Kisah Hidup Mat Solar Kecil, Makan Satu Telur Harus Dibagi Delapan

Kini rumah kami di Pejompongan itu tinggal kenangan. Sudah enggak ada karena terkena gusuran. Sekarang sudah jadi kompleks

Kisah Hidup Mat Solar Kecil, Makan Satu Telur Harus Dibagi Delapan
Intisari online
Di foto kiri, Mat Solar kecil ditandai dengan tanda silang. 

Kakak lah yang mengambil alih tugas Bapak mendidik aku dan adik-adik. Mereka juga yang mengongkosi kebutuhan sekolah. Didikan kakakku sangat keras.

Pokoknya, usai Magrib kami sudah tidak boleh keluar rumah. Belajar. Sewaktu aku tidak naik kelas, kepalaku sempat dijedolin ke tembok sambil dibilang goblok. Didikan yang keras itu ternyata berhasil dan membuatku juara kelas.

Dalam masa-masa sulit, jangankan memikirkan biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja kami kembang kempis. Aku mengalami harus meminjam uang ke-sana kemari untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bila makan, kami memakai sistem sarang. Sarang dalam bahasa Betawi mungkin maksudnya dibagi rata. Misalnya, bila punya kacang harus dihitung dulu, lalu dibagi sarang (masing-masing) lima.

Baca: Mahkamah Kriminal Internasional Buka Investigasi Kasus Rohingya, Usut Kejahatan Militer Myanmar

Begitu juga dengan makanan yang lain. Yang paling kecil akan mendapat jatah buah rambutan yang masih pakai tentengannya. Untuk buah mangga, anak paling kecil diberi bagian yang ada bijinya, atau kami sebut emploknya.

Bagian itu jadi rebutan, karena masih bisa diisep-isep. Kalau goreng telor dadar juga ditambah terigu dan air yang banyak biar kelihatan gede. Telor rebus bukan dibelah empat lagi, tapi delapan. Kalau mengingat semua itu, kini aku hanya bisa tertawa.

DITIPU PEMBELI

Tempat tinggal kami juga jauh daripada layak. Pernah punya rumah yang cukup besar dan tembok. Namun, karena orangtua enggak punya penghasilan tetap, setengahnya dikontrakin. Duitnya habis, setahun kemudian sisanya dikontrakin lagi.

Akhirnya kami pindah ke rumah gedek atau bilik. Kita tidur tumpuktumpukan. Satu ruangan bisa tiga tempat tidur. Sementara tetangga yang lain rumahnya sudah gedong.

Baca: Mayat Perempuan Ditemukan Dalam Sawah di Aceh Tamiang

Walaupun didera kehidupan seperti itu, kami tak tinggal diam. Aku membantu perekonomian keluarga dengan menjual petasan dan ngewarung di pinggir jalan jualan rokok.

Halaman
123
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved