Breaking News:

Tirta Raya tak Ramah bagi Wanita

Kolam renang Tirta Raya yang berada di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, dinilai tak ramah perempuan

Tirta Raya tak Ramah bagi Wanita
IRWANSYAH, Anggota DPRK Banda Aceh

BANDA ACEH - Kolam renang Tirta Raya yang berada di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, dinilai tak ramah perempuan. Pasalnya, fasilitas pemandian umum tersebut tidak ada pemisah antara pengunjung wanita dan laki-laki, sehingga banyak dari kalangan kaum hawa yang enggan datang karena kondisi yang bercampur baur itu. Hal itu disampaikan anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah ST kepada Serambi, Kamis (8/2).

Dia mengatakan, renang merupakan olahraga yang dianjurkan dalam Islam sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW. Namun tidak adanya kolam yang representatif sesuai syariat membuat olahraga ini hanya bisa dinikmati kaum pria saja.

“Aceh sudah lama menerapkan syariat Islam. Tapi sampai sekarang belum ada kolam renang yang sesuai syariat dan ramah terhadap perempuan,” ujar Irwansyah.

Menurutnya, Tirta Raya sebagai kolam renang terbesar di Banda Aceh seharusnya menjadi pionir dalam mewujudkan wahana air yang syar’i. Irwansyah menawarkan dua gagasan untuk menjawab persoalan itu.

Pertama, dia meminta kepada penanggung jawab/pemilik Tirta Raya, yakni Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh untuk memasang sekat khusus yang memisahkan perempuan dan laki-laki. “Jika sulit, siapkan saja hari khusus untuk pengunjung perempuan, dimana pada hari itu tidak boleh ada laki-laki termasuk petugasnya,” jelasnya.

Menurut dia, idealnya semua fasilitas umum harus dipisah antara perempuan dan laki-laki. Tapi butuh waktu dan dana yang tidak sedikit untuk merealisasikan hal itu. “Yang paling mungkin (pemisahan) untuk saat ini di kolam renang. Pakaian renang itu rata-rata tipis dan ketat, kita tetap bisa berolahraga tanpa harus menanggung dosa,” katanya.

Maka dari itu, lanjut Irwansyah, pihaknya meminta Dispora Aceh untuk mempertimbangkan usulannya itu demi kemaslahatan umat. Apabila disetujui, dia juga meminta kepada pengelola kolam untuk menyosialisasikan secara masif terkait pemisahan itu. “Pastikan kaum perempuan tersosialisasi dengan baik, sehingga mereka bisa semakin ramai dan nyaman berenang di Tirta Raya,” tukasnya.

Menanggapi usulan tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, Musri Idris, menyambut baik harapan masyarakat yang disampaikan melalui dewan. Dia mengatakan, wacana pemisahan perempuan dan laki-laki di Tirta Raya sudah ada sejak lama dan pihaknya akan menata ulang kolam tersebut pada akhir tahun 2018.

“Wacana itu sudah ada sejak dulu, tapi belum terealisasi karena fungsi kolam yang belum optimal. Tapi setelah renovasi kolam selesai akhir tahun ini, kami akan membagi hari untuk perempuan dan laki-laki,” ujar Musri. Menurutnya, membagi jadwal pakai merupakan solusi yang paling tepat, daripada membangun kolam khusus perempuan yang butuh banyak dana.

Tak hanya jadwal, pihaknya juga akan segera menyiapkan petugas perempuan yang ‘expert’ saat giliran pengunjung perempuan. “Saat jadwal kunjungan laki-laki petugasnya harus laki-laki, begitu juga sebaliknya. Kita ingin semua kalangan nyaman dan menikmati berenang di Tirta Raya,” jelasnya, dan optimis model kolam syar’i yang diterapkan Aceh nanti menjadi percontohan bagi provinsi lain bahkan dunia.

Terkait renovasi kolam, Musri menyebut fasilitas tersebut akan dibuat sesuai standar internasional. Di dalamnya terdapat dua kolam yang berfungsi untuk lomba dan latihan. “Pelayanan kolam akan lebih optimal kalau sudah direnovasi nanti. Pembangunan mungkin dimulai pada Mei dan ditargetkan bisa selesai November 2018 untuk PORA nanti,” pungkasnya.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved