Balai Bahasa

Bahasa dan Sastra Khang Singkel

Selain negeri ini (Singkil) kaya akan adat dan budayanya juga terdapat sastra yang unik dan indah di dalam kebudayaan Singkil

Bahasa dan Sastra Khang Singkel
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Landmark Pulau Panjang, salah satu objek wisata favorit di Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil. 

Oleh: Jaminuddin Djalal, Wakil Sekretaris Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil

Selain negeri ini (Singkil) kaya akan adat dan budayanya juga terdapat sastra yang unik dan indah di dalam kebudayaan Singkil itu sendiri. Berbicara tentang sastra adalah berbicara keindahan. Keindahan lahir dari pemikiran dan buah tangan manusia dan manusia pada umumnya menyukai yang namanya keindahan. Sahabat Nabi Umar bin Khatab yang gagah perkasa pernah berkata: Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.

Penulis memiliki paham bahwa Singkil lahir dari sastra bersamaan dengan orang-orang yang bersamanya. Terlepas dari kebenaran yang hakiki, bahwa asal-usul nama Kabupaten Aceh Singkil pada mulanya bernama Singkel. Singkel sendiri lahir dari sebuah legenda yang sampai hari ini ceritanya masih dipegang kuat oleh khang Singkil, yaitu “Sekel”. Sekel adalah bahasa Singkil yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Mau, menerima, memberi”.

Penegasan lainnya bahwa Singkil lahir dari sastra adalah ketika menguraikan sebuah batang pohon kelapa yang berbuah. Ada banyak kosa-kata dalam bahasa Singkil yang akan kita temui dari sebuah batang pohon kelapa yang sedang berbuah, uniknya lagi hal ini jarang kita temui dalam kosa-kata bahasa lain, misalkan di dalam bahasa Indonesia sendiri. Sebagai contoh: Seludang: (Bungkus pada tangkai tandan kelapa yang sudah kering yang mirip dengan sampan). Atau Sekhpih: (Sabut jering yang terdapat pada pangkal pelepah kelapa). Selain itu kita temui pula dalam ungkapan kata kerja bahasa Singkil yang artikulatif. Yaitu memiliki tingkatantingkatan serta sesuai pada locus sasarannya.

Sebagai contoh dalam kosa-kata “TARIK” yaitu: Khota: (Ditarik dengan kekuatan penuh, keras bahkan kasar). Sintak: (Ditarik dengan cara pontan). Sakhan: (Ditarik dengan cara menyeret). Teggu: (Ditarik dengan cara lembut atau secara perlahan-lahan). Dalam bahasa Singkil juga mempunyai kosa-kata yang sama namun memiliki arti yang berbeda atau disebut dengan homograf. Seperti kosakata dalam bahasa Inggris ketika menyebut “Mine” sebagai milikku dan “Mine” sebagai ranjau, atau “Well” sebagai baik dan “Well” sebagai sumur. Sebagai contoh dalam bahasa Singkil adalah: “Luah”: sebagai lepas dan “Luah”: sebagai oleh-oleh, buah tangan atau hadiah. Contoh kalimat: “Pak Ambo anakku balik Banda Aceh nai, luahkenna sada kambing bebekhu. Kuliken malot mende di khakut anakku, pela luah soh mi Pemuka”.

Yang artinya (Paman anakku, pulang dari Banda Aceh membawa oleh-oleh satuekor kambing betina. Karena kambing itu tak bagus di ikat anakku, sehingga kambing itu lepas sampai ke Pemuka). Sebuah sastra akan terlihat indah dengan susunan bahasanya yang sarat akan makna. Baik itu tentang kematian, perjuangan, kehidupan dan lain sebagainya yang kemudian mampu membentuk karakter seseorang yang membacanya. Dari pembentukan karakter tersebut maka terciptalah prilaku yang baik dan mulia.

Diperaktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dari satu orang hingga tak terhitung jumlahnya. Sastrawan ternama Singkil pernah mengejutkan dunia melalui syairnya, ia adalah Syech Hamzah Fansury, karyanya dikenal hingga ke seluruh penjuru dunia. Syair yang berjudul “Perahu” misalnya. Yang menceritakan tentang nasihat mengenali diri sendiri. Sehingga ketika manusia mengenal dirinya, maka seseorang tersebut dengan sendirinya mengenal Tuhan-Nya. Dari mana asal manusia itu, mau kemana ia setelahnya. Juga penekanan bahwa dunia ini hanya bersifat sementara, akhiratlah sebaik tempat yang Allah SWT sediakan.

Selain itu terdapat pula sebuah syair nasehat yang sampai hari ini masih sering dilantunkan oleh anak-anak dayah atau pesantren ketika bershalawat. Fungsinya adalah sebagai media untuk memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Syair nasehat itupun tersebar hingga ke pelosok Singkil dan Subulussalam pada umumnya. Syair nasehat tersebut disusun dengan rapi bait demi bait. Berikut penggalannya:

Syair Nasehat bahasa Singkil:
Pikekh mo lebe ibu dan bapak. Anak mebue kempu melaklak. Kundul
ditukhe tekhlengah-lengah. Begi dok kalak si malot susah.
Nggo keca sakit dikhamu daun. Dipasang mo niat asa tokh njuah.
Kepek sakitna tambah melakhat. Soh mo ajalna ia peh laus.
Aleng pegawe macaken nakan. Mengido ampun mi Tuhan. Doa pegawe
malot dikabulken. Kuliken si mayit malot sembahyang.
Imo khugina malot sembahyang. Kade peh pengido malot dikabulken.
Aci mo kita pikekh-pikekhken. Kune ngo ndia nasib di badan.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Pikirkanlah wahai ibu dan bapak. Anak banyak, pun dengan cucu.
Duduk di teras berlalai-lalai. Begitulah ungkapan orang yang tak susah.
Kalau sudah sakit, meramu obat. Dipasang niat agar lekas sembuh. Namun
sakitnya tambah melarat. Hingga tiba ajalnya meninggalkan dunia. Panggil
pak Imam bacakan doa. Meminta ampun kepada Tuhan. Doa Imam tak
diizabah. Sebab si mayit tak pernah sholat. Begitulah ruginya jika tak
sholat. Apapun yang diminta tak akan dikabulkan. Marilah kita renungrenungkan.
Bagaimana nasib pada badan.

Syair tersebut di atas mengajak kita untuk merenungi kehidupan di dunia ini agar tidak berhura-hura. Syair itupun selalu dilantunkan sebagai salah satu shalawat yang paling populer dikalangan dayah dan pesantren. Bahkan orangtua mereka-pun ketika hendak menidurkan anak-anak mereka di ayunan tak jarang membawakan nasehat tersebut. Hal ini menandakan bahwa syair tersebut memang penuh dengan sastra, nasehat dan hikmah di dalamnya.

Pada tahun 2016 Azwar Siketang, seorang musisi asal Singkil menciptakan sebuah syair tentang perjuangan seorang Ibu yang membesarkan anakanaknya. Syair itu kemudian dipopulerkan oleh Isran Siketang dengan membawakannya dalam sebuah genre musik pop sedikit slow me-low. Lagu itu-pun berhasil menghipnotis setiap pendengarnya, terlebih lagi mereka yang mengalami secara langsung cerita pada syair yang berjudul Penganggun Emak itu. Berikut isi syair dalam bahasa Singkilnya: Masa kedek nai nimu mak, aku di anggun-anggun. Nggo keca nimu mbelen bahanen mbekhat ku gancihken. Setiap wakhi muat upahen, menulus bekhas senggelem. Dituhukh wakhi cukcuhi udan. Dapet na giak kita mangan. Tapi sayang sekhibu sayang, makden tejalo upah mendedah. Nggo soh janjimu mi Tuhan tepaksa kita mepisah. Makne lot bekas aku mengadu makne lot bekasku monjo cekhampu, penadingken emak ku sayang, aku melumang, sipaling tole aku sedihken makden malum leja mu pegedang mbellenken, tekhasa tokh su aku ditadingen. Emakku sayang. Angan-anganmu khuni mak, sekel mengidah aku bage kalak. Sekolah ndatas nemu mepangkat,gongken kona nggeluh melakhat. Penganggun mu peh khuni mak, sekolahken ngo nimu hakhtamu, dosah mekhemas baju memale, asalken anganku tecape.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sedari kecil wahai Ibu, engkau buai-buai anakmu dalam ayunan. Katamu ketika kelak aku dewasa, pekerjaanmu yang berat itu, aku yang gantikan. Setiap hari engkau bekerja tak kenal lelah, mencari sesuap nasi untukku, meski panas terik matahari membakar tubuhmu dan ujan membasahi tubuhmu. Kaupun rela asalkan anakmu tetap hidup. Tapi sayang, seribu sayang, tak kau rasakan upah membesarkan anakmu. Hingga kini engkau dipanggil Tuhan, terpaksa kita berpisah. Mak, tak ada lagi tempat anakmu mengadu. Tak ada lagi tempat anakmu bermanja. Tinggallah aku sebatang kara. Nasib si anak melumang.

Lagi, yang paling aku sedihkan,belum kering panas didahimu merawat dan membesarkan anakmu. Terlalu cepat anakmu kau tinggalkan. buku tersayang. Masih ku ingat mimpimu dulu Ibu, kau ingin melihatku seperti orang besar. Sekolah tinggi dan berpangkat. Meskipun hidup kita melarat. Buaianmu dulu Ibu, sekolahku adalah segalanya bagimu, meski kita miskin tak punyai emas bahkan baju compang-camping. Asalkan mimpi anakmu kesampaian.

Kesimpulan dari secuil tulisan ini adalah bahwa khang Singkil sejak dulu lihai dalam ber-syair, puisi, hikayat dan lain sebagainya. Disisi lainnya adalah betapa pentingnya menanamkan jiwa sastra pada diri. Dengan ilmu sastra yang dimiliki tersebut tentu kita dapat mengenalkan bahasa yang kita miliki kepada orang lain. Apalagi pada zaman sekarang ini sangat mudah untuk mendapatkan media pendukung sebagai alat promosi dari setiap karya yang dimiliki, baik itu di YouTube, Blog, Web dan lain sebagainya. Terakhir, mari berbahasa dengan bersastra.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved