Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kebangkitan Nasional dan Masa Depan JKA

Pencabutan Pergub JKA dinilai harus jadi awal kebangkitan sistem kesehatan Aceh yang adil, transparan, dan berpihak pada rakyat.

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof.Dr.dr. Rajuddin, SpOG(K).,Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh   

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER

Secara historis, tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional karena pada tahun 1908 lahir Boedi Oetomo, sebuah organisasi modern yang menandai perubahan penting dalam arah perjuangan bangsa Indonesia.

Sebelum periode itu, perlawanan terhadap kolonialisme umumnya masih bersifat lokal, terfragmentasi, dan bergerak berdasarkan identitas kedaerahan maupun kesultanan. 

Kehadiran Boedi Oetomo memperkenalkan kesadaran baru bahwa bangsa yang terjajah tidak mungkin bangkit tanpa pendidikan, organisasi, solidaritas sosial, dan cita-cita kolektif yang melampaui batas etnis maupun wilayah.

Karena itulah, 20 Mei kemudian ditetapkan secara resmi sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1985, sebagai simbol lahirnya kesadaran kebangsaan modern di Indonesia.

Menariknya, dunia kedokteran memiliki hubungan historis yang sangat erat dengan fase awal kebangkitan tersebut.

Banyak tokoh perintis Boedi Oetomo lahir dari lingkungan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), yaitu sekolah pendidikan dokter pribumi pada masa kolonial Belanda. 

Dari ruang-ruang pendidikan kedokteran itulah tumbuh generasi terdidik hingga saat ini.

Generasi terdidik mulai menyadari bahwa penjajahan bukan hanya persoalan politik, tetapi juga persoalan kemanusiaan, ketertinggalan ilmu pengetahuan, kemiskinan, dan rendahnya derajat kesehatan rakyat.

Karena itu, dokter dan mahasiswa kedokteran pada masa itu, selain dipersiapkan untuk mengobati penyakit, juga secara tidak langsung menjadi bagian dari lahirnya kesadaran intelektual bangsa.

Pada peringatan Seabad Kebangkitan Nasional tahun 2008, Presiden Republik Indonesia menegaskan bahwa dokter muda dan mahasiswa STOVIA termasuk pelopor penting dalam kebangkitan nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal sejarah bangsa, profesi dokter tidak hanya berperan sebagai pelayan kesehatan, tetapi juga sebagai penjaga nurani sosial dan penggerak perubahan masyarakat.

Dalam konteks kekinian, kebangkitan nasional bukan hanya tentang kemerdekaan politik, tetapi juga tentang kemampuan bangsa menjaga martabat rakyat melalui pelayanan publik yang adil dan manusiawi.

Karena itu, ketika akses kesehatan terganggu dan empati pelayanan mulai memudar, sesungguhnya yang sedang diuji adalah makna terdalam dari kebangkitan nasional itu sendiri.

Politik regulasi menuju kebangkitan Aceh

Momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 ini merupakan pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit dari keterpecahan dan ketertinggalan melalui kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bersama.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved