Peneliti: Ada Pelajaran Berharga dari Temuan Gampong Pande, Masyarakat Aceh Harus Selalu Waspada

Ada tiga peradaban masa lalu yang terkubur, atau subsidence (penurunan tanah) kemungkinan akibat gempa tektonik di Gampong Pande.

Peneliti: Ada Pelajaran Berharga dari Temuan Gampong Pande, Masyarakat Aceh Harus Selalu Waspada
MAPESA
Lokasi penggalian salah satu kolam IPAL. Foto direkam aktivis Mapesa pada tanggal 11 Februari 2017 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pemegang hak paten georadar internasional, Prof Dr Ir Eng Teuku Abdullah Sanny MSc menegaskan, secara ilmiah terbukti bahwa Gampong Pande adalah lokasi situs, atau berdasarkan ahli sejarah merupakan situs kesultanan Aceh.

Selain temuan logam berat yang diduga peninggalan Kesultanan Aceh, Abdullah Sanny juga memastikan ada pelajaran berharga untuk masyarakat yang didapat di lokasi proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) Gampong Pande-Gampong Jawa, Kota Banda Aceh itu.

Informasi itu diungkapkan Abdullah dalam konferensi pers di Gedung Katibul Wali, Kompleks Wali Nanggroe, Aceh Besar, Minggu (10/6/2018). Pada kesempatan itu dia mempresentasikan hasil penelitian awal selama sebulan sejak 4 Maret lalu di Gampong Pande.

Sejumlah batu nisan di kawasan proyek IPAL di kawasan Gampong Jawa, Banda Aceh.
Sejumlah batu nisan di kawasan proyek IPAL di kawasan Gampong Jawa, Banda Aceh. (SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR)

Baca: BREAKING NEWS - Gunakan Alat Canggih, Peneliti Temukan Bekas Kerajaan di Lokasi IPAL Gampong Pande

Baca: Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande)

Baca: Gampong Pande Sudah Tiga Kali Didera Tsunami

Menurut Abdullah, pelajaran berharga tersebut yakni ditemukannya tiga stratum (lapisan tanah) yang terdapat banyak logam berat.

Temuan itu mengindikasikan adanya tiga peradaban masa lalu yang terkubur, atau subsidence (penurunan tanah) kemungkinan akibat gempa tektonik di Gampong Pande.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, 26 Desember 2004.
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, 26 Desember 2004. ()

“Ini pelajaran berharga bagi orang Aceh, bahwa sepanjang pantai Ulee Lheue, pantai Aceh Utara, kemungkinan akan terjadi subsidence di masa mendatang,” ujarnya, dan meminta masyarakat Aceh harus selalu waspada bencana.

Tim Mapesa ketika melakukan survei terhadap nisan dan makam masa Kerajaan Aceh, di lokasi penggalian salah satu kolam IPAL, 11 Februari 2017.
Tim Mapesa ketika melakukan survei terhadap nisan dan makam masa Kerajaan Aceh, di lokasi penggalian salah satu kolam IPAL, 11 Februari 2017. (MAPESA)

Selain itu, lanjut Abdullah, pemerintah Aceh perlu segera membuat zonasi gempa bumi dan dan zonasi tsunami yang lebih lengkap, supaya bencana serupa tidak lagi menelan banyak korban.

“Zonasi tsunami sudah dibuat saat masa BRR dulu, tapi perlu disempurnakan kembali,” jelasnya.

Baca: Gajah Jinak Bunta Mati Dibunuh, BKSDA Janjikan Hadiah Rp 10 Juta Bagi yang Berhasil Ungkap Pelaku

Baca: Pisah dengan Kim Jong Un, Donald Trump Nginap di Hotel Rp 73 Juta/Malam, Ada Lift Langsung ke Kamar

Baca: Mahathir Jauhi China dan Dekati Investor Jepang untuk Tutupi Utang Negara Peninggalan Najib Razak

Terkait tahapan riset selanjutnya, kata Abdullah, pihaknya akan melakukan studi lebih detail di Gampong Jawa untuk mendapatkan fenomena yang lebih baik. Dia mengaku butuh dana besar untuk melanjutkan riset.

“Kami kembalikan ke pemerintah bagaimana selanjutnya. Tapi kalau pemerintah tak mau bantu juga tak masalah, kami punya komitmen yang kuat untuk mengungkap ini meskipun dengan keterbatasan finansial,” pungkasnya.(*)

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved