Malapraktik Bedah Sesar, Kain Kasa Bersarang di Perut Wanita Jepang Ini Selama Enam Tahun

Menurut laporan, kain kasa tersebut merupakan sisa operasi sesar yang sudah berlangsung enam tahun sebelumnya.

Malapraktik Bedah Sesar, Kain Kasa Bersarang di Perut Wanita Jepang Ini Selama Enam Tahun
Kasa yang tertinggal di panggul perempuan Jepang 

Setelah dokter membuang kasa yang bersarang di perutnya, ia tidak lagi merasakan sakit atau kembung. Ia sembuh total dan langsung meninggalkan rumah sakit lima hari kemudian. Sayang, ia tidak mendapat keadilan dari malpraktek yang dialaminya.

"Walaupun ia sudah bertemu dengan dokter bedahnya dan menyampaikan kain kasa yang tertinggal di perut, dokter itu tidak mengakui kesalahannya dengan alasan kurang bukti," ujar Takeshi Kondo dari Chiba University Hospital dan merupakan penulis utama penelitian kepada CNN.

Kondo mengungkap perempuan ini merupakan salah satu yang beruntung. Sebab, banyak kasus seperti ini berujung pada kematian.

Malapraktek Peralatan Operasi Tertinggal di Tubuh

Ya, ini memang bukan kasus pertama dalam dunia kesehatan. Kasus seperti ini sering terjadi dan didiagnosi dengan sebutan gossypiboma. Gossypiboma diambil dari bahasa latin dari kata gossypium yang berarti kapas dan -oma yang artinya tumor.

Retained surgical item (RSI) yang menjelaskan peralatan operasi tertinggal di dalam tubuh pasien tak hanya meninggalkan kain kasa saja. Alat operasi yang tajam juga sering ditemukan, seperti benang jahit, retraktor logam, potongan kawat, potongan alat untuk operasi, dan sebagainya.

Baca: Aktris Senior India Meninggal Serangan Jantung, Ini 6 Gejala yang Harus Diwaspadai Wanita dan Pria

Namun, yang paling banyak ditemukan adalah kain kasa. Ini karena dokter biasanya menggunakan 50 sampai 100 kain kasa dalam sebuah operasi besar. Salah satu cara yang sering dilakukan dokter untuk menghindari kasa tertinggal adalah menghitung kembali kasa yang digunakan.

Dalam catatan American Society of Anesthesiologists, setiap tahun ada 4.500 sampai 6.000 pasien di AS yang memiliki RSI di dalam tubuhnya.

Dokter dan para pemegang kebijakan terus berupaya untuk menciptakan sistem agar kasus seperti ini dapat dihindari. Salah satunya dengan metode menghitung kasa dan menggunakan barkode untuk menandai setiap spons yang digunakan.

Halaman
123
Editor: Fatimah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved