Pendidikan Politik dalam Hikayat Jampoek
Hikayat jampoek merupakan sebuah hikayat yang memuat nilai-nilai moral pendidikan politik dan kritik sosial
Oleh: Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I | Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id
Hikayat jampoek merupakan sebuah hikayat yang memuat nilai-nilai moral pendidikan politik dan kritik sosial. Nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya selalu relevan untuk terus disyiarkan dalam kontestasi perpolitikan, baik Pilkades, Pilkada, Pileg, dan Pilpres.
Sebab, hikayat jampoek mencoba memberikan kritik sosial secara holistik dan filosofis atas perilaku buruk para pemilih dan kandidat yang bertarung dalam setiap perhelatan perpolitikan di segala tingkat. Maka penting untuk rekonstruksi kembali nilai-nilai (values) moral hikayat jampoek dalam kontestasi perpolitikan, agar melahirkan para pemimpin yang dapat menjadi ratu adil bagi seluruh rakyat.
Dalam hikayat ini, jampoek (burung hantu) menjadi pemeran antagonis. Ia dipersepsikan sebagai lambang kesombongan. Yakni: “Hai teungku Ampon nyoepat si gam long neuboh keu raja, seubab si gam long rupa that ceudah, lagi ngon gagah meubulee mata, mata jih bulat babah meukuweit, cukop meusaheet si gam keu raja”. Sifat sombong jampoek tergambar dari ungkapannya ketika menawarkan anaknya sebagai raja para burung, berupa keindahan wajah dan kegagahan fisik.
Artinya, ketika jampoek menawarkan anaknya sebagai raja hanya mengandalkan ketampanan dan kegagahan fisik, bukan kemampuan (knowledge, leadership) dan keterampilan (skill). Hal ini penting dipahami oleh para kandidat yang bertarung dalam kontestasi perpolitikan. Hendaknya para kandidat tidak hanya sekedar menawarkan ketampanan dan kegagahan fisik kepada pemilih/konstituen. Akan tetapi, setiap kandidat hendaknya menawarkan program-program yang menyentuh kepentingan rakyat, keahlian, keterampilan, dan kemampuan dalam mengantarkan seluruh rakyat untuk memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran. Para kandidat yang hanya mengandalkan ketampanan dan kegagahan fisik dalam kontestasi perpolitikan tak ubahnya seperti jampoek.
Karena itu, para kandidat harus belajar dari burong keutoek-toek yang menawarkan kemampuan dan keterampilan dalam konstetasipolitik, yakni: “teuma jiseuout burong keutok-tok, meuhanjeut jampoek bah long keu raja, seubab di ulon na meupiyasan, long peuh geundrang oh malam jula”.
Pemilih cerdas
Sebab itu, para pemilih hendaknya cerdas dalam memilih. Sebagaimana yang dilakukan oleh para cicem (burung), semisal burujuek bale dan toktok beuraghoe yang menolak jampoek sebagai raja karena hanya menawarkan ketampanan dan kegagahan fisik semata. Yakni: “Teuma ji seuout Beurujuk balee, han kuteem dikee jampouk keu raja, hana meusoe-soe ka tajak lakee, golom meuteuntee tajak peutaba. Lheuh nyan ji seuout Tok-tok beuragoe, hana meusoe-soe taboh keu raja, seudangkan dilon keupiah beusoe, hantom siuroe lakee keu raja”.
Sebab itu, para pemilih harus cerdas dan bijak dalam memilih pemimpin laksana cerdas dan bijaknya burujuek bale dan tok-tok beuraghoe. Untuk itu, penting bagi para pemilih untuk mengenali para kandidat yang ingin dipilih sebagai pemimpin. Karena itu, lembaga terkait semisal Parpol, KPU, Bawaslu, dan LSM Kepemiluan hendaknya menyiarkan rekam jejak (track record) parakandidat kepada para pemilih. Agar para pemilih dapat menentukan pilihan secara bijak dan cerdas.
Sebab, jika lembaga terkait tidak maksimaldan mensyiarkan keberadaan kandidat kepada para pemilih, maka akan muncul pemilih yang asal pilih. Maka perlu belajar dari Keudidi yang digambarkan dalam hikayat ini sebagai mediator dalam pemilihan raja mereka. Yakni: “teuma jidamee uleh Keudidi, si Rajawali tabouh keu raja, ciceem Dama peudana meuntri, beurujuk Campli keupala teuntra, Leuk Bangguna taboh keu meuntri, keupala negeri nyoe ciceem Dama, Kleung puteeh ulee keupala Peulisi, si Mirah pati jeut keu wedana”.
Lebih lanjut, “keu peuneurangan po ciceem Tiong, nyang mat hukom po ciceem Pala, Tok-Tok Beuragoe keu geuchiek gampong, ciceem Keucuboung keu ureung Ronda, cicem Bubruk keuma bidan, seubab digobnyan geukuwa-kuwa, dum ciceem laen duk keu rakyat”. Keudidi coba menempatkan seluruh burung sesuai dengan kemampuan dan keterampilan, bukan kepentingan, ketampanan, dan kegagahan.
Maka penting menerapkan konsep; the right man of the rigt place dalam kontestasi perpolitikan. Yakni menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuandan keahlian dalam memimpin. Profetik berpesan serahkanlah segala urusan pada ahlinya, agar lahir para pemimpin yang relevan antara keahlian dengan posisi sehingga terwujud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Sebab itu, tidak semua orang boleh menjadikandidat pemimpin, dan tidak setiap kandidat layak dipilih sebagai pemimpin. Pesan endatu; “meuriri uroet ta ikat beunteung, beuriri ureung taboh keu raja”. Artinya, dalam khazanah kebudayaan Acehpemimpin merupakan seseorang yang dimuliakan (ulama) dan mampu memerintah (umara) seluruh rakyat.
Maka di Aceh lahir sejumlah umara sekaligus ulama, semisal Sultan Iskandar Muda, Sultan Malik Ash-Shalih. Mereka adalah para ulama yang dinobatkan oleh rakyat Aceh sebagai pemimpin (umara). Maka kita berharap rakyat mampu menggerakan dan memobilisasi agar lahir parapemimpin yang berlatarbelakang ulama di segala tingkat.
Maka pemimpin tidak dilahirkan secara instan, namun mereka terlahir dari sebuah proses yang sangat panjang, mereka ditempa, dibina, digembleng dan dilatih bertahun-tahun, sehingga mereka memiliki keahlian, integritas, dan kemampuan leadership mumpuni serta komunikatif dalam menjalankan program-program yang dicanangkan. Selain itu, menjadi pemimpin juga bukan perkara mudah dan gampang. Tapi, menjadi pemimpin sebuah pekerjaan berat, bukan hanya dipertanggungjawabkan dihadapan seluruh rakyat tapi juga dihadapin Pencipta.
Pesan profetik; setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Karena itu, hikayat jampoek merupakan pedoman memilih pemimpin dalam khazanah kebudayaah Aceh. Kontestasi perpolitikan hendaknya tidak melupakan nilai-nilai moral pendidikan politik yang terkandung didalam hikayat ini.
Sebab, banyak problematika sosial hari ini tidak mampu diselesaikan, karena para pemimpin tidak memiliki kemampuan dan keahlian untuk menyelesaikannya. Hal itu disebabkan karena kekeliruan dalam memilih pemimpin yang hanya mengandalkan ketampanan dan kegagahan fisik, bukan kemampuan dan keterampilan. Nah!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muda-baliya_20160919_233516.jpg)