hanya mengenal permainan tradisional,  sedangkan anak sekarang mengenal semua jenis permainan yang ada di internet.

Perbedaan yang kedua ini jelas perbedaan karena disebabkan perkembangan zaman. Di satu sisi kita melihat kids zaman now memiliki kecerdasan serta keahlian menggunakan gadget dan teknologi, tanpa harus diajarkan.

Akan tetapi dengan perkembangan zaman saat ini, membawa pengaruh yang sangat mengkhawatirkan terhadap anak-anak, apabila tidak diawasi oleh orang tua.

(Baca: Kisah Calon Pengantin Penyulam Benang Emas)

Tahapan Perkembangan Anak

Menurut George Herbert Mead, ada beberapa tahapan yang akan dialami oleh anak.

Pertama, Tahap persiapan

Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.

Kedua, Tahap meniru

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak meniru peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa.

Ketiga, Tahap siap bertindak

Peniru yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.

Keempat, Tahap penerima norma kolektif

Pada tahap ini orang sudah dianggap dewasa, dan dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas.

Dari tahap-tahapan yang telah penulis uraikan di atas, membuat kita mengerti kenapa tingkah laku dari kids zaman now ini sangat berbeda dengan anak-anak zaman dahulu. Salah satunya adalah karena peniruan yang salah.

Zaman 90an teknologi belum begitu maju dan tontonan sangat dibatasi, sehingga anak-anak zaman dulu hanya bisa menikmati permainan tradisioanal yang telah ada dari sebelumnya.

Akan tetapi saat ini dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat dan tontonan yang tidak mendidik membuat anak-anak yang pada dasarnya memiliki tahapan meniru akan meniru apa yang dilihat dan didengar di sekitarnya.

Kalau yang dilihat dan didengar baik, maka anak-anak akan melakukan hal yang baik.

Maka dari situ kita tidak perlu heran kenapa kids zaman now ini berkelakuan layaknya orang dewasa, baik dari segi pembicaraan maupun tingkah laku.

Itu dikarenakan tahap kedua di atas yaitu tahap meniru, dari apa yang ditayangkan di televisi dan apa yang dilihat di media sosial lainnya.

(Baca: Perempuan Berkarakter)

Siapakah yang salah dengan kondisi ini?

Orang tua kah? Lingkungan? Pemerintah? Atau orang yang menciptakan teknologi tersebut?

Menurut penulis, kalau dalam benak kita timbul pimikiran ingin menyalahkan orang yang menciptakan teknologi, maka salah besar. Karena mereka menciptakan itu untuk memudahkan manusia yang ada di dunia ini.

Tidak berarti pula kita bisa menyalahkan lingkungan.

Di sini penulis lebih menyorot peran orang tua dan pemerintahan.

Kenapa? Karena orang tua yang sibuk mencari nafkah, sehingga lupa anak yang akan dinafkahi jika dibiarkan sendiri, tanpa dibimbing akan rusak.

Kemudian pemerintah juga ikut salah, dalam hal ini karena membiarkan tontonan yang tidak mendidik merajalela tayang di televisi.

(Baca: 10 Peristiwa Terheboh di Aceh, Bersatunya Rival Politik, 10 Paus Terdampar, hingga Prostitusi Online)

Sebagaimana dalam Alquran telah menjelaskan surat At-Tahrim Ayat 6.

“Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka  yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6)

Jadi dari itu, penulis sarankan kepada orang tua untuk mengawasi tontonan dan games yang anak mainkan.

Karena di zaman sekarang kita tidak mungkin bisa mencegah perusakan moral anak melalui teknologi yang semakin maju. Akan tetapi melalui pengawasan orang tua terhadap anak, akan membuat anak terhindar dari perusakan-perusakan tersebut.

Tayangan televisi yang tidak mendidik sangat memberi pengaruh besar terhadap anak-anak. Mulai dari iklan, sinetron atau film dan lain sebagainya.

Sekarang ini generasi yang disebut generasi micin adalah generasi yang akan membawa dan memimpin dunia puluhan tahun kemudian.

Akan tetapi kalau tayangan di televisi tetap seperti sekarang, akan membawa pengaruh yang besar terhadap moral anak.

Pemerintah yang kurang peduli terhadap tayangan di televisi, bukan berarti kita juga harus ikut-ikutan tidak peduli terhadap itu semua.

Sebagai rakyat biasa yang sulit membawa perubahan terhadap negara, kita tetap bisa menciptakan perubahan terhadap anak dan saudara terdekat kita.

* Penulis, Ardahtun, adalah Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved