Minggu, 31 Mei 2026

Idul Fitri 1440 H

Tradisi Perang-perangan, Kegembiraan yang Membahayakan

Anak-anak ini berpenampilan layaknya pasukan bersenjata, lengkap dengan kaca mata hitam dan kain penutup wajah (seperti sebo)

Tayang:
Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Zaenal
SERAMBI/ZAINUN YUSUF
PEDAGANG musiman menjual senjata mainan di Jalan Sentral, Blangpide, Abdya, Kamis (6/6). 

Tradisi Perang-perangan, Kegembiraan yang Membahayakan

Laporan Zainun Yusuf| Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM,BLANGPIDIE – Perang-perangan yang melibatkan anak-anak dengan menggunakan senjata mainan, kembali meramaikan suasana Idul Fitri di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tahun ini.

Anak-anak ini berpenampilan layaknya pasukan bersenjata, lengkap dengan kaca mata hitam dan kain penutup wajah (seperti sebo), sebagai pelindung mata dan wajah dari peluru yang dilepas kelompok lawan.

Senjata yang digunakan pun beragam, mulai laras pendek (pistol) sampai laras panjang (AK-47) dengan peluru khusus juga dari bahan plastik.

Mereka meluapkan kegembiraan dengan ‘bertempur’ habis-habisan di jalan raya, di sudut-sudut kota atau medan strategis lainnya.

Kadangkala, ada kelompok anak-anak yang berkumpul di pinggir jalan, menunggu lewatnya mobil atau becak yang membawa kelompok anak-anak lain.

Saat dua kelompok bertemu, banyak orang menggambarkan kondisi ini seperti miniatur suasana Aceh ketika konflik bersenjata mendera beberapa tahun lalu.

Catatan Serambinews.com, permainan perang-perangan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, semenjak Aceh lepas dari konflik pada Agustus 2005 lalu.

Permainan yang hampir menjadi tradisi ini dilakoni oleh anak-anak di seluruh pelosok kampung di Aceh. 

Selain perang-perangan dengan senjata mainan, di sebagian daerah lain, terutama di Kabupaten Pidie, anak-anak dan para pemuda juga melakoni tradisi perang-perangan dengan menggunakan meriam bambu dan bom karbit. 

Kedua jenis permaianan ini menyimpan potensi membahayakan, terutama jika ada yang lalai atau sengaja ingin melukai "teman" yang dalam permaian itu dianggap sebagai "lawan".

Baca: Meriam Bambu dan Bom Karbit Ganggu Tarawih

Baca: Meriam Bambu Marak di Galus

Bertempur dengan Mata Telanjang

Amatan Serambinews.com hingga memasuki hari kelima Idul Fitri 1440 H, Minggu (9/6/2019), peristiwa perang-perangan terlihat seru di mana-mana yang melibatkan dua kelompok bersenjata mainan.

Tidak sedikit anak-anak nekat bertempur dengan mata telanjang sehingga sangat mudah terkena peluru yang  ditembakkan kelompok lain.

Seperti pada Minggu siang, sekelompok anak-anak bersenjata lengkap dalam posisi siap tembak bersembungi di balik dinding pertokoaan di salah satu sudut Kota Blangpidie.

Mereka dalam posisi siap menunggu “musuh’. Tidak lama, mendekat sebuah mobil pikap yang ditumpangi belasan anak-anak sambil mengacung-acungkan senjata laras pancang.

Tidak pelak, anak-anak yang berada di atas mobil terbuka itu langsung diserang kelompok yang memang mengendap di lokasi sedari tadi.

Trap, trap, trap, tembakan dilepas ke arah lawan di atas mobil pikap.

Sadar mendapat serangan, anak-anak di atas mobil segera melancarkan serangan balasan sehingga terjadi kontak tembak seru, peluru yang ditembakkan mengenai bagian tubuh lawan.      

Kontak tembak terjadi beberapa detik, kemudian terhenti ketika mobil lawan melaju meninggalkan lokasi.

Beberapa anak-anak yang berada di lokasi tersebut tertawa lepas, seperti baru saja memenangkan pertempuran yang sangat seru.

Pemandangan perang-perangan seperti itu terlihat dimana-nama di kawasan Kabupaten Abdya, terdiri sembilan kecamatan sejak Babahrot sampai Lembah Sabil selama Idul Fitri 1440 H.

Baca: Lebaran Internasional di Gampong Aree

Baca: Kebakaran di Kotafajar Diduga Akibat Mercon

Membahayakan Mata

Merayakan lebaran yang dilakoni anak-anak dengan bertempur seperti dinilai banyak kalangan sangat membayakan bagi anak terdiri.

Peluru yang dilepas bisa saja mengenai bagian mata sampai pecah, meskipun peluru dari plastik.

Andi Putra, salah seorang warga Abdya kepada Serambinews.com, Minggu (9/6/2019) mengatakan, peperangan di kalangan anak-anak ketika memasuki lebaran sulit dicegah karena senjata-senjata mainan sangat mudah didapat.

Beragam senjata mainan tersebut dijual bebas sejak kota kabupaten sampai kecamatan.

Di Kota Blangpidie, misalnya, pedagang senjata mainan sangat mudah ditemukan di Jalan Central, Jalan Perdagangan, Jalan H Ilyas, Jalan Pendidikan.

Pedagang senjata yang datang dari luar daerah dan pedagang lokal setempat menawarkan senjata dengan  harga sangat beragam, mulai harga Rp 20.000, Rp 40.000, Rp 70.000 sampai Rp 120.000 per unit.

Baca: Aksi Perang-perangan Meresahkan Pengguna Jalan

Baca: Perang-Perangan di Atas Mobil

Senjata yang ditawarkan pun laris manis.

Malahan ada sejumlah orang tua turut mendampingi anaknya untuk membeli senjata.        

Aneka senjata mainan yang mirip senjata asli ini laku keras selama Idul Fitri 1440 H sehingga  pedagang senjata mainan meraup untung lumayan besar.

Namun, masih banyak orang tua khawatir tradisi perang-perangan di kalangan anak-anak ketika merayakan lebaran sebaiknya dihentikan saja dengan cara melarang kegiatan pedagang yang menjual senjata mainan yang menjamur ketika tiba lebaran.

Larangan menjual senjata mainan dengan alasan sangat membayakan bagi anak-anak.

Sebab, kendati berpeluru plastik tapi senjata mainan tersebut bisa membuat cidera, misalnya terkena mata bisa pecah.

Petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Rumah Sakit Umum Tengu Peukan (RSU TP) Abdya ketika dihubungi Serambinews.com, Minggu siang, tadi, memang mengaku belum menerima pasien anak-anak yang terkena peluru senjata mainan di bagian mata.

“Lebaran tahun lalu, ada, tapi tahun ini, belum,” kata salah seorang petugas piket.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved