Mulai Turun Menggarap Sawah, Petani di Bireuen Hadapi Krisis Pupuk Urea Bersubsidi

Petani menduga ada oknum atau pihak-pihak yang bermain dengan pupuk bersubsidi saat musim tanam tiba.

Mulai Turun Menggarap Sawah, Petani di Bireuen Hadapi Krisis Pupuk Urea Bersubsidi
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Pekerja memuat ratusan ton pupuk bersubsidi di Gudang Penyangga Lini III Abdya di Desa Keude Paya, Blangpidie, Jumat (26/1/2018). 

Laporan Ferizal Hasan l Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Saat ini petani di 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen mulai turun ke sawah untuk menanam padi.

Namun para petani mengaku kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi jenis urea di pasar.

Menurut sejumlah petani di Bireuen, sudah menjadi tradisi, setiap musim tanam, pupuk urea bersubsidi selalu langka di kabupaten tersebut.

Akibatnya, petani kewalahan memperoleh pupuk untuk tanaman padinya.

Petani menduga ada oknum atau pihak-pihak yang bermain dengan pupuk bersubsidi saat musim tanam tiba.

Baca: Usai Sewa Kamar Hotel dengan Pria Bangladesh di Singapura, Wanita asal Indonesia Ditemukan Tewas

Baca: Kisah Ahmad Dinata, Tsunami Selat Sunda Renggut Nyawa Ibu dan Adiknya hingga Jadi Anak Angkat Polisi

Kondisi ini diperkirakan terjadi karena mulai meningkatnya permintaan pupuk urea pada musim tanam tahun ini.

Muhammad Isa dan beberapa petani di Kecamatan Jeumpa kepada Serambinews.com, Rabu (2/1/2019) mengatakan, kelangkaan pupuk sudah terjadi sejak sepekan lalu, sementara petani di wilayah itu sudah menyemai benih sehingga membutuhkan pupuk urea.

Bahkan sejumlah petani sudah ada yang menanam padi.

“Kami sudah mencari pupuk ke beberapa pedagang pupuk tetapi pupuknya belum ada, padahal saat ini kebutuhan pupuk cukup mendesak karena padi mulai ditanam," kata Muhammad Isa yang juga Sekdes Cot Iboeh Kecamatan Jeumpa.

Disebutkan petani mulai khawatir jika kelangkaan pupuk terus berlanjut, diperkirakan harga pupuk subsidi akan naik di atas harga eceran tetap (HET) yaitu mencapai Rp 2.000 per kilogram, sedangkan harga HET yang ditetapkan pemerintah Rp 1.600 per kilogram.

Baca: Pro dan Kontra Usulan Tes Baca Al Quran untuk Capres RI, Ini 13 Keutamaan Membaca Al Quran

Baca: Jenderal Muhammad Jusuf, Panglima ABRI yang Berani Gebrak Meja di Depan Presiden Soeharto

"Kami menduga ada oknum atau pihak-pihak terkait yang bermain dengan pupuk bersubsidi, pasalnya, setiap datangnya musim tanam, pupuk urea bersubsidi selalu langka, kami petani kewalahan mencari pupuk," sesal Muhammad Isa.

Hal yang sama juga dituturkan M Jafar, petani di Kecamatan Juli.

Pihaknya mengaku kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi.

Ia berharap kepada Pemkab Bireuen untuk mengatasi kelangkaan pupuk, karena mayoritas petani di Bireuen saat ini sedang musim turun sawah dan membutuhkan pupuk.(*)

Penulis: Ferizal Hasan
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved