Industri Emping Melinjo Minim Perhatian

Produksi emping melinjo yang dominan ditekuni kaum wanita di Pidie, minim perhatian dari Pemkab

Industri Emping Melinjo Minim Perhatian
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Penjual emping melinjo di Beureunuen, Pidie. 

SIGLI - Produksi emping melinjo yang dominan ditekuni kaum wanita di Pidie, minim perhatian dari Pemkab maupun Pemerintah Aceh. Baik dalam hal modal usaha maupun peralatan yang hingga kini masih menggunakan peralatan tradisional dalam mengolah biji melinjo menjadi emping. Sehingga industri yang telah menjadi ikon Kbupaten Pidie ini berkembang dengan sangat lamban.

Kesimpulan ini terungkap dalam duek pakat (musyawarah) penyelamatan melinjo, di Aula Bappeda Pidie, Rabu (3/10). Dalam pertemuan tersebut juga terungkap bahwa ongkos pembuatan emping oleh pekerja dibayar sangat murah oleh pihak yang pemberi order.

“Pengrajin emping melinjo yang umumnya kaum wanita ini harus diberdayakan, antara lain dengan cara menyuntik modal usaha. Sebab, selama ini mereka sangat kurang perhatian,” tukas Masyitah seorang peserta pada acara duek pakat penyelamatan melinjo Pidie, kemarin.

Ia menyebutkan, penumbuk biji melinjo masih menggunakan peralatan lama dalam mengolah emping. Seperti dalam proses penjemuran yang masih mengandalkan sinar matahari. Selayaknya, pemerintah memberikan bantuan alat pengering moderen, sehingga penjemuran lebih efektif dengan kualitas yang lebih baik.

“Sangat disayangkan, para pekerja industri emping melinjo ini masih sangat terbatas dalam hal alat dan kurangnya modal usaha. Disamping bayaran yang sangat murah. Kami berharap adanya kepedulian dari pemerintah terhadap pelaku industri emping melinjo di daerah ini,” ujarnya.

Rektor Unigha Sigli, Drs Sulaiman Usman MPd, menjelaskan bahwa biji melinjo sering langka di Pidie, akibat hasil panen biji melinjo tidak sesuai dengan jumlah batang yang ada. Biji melinjo ini seharusnya cukup melimpah di Pidie, mengingat tanaman tersebut banyak tumbuh di kawasan ini. “Hanya saja, hasil panen tidak mampu memenuhi tinginya permintaan, karena biji yang dipanen banyak berkualitas rendah.

“Kami dari Unigha siap berkolaborasi dengan Pemkab dalam hal pembibitan melinjo unggulan. Apalagi emping melinjo ini sudah menjadi ikon Pidie,” kata Sulaiman.

Sementara, Anggota DPRK Pidie, Isa Alima, mengaku siap memberikan dukungan bagi industri ini, agar emping yang dihasilkan lebih bermutu. Dari segi penganggaran, ia sepakat agar adanya alokasi dana untuk pelaku industri ini. Begitu juga, dalam hal pembibitan batang melinjo, juga harus dianggarkan oleh Pemkab Pidie.

“Kalau selama ini warga menanam sendiri tanaman meulinjau secara tumpang sari di dalam kebun, yang bukan merupakan bibit pilihan. Maka ke depan harus ada kebun khusus melinjo yang dibimbing oleh penyuluh pertanian. Sehingga hasil panen bisa meningkat dengan kualitas bagus,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Pidie, Ir Syarkawi MSi, juga mendukung pengembangan industri emping melinjo ini secara lebih intensif, mengingat produk emping melinjo dari Pidie telah merambah pasar di Medan (Sumatera Utara) bahkan diekspor ke Singapura.

Ia juga membantah pendapat yang mengatakan pemerintah kurang memerhatikan pengembangan tanaman melinjo dalam mendukung industri ini. “Selama ini bukan tidak ada perhatian dari pemerintah. Bibit melinjo yang tersertifikasi sudah sering kami salurkan untuk petani. Namun petani penerima bantuan bibit tidak melaporkan kepada dinas terkait perkembangan tanaman dari bibit bantuan. Saat ini bibit melinjo sudah ada sertifikasiNYA, kecuali untuk jenis melinjo padi,” katanya.

Menurutnya, industri pembuatan emping melinjo ini dilakukan hampir di semua gampong di Pidie. Saat ini, jumlah usaha rumah tangga pengolahan emping melinjo ini sudah mencapai 2.650 unit. Usaha tradisional itu menyerap tenaga kerja perempuan sebanyak 5.304 orang, dengan kapasitas produksi 1.672 ton per tahun.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved