Breaking News:

Mengenal Pembentukan Imbuhan (Affixes) dalam Bahasa Aceh

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan berbagai hal diantara negara lain di belahan bumi

Mengenal Pembentukan Imbuhan (Affixes) dalam Bahasa Aceh

Oleh: Muhammad Hasyimsyah Batubara

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan berbagai hal diantara negara lain di belahan bumi, kekayaan ini dapat dibuktikan dari keragaman budaya, agama, dan suku yang ada.

Keragaman dan keunikan ini sekilas dapat di lihat terhamparnya 17.000 lebih pulau diantara samudra Pasifik dan samudra Hindia, yang pada saat ini 6.000 pulau telah dihuni rakyat Indonesia, dan dengan jumlah penduduknya lebih kurang 265 juta jiwa. Dari jumlah pulau dan penduduk tersebut terdapat suku-suku dan golongan masyarakat yang memiliki ratusan jenis bahasa dan dialek berbeda dalam merajut komunikasi dan melakukan interaksi sehari-hari. Seperti suku Jawa menggunakan bahasa Jawa, orang Bali berbahasa Bali, daerah Jawa Barat berbahasa Sunda, suku Mandailing berkomunikasi dengan bahasa Mandailing, masyarakat Aceh pesisir menggunakan bahasa Aceh, dan suku-suku lainnya.

Hal ini tentu memberikan kita motivasi untuk berbangga dengan keragaman suku dan bahasa daerah yang ada, semuanya memiliki peran dan kontribusi tersendiri dalam pembentukan budaya dan ciri khusus daerah. Diantara suku-suku yang ada ini berkomunikasi dengan bahasa daerah yang berbeda dalam membangun identitas sosial di wilayah masing-masing.

Bahasa dijadikan sebagai alat dasar untuk berhubungan dan mempererat hubungan dengan anggota lain di dalam komunitas. Bahasa daerah ini juga berkembang untuk memperkaya keragaman Indonesia dan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi yang digunakan untuk bahasa persatuan antara suku-suku yang ada. Bahasa merupakan hal yang penting dipahami maupun dikuasai dalam masyarakat kita yang majemuk, sehingga pemahaman terhadap keragaman (Bhinneka Tunggal Ika) dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam berbahasa pada dasarnya ada dua enis bahasa, yaitu bahasa tertulis dan bahasa lisan. Disamping itu, ada juga bahasa tubuh yang digunakan dalam penyampaikan makna melalui gerakan, kontak mata dan ekspresi wajah.

Dari kesemua bahasa bersifat mendunia (universal) dan semua bahasa yang ada juga mempunyai keunikan tersendiri. Masing-masing bahasa memiliki sistem tersendiri dalam pembentukan kata. Bahasa daerah yang ada juga memiliki beberapa karakteristik yang menarik untuk dipelajari maupun dikaji lebih mendalam. Seperti bentuk fonologi, morphologi, system leksikal dan grammatical dalam membangun bahasa, tanpa terkecuali dalam bahasa Aceh (BA). Bahasa Aceh dilihat dari sejarah bahasa merupakan cabang dari bahasa Austronesia keluarga Melayu Polinesia rumpun Sumatra.

Saat ini BA merupakan bahasa daerah terbesar ke empat yang dituturkan oleh 3,65 juta penutur, yang terdiri dari berbagai dialek seperti, dialek Banda Aceh, Baruh, Bueng, Daja, Pase, Pidie/ Pedir/Timu, Tunong yang menyebar di provinsi Aceh yang meliputi pesisir pantai timur Aceh sampai dengan garis wilayah pantai barat Aceh. Sama dengan bahasa daerah lain, dalam BA memiliki proses pembentukan kata baru dengan melampirkan morfem lain di akar atau batang kata, baik itu di awal kata, disisipkan atau diakhir kata sehingga membentuk kata baru dan menghasilkan makna baru dalam penggunaannya dalam kalimat, proses ini disebut dengan pengimbuhan (Affixation).

Imbuhan/afiks tujuannya untuk melengkapi kata dasar (lemma) yang sudah ada, sehingga dalam penggunaan dalam ujaran maupun berbahasa dapat disesuaikan dengan pemaknaan dan kebutuhannya. Afiks yang menempel di atas akar, batang atau pangkal, memiliki fungsi untuk menciptakan kata-kata baru, yang maknanya akan berkembang dari akar dari mana asalnya namun tidak mengubah kelas akar, tapi mengubah arti akar disebut dengan awalan/prefix (prefixes). Sedangkan sisipan/Infiks (infixes) adalah sebuah afiks yang dimasukkan dalam akar kata itu sendiri.

Dan Akhiran (suffixes) adalah istilah yang digunakan dalam morfologi yang mengacu pada afiks yang ditambahkan mengikuti akar atau batang afiks yang menempel pada akhir dasar kata, sehingga mengikuti materi yang dilampirkan. Secara umum bentuk imbuhan dalam bahasa Aceh yang biasa dipakai dapat lihat seperti dibawah ini:

1. Bentuk Awalan/Afiks (prefixes) yang biasa dalam bahasa Aceh, seperti:
a. beu- beu+mate beumate sampai mati
b. keu- keu+padum keupadum yang keberapa
c. meu- meu+seupet jepit terjepit
d. neu- neu+ rajah neurajah mantera
e. peu- peu+ khem peukhem menertawakan
f. seu- seu+malee seumalee memalukan
g. si- si+uroe siuroe sehari
h. teu- teu+mat teumat terpegang

2. Bentuk sisipan/infiks (Infixes) dalam bahasa Aceh, seperti:
a. -eum- kayoh k + eum + ayoh keumayoh mengayuh
b. -eun- sipat s + eun + ipat seunipat pengukur panjang
c. -eul- sumpai s + eul + mpai seulumpai alat penyumbat
d. -eur- ceulop c + eur + eulop ceureulop mencelupi

3. Bentuk akhiran/sufiks (Suffixes) biasa dalam bahasa Aceh, seperti:
a. -an tuleh + an tulesan tulisan
b. -sit meunan + sit meunansit demikian juga
c. -kon bunoe + kon bunoekon sejak tadi
d. -keuh jak + keuh jakkeuh pergilah
e. -pih lon + pih lonpih saya juga

Penjelasan imbuhan ini memang masih dangkal dan belum menyeluruh di jabarkan, seperti jenis imbuhan awalan dan akhiran untuk kata ganti orang. kan tetapi untuk memberikan pengenalan dan pemahaman dasar terhadap BA, dan menjawab kendala sebagian masyarakat yang belajar bahasa dengan menganggap kata dan anak kata yang terbentuk dari imbuhan (affixation) ini sebagai salah satu penyebab kesulitan dalam mempelajari bahasa daerah bisa sedikit terbantu. Memahami imbuhan dalam bahasa Aceh diharapkan dapat memudahkan yang belajar BA dalam penguasaan berbahasa.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved