Jumat, 1 Mei 2026

Kisah Tan Malaka: Pejuang Spesialis Bawah Tanah, Ketua PKI Hingga Hidup Dalam Pengasingan

Tan Malaka memang seorang pejuang spesialis bawah tanah, bahkan sampai akhir hayatnya.

Tayang:
Editor: Amirullah
Intisari online
Tan Malaka 

SERAMBINEWS.COM - Sosok Tan Malaka terasa remang-remang, dari awal hingga akhir.

Demi Indonesia merdeka, ia rela keluar-masuk berbagai negara agar tak ditangkap polisi rahasia Belanda.

la punya banyak nama alias, agar bisa berekspresi tanpa dicurigai.

la sempat tak dikenali rekan-rekan seperjuangannya, meski sudah bertahun-tahun kembali ke Indonesia.

Tan Malaka memang seorang pejuang spesialis bawah tanah, bahkan sampai akhir hayatnya.

Tulisan Purnawan Basundoro ini mengungkapkan bagaimana sepak terjang Tan Malaka, salah satu bapak bangsa negeri Indonesia ini, seperti dimuat di Majalah Intisari edisi Mei 2009, dengan judul Tan Malaka Spesialis Bawah Tanah.

Baca: Mulai dari Singapura Hingga AS, Inilah Deretan Gaji para Pemimpin di Berbagai Negara

Baca: Persiraja Tumbangkan Pimpinan Klasemen

Pintu sejarah terbuka lebar bagi Tan Malaka pada Oktober 1913 ketika salah seorang gurunya, G.H. Horensma, di Kweekschool (Sekolah Guru) Fort de Kock (Bukitinggi) membawanya ke Belanda ketika sang guru mengambil cuti.

Di negeri yang sedang menjajah bangsanya itu, sang guru mencarikan dana untuk Tan Malaka. Tan Malaka pun memperoleh izin masuk sekolah guru lanjutan di Rijks Kweekschool Haarlem.

Awalnya Tan Malaka disalurkan untuk bisa mendapatkan dukungan dana dari lembaga-lembaga dana yang ada. Lembaga-lembaga ini bukan pemberi beasiswa, melainkan hanya membantu memperolehnya dan mengaturnya.

Lembaga dana juga mengusahakan agar mahasiswa ditempatkan di tengah-tengah keluarga yang terpilih untuk memudahkan pengawasan. Mahasiswa penerima beasiswa diawasi secara amat ketat dengan disiplin militer. Salah seorang pengawasnya, Fabius, adalah mantan jenderal sehingga gaya pengawasannya sangat militeristik.

Baca: Takut Ternak Hilang, Sebagian Pengungsi Gempa Lombok Bangun Tenda di Depan Rumah

Baca: Think Tank Donald Trump Dikabarkan Masuk Pilpres Indonesia, Perang Algoritma Media Sosial

Tan Malaka sering kali bentrok dengan Fabius, terutama jika pembicaraan menyinggung masalah politik. Bentrokan terulang beberapa kali sampai akhirnya bantuan beasiswa dihentikan.

Sebagai akibat, ia harus menanggung kondisi keuangan yang amat memprihatinkan yang membuat dia sakit-sakitan, selain menanggung banyak utang. Setelah dua kali gagal, baru upaya ketiga ia berhasil meraih hoofdakte (ijazah untuk menjadi kepala sekolah), karena sempat sakit dan motivasi menurun.

Utang menumpuk tidak memungkinkannya tetap tinggal di Belanda, sehingga tahun 1919 ia angkat koper untuk menjadi guru anak-anak kaum buruh perkebunan tembakau di Sumatra Timur.

Semasa Tan Malaka di Belanda, gagasan revolusioner kebetulan sedang tumbuh subur di seluruh kawasan Eropa. Ide-ide Karl Marx tentang komunisme sedang disemai dalam ujudnya yang praksis. Tidak jelas benar bagaimana ide-ide komunisme mulai menariknya, sampai ia menerjuninya secara praksis.

Baca: Sudah Punya Inter Milan, Erick Tohir Dikabarkan Bakal Beli Klub Inggris

Baca: Korpri Abdya Salurkan Rp 28 Juta untuk Korban Gempa Lombok, Ini Rinciannya

Yang jelas, di Belanda lah minat politik Tan Malaka tergugah. la terbentuk menjadi nasionalis yang berkobar-kobar sekaligus simpatisan komunisme yang aktif.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved