Kembalinya Nelayan Hilang

BELASAN orang dalam balutan kemeja kotak-kotak dengan topi putih beraksen merah bertuliskan ‘KBRI Yangon’

Kembalinya Nelayan Hilang
SERAMBI/M ANSHAR
PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadlri, dan Kadis Sosial Aceh, Alhudri menyerahkan bingkisan kepada 14 nelayan Aceh yang masuk ke wilayah Myanmar saat tiba di Pendopo Wagub Aceh, Rabu (30/1). 

BELASAN orang dalam balutan kemeja kotak-kotak dengan topi putih beraksen merah bertuliskan ‘KBRI Yangon’ di kepala tertunduk lesu. Gurat letih nyata membayang pada wajah-wajah yang duduk terpekur dengan tas dan tentengan handbag motif batik di tangan. Saat itu, jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, sebelum akhirnya seorang laki-laki tua yang juga dalam balutan baju batik masuk ke ruangan khusus di Bandara Sulthan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Banda Aceh, Rabu (30/1). Kehadirannya disambut hangat oleh segenap yang hadir.

“Jadi ureueng droe neuh dari Idi mandum? (jadi kalian dari Idi semua?),” tanyanya kepada salah seorang yang hadir seraya berjabat tangan.

Dialah Panglima Laot Aceh selaku pemangku adat tertinggi dalam hukum adat laut Aceh. Ia terlihat sumringah menyambut ke-14 nelayan itu. Senyum membayang di wajahnya yang dihiasi keriput saat berbincang dan mendengarkan penuturan Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri. Tak berlebihan, karena kedatangannya ke situ adalah menyambut kedatangan 14 nelayan Aceh yang terdampar ke Myanmar. Mereka melanggar batas teritorial negara saat melaut dan dideportasi dari negara itu. Pergi naik kapal, pulang naik pesawat.

Suasana di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Banda Aceh petang itu terlihat tak biasa. Mobil petugas keamanan meraung-raung sebelum akhirya beberapa polisi turun. Para nelayan yang terdampar itu keluar dari jalur khusus, yaitu pintu keberangkatan sebelum akhirnya sebuah minibus membawa mereka ke kediaman Plt Guberbur Aceh, Nova Iriansyah. Di sana, Dubes RI untuk Myanmar, Iza Fadri dan jajarannya telah menunggu. Mereka mengantar langsung ‘si anak hilang’ kembali ke tanah kelahirannya dan disambut oleh pemimpin daerah ini selaku ‘orang tua’.

Di hadapan seratusan hadirin yang memenuhi aula kediaman Plt Gubernur, Iza Fadri pun mengisahkan perjuangan mengembalikan warga negaranya dari negara tetangga. Ia bernegosiasi dengan Kementerian Luar Negeri. Sebelum akhirnya bersama rombongan terbang ke Myanmar, tepatnya ke Kawthong untuk menjemput para nelayan tersebut. Meskipun satu di antara mereka yaitu Nurdin, telah lebih dulu mengembuskan napas terakhir dan dimakamkan oleh warga muslim setempat. Ia juga membawa pulang PR (tugas), karena satu lagi di antara rombongan itu yakni sang nahkoda kapal masih ditahan untuk diproses hukum.

“Pada dasarnya Indonesia dan Myanmar mempunyai hubungan baik. Oleh karena itu, 14 orang nelayan ini memperoleh pengampunan dari Presiden Myanmar dan dideportasi. Kita akan melakukan apapun untuk melindungi warga negara kita, meskipun tentu saja mencegah lebih baik daripada menyelesaikan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyampaikan terima kasih terhadap kerja keras Dubes Indonesia untuk Myanmar dan secara khusus kepada Kadinsos Aceh, Alhudri. Nova menegaskan bahwa, nelayan yang terdampar ke Myanmar adalah untuk mencari nafkah, bukan mafia illegal fishing. Hal ini bukan pertama kali terjadi. Seperti diungkapkan Sekretaris Jenderal Panglima Laot Aceh, Miftah Cut Adek, sepanjang 2018, terdapat empat kasus serupa yang melibatkan 30-an nelayan. Agaknya pembekalan teritori suatu negara, menjadi hal mendesak untuk dilakukan.

“Kami di sana (di Myanmar selama dua pekan) pas terdampar ya diserang sakit, tapi ya pemerintah di sana memperlakukan kami dengan baik. Kalau ditanya kapok tidak melaut? Ya saya sudah dari umur belasan tahun menjadi nelayan dan inilah pekerjaan saya,” aku Samidan, salah satu dari 14 nelayan kepada awak media.

Sebagai negara dengan gugusan kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memang sudah akrab persoalan tersebut. Konon lagi posisi geografis Aceh selaku provinsi terluar. Bukan hanya terdampar di negara orang, tapi juga acapkali menampung warga negara lain yang terdampar di perairan daerahnya. Seperti halnya etnis Rohingya, ‘manusia perahu’ yang tak pernah diakui sebagai warga negara oleh Myanmar. Begitulah, manusia hanya menuai apa yang ditaburnya. Samidan adalah potret anak negeri dengan darah pelaut yang mengalir deras dalam dirinya.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved