Mulai Novel Karya Zadie Smith hingga Amy Bloom, Ini 10 Buku yang Patut Dibaca pada 2018
Seekor rubah kecil - seekor rubah betina yang berwarna terang - melintasi Waterloo Bridge pada suatu hari di bulan Februari 2014.
Di sana, ia bekerja sebagai aktivis sebuah kelompok Amerika yang membantu orang Korea Utara yang melarikan diri. Dia diculik oleh mata-mata Korea Utara, dibawa melintasi perbatasan ke sebuah gulag, dan menyaksikan banyak kengerian, Setelah lima bulan dia lalu dibebaskan. Saat tiga teman sekelas berkumpul untuk pesta, dan minum, Will tertarik pada Phoebe, tapi John Leal menariknya menjauh, menuju sesuatu yang tampaknya mengerikan.
Novel pertama yang ditulis Kwon dengan indah adalah campuran eksplosif, yang melacak pembentukan sebuah kultus yang berubah menjadi kekerasan.
William Vollmann, No Immediate Danger
Volume pertama proyek baru penulis pemenang penghargaan Vollmann adalah sebuah tulisan penting mengenai pemanasan global dan laporan tentang dampak tenaga nuklir di Jepang, menggabungkan beberapa kunjungannya setelah tsunami dan krisis nuklir.
Judul tersebut berasal dari kalimat resmi yang digunakan oleh pihak berwenang Jepang setelah kecelakaan di Fukushima. Penelitiannya yang mendalam mencakup batubara, minyak bumi, gas alam dan tenaga atom. Untuk menceritakan kisahnya, dia "mendaki gunung-gunung dengan tambang terbuka, mengendus minyak mentah, dan sesekali menggelapkan wajahnya dengan sinar gamma."
Dia mengajukan pertanyaan rumit tentang pengorbanan dan pilihan yang kita hadapi, selalu bertanya-tanya bagaimana orang-orang di masa depan akan menilai kita. Karena listrik "akan habis seperti kawanan kerbau", catatnya dengan ironis, "konsumsi daya yang tidak perlu menimbulkan keluhan yang lebih sedikit daripada apa yang dikeluhkan anda yang berasal dari masa depan."
Christopher Yates, Grist Mill Road
Grist Mill Road dibuka dengan sebuah kejahatan: "Saya ingat suara tembakan menghasilkan seperti suara basah, phssh phssh phssh, dan setiap kali laki-laki itu memukulnya, perempuan itu menjerit."
Di tahun 1982, di pegunungan di utara New York City, yang kemudian dikenal sebagai "penembakan Swangum" menghubungkan teman sekelas Patrick, Hannah dan Matthew dalam hidup. Pada tahun 2008, ketika Hannah menikah dengan Patrick dan mengerjakan sebuah buku kriminal yang berasal dari kejadian nyata, Matthew tiba-tiba muncul kembali, mengaduk rahasia dan pemikiran untuk membalas dendam.
Yates membangun teka-teki psikologis yang mendebarkan dalam novel pertamanya, Black Chalk. Dalam novel keduanya, dia menulis yang lebih rumit dan "siapa yang melakukannya" yang dicampur dengan pertanyaan tentang tanggung jawab moral, relativitas kebenaran, keandalan memori dan konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita.
Artikel ini telah ditayangkan pada BBC Indonesia dengan judul : 10 buku yang patut dibaca pada 2018, mulai novel karya Zadie Smith hingga Amy Bloom
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/buku-populer_20180112_125712.jpg)