Di Madinah dan Mekkah, Parfum pun Disedekahkan
KEGEMARAN warga Arab Saudi bersedekah, apalagi di bulan Ramadhan tentu bukan hal yang asing lagi
OLEH MURSAL ISMAIL, Wartawan Serambi Indonesia, melaporkan dari Mekkah
KEGEMARAN warga Arab Saudi bersedekah, apalagi di bulan Ramadhan tentu bukan hal yang asing lagi. Barangkali juga hampir setiap Ramadhan beredar video di smartphone tentang warga Madinah yang berebut jamaah untuk sudi berbuka puasa gratis di lapak yang sudah mereka sediakan di dalam Masjid Nabawi, Madinah, maupun di luar masjid itu. Bahkan di luar masjid Nabi Muhammad saw ini mereka tidak hanya menyediakan penganan berbuka biasa, seperti roti, kurma, dan minuman, melainkan juga nasi briyani lengkap dengan lauknya.
Suasana ini benar adanya, bahkan lebih dari itu. Hal ini saya buktikan selama sembilan hari di Madinah, 7-15 Mei 2019 dalam rangka shalat sunah Arbain sebelum kami melaksanakan rukun umrah di Masjidil Haram, Mekkah. Shalat Arbain adalah shalat wajib lima waktu secara berurut-turut 40 waktu (delapan hari).
Jelang berbuka puasa, juga banyak warga Madinah yang membagikan tisu basah dalam bentuk sachet kepada jamaah. Tisu ini tentu sangat bermanfaat untuk mengelap tangan dan mulut seusai berbuka puasa. Uniknya lagi, setiap jelang shalat berjamaah, ada saja jamaah Masjid Nabawi bersedekah parfum nonalkohol yang digunakannya dengan cara menawarkan diri menggosok ke bagian tangan jamaah lain.
Hal yang sama juga terjadi di Masjidil Haram, banyak di antara jamaah membagikan penganan berbuka dan bersedekah parfum. Selain itu, di bagian luar dan dalam masjid yang berdiri Kakbah ini, juga banyak di antara warga Arab membagikan kebutuhan untuk jamaah umrah.
Misalnya, saja saat kami masih di terminal Mekkah atau baru turun bus dari Madinah serta mengenakan pakaian ihram, Kamis, 16 Mei 2019, ada saja warga membagikan tasbih berisi tujuh biji untuk memudahkan hitungan rukun umrah berupa putaran tawaf dan sai masing-masing tujuh kali.
Kemudian saat tiba dekat pintu gerbang Masjidil Haram setelah berjalan kaki dari terminal jelang Ashar itu, kami disambut sebagian pemuda yang sudah bersiap-siap memegang semprot air di tangan masing-masing. Dengan ramah mereka mempersilakan muka dan kepala kami untuk disemprot air. Tentu hal ini sangat bermanfaat di tengah panasnya Kota Mekkah yang mencapai 39 derajat Celcius. Meski Pemerintah Arab Saudi juga menyediakan uap air (embun) buatan di tiang-tiang di jalan menuju Masjidil Haram yang tersemprot otomatis tanpa henti 24 jam.
Ketika melaksanakan tawaf di bawah terik matahari, juga ada saja pemuda membagikan tisu agar jamaah bisa mengelap keringatnya. Tisu ini ternyata juga dibagikan pemuda lainnya kepada jamaah yang sedang sai antara Bukit Safa dan Marwa.
Menjelang Maghrib, masuk pemuda lainnya membagikan penganan berbuka yang umumnya kurma. Sedangkan air zamzam serta cangkir plastik bebas diambil di setiap kran maupun tempat lainnya yang sudah disediakan pihak Masjidil Haram. Tentu pelayanan ini tak hanya kepada kami, namun juga kepada semua jamaah lainnya dari berbagai negara.
“Sedekah warga Madinah dan Mekkah ini simpel saja, namun sangat sesuai kebutuhan. Mereka seakan ingin mencontohkan agar bersedekah seikhlasnya sesuai kemampuan dan kebutuhan penerima,” kata jamaah umrah asal Tangse, Pidie, Tgk Rusli Yusuf.
Selain bersedekah, tentu juga banyak warga Arab di Mekkah dan Madinah berdagang oleh-oleh di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, dan Masjidil Haram, Mekkah.
Semoga keramahan warga di dua Kota Suci itu menyambut tamu berbagai negara, juga bisa diikuti warga di Aceh, sehingga pepatah Aceh “Peumulia jamee adat geutanyoe” dapat juga dirasakan warga luar yang datang ke daerah berjuluk Serambi Mekkah ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mursal-ismail-wartawan-serambi-indonesia-dari-madinah.jpg)