Balai Bahasa

Pukak dan Nungkak Sapaan Akrab Orang Singkil

Hampir setiap daerah di Provinsi Aceh ini ada bahasa suku yang beragam panggilan/sapaan tersendiri

Pukak dan Nungkak Sapaan Akrab Orang Singkil
IST

Oleh: Jaminuddin Djalal, Mahasiswa Fakultas Syariah & Hukum UIN AR-RANIRY

Hampir setiap daerah di Provinsi Aceh ini ada bahasa suku yang beragam panggilan/sapaan tersendiri dalam kehidupan mereka. Terlebih panggilan kepada seorang pemuda dan pemudi yang merupakan salah satu bagian terpenting bagi bangsa dan negara.

Seperti dalam bahasa Aceh misalnya ketika memanggil seorang laki-laki dengan sebutan Agam dan panggilan bagi seorang perempuan adalah Inong. Atau orang Aceh Tengah yang menyebut Win bagi seorang laki-laki dan Ipak sebutan bagi seorang perempuan. Hal serupa pula akan kita dengar di daerah Surabaya yang memanggil seorang laki-laki dengan sebutan Cak dan panggilan Ning bagi seorang perempuan. Khang Singkil sangat kaya dengan budaya panggil memanggil atau sapa-menyapa.

Dalam hal ini adalah kekerabatan itu sendiri. Baik yang menyangkut dengan kedekatan hubungan antar keluarga maupun antar sesama warga masyarakat Singkil. Sistim kekerabatan itu sudah ada sejak dulu, katakanlah pada masa berdirinya kerajaan Singkil Sinembelas dulu. Menariknya sistim kekerabatan ini menyatu padu dalam simbol-simbol adat khang Singkil.

Hal ini akan kita temukan dalam simpulan kain berujung 16 dengan bermacam warna. Ini pula sebagai bentuk persatuan dan persaudaraan yang mengikat erat. Oleh sebab itu khang Singkil juga memiliki panggilan atau sapaan yang di khususkan ketika memanggil seorang pemuda dan pemudi. Panggilan atau sapaan itu ialah Pukak dan Nungkak. Pukak adalah panggilan untuk seorang laki-laki sementara Nungkak adalah panggilan untuk seorang perempuan. Baik yang memanggil itu adalah dari keluarga si pemuda atau pemudi itu sendiri maupun orang lain yang sama sekali tak ada hubungan kekeluargaan dari yang dipanggil.

Sebuah contoh kalimat percakapan keluarga:
Bapak si Pukak ku ndai, lebe sesibon asa toh na balik i atau Emak Nungkak ku, taboh na maktanggung khokhohen na. Yang artinya bapak anakku (si laki-laki) tadi, ketika sore baru dia tau pulang itu atau ibu anakku (si perempuan) lezat sekali masakannya. Atau sebuah penegasan seperti Pukak ku dan Nungkak ku yang maksudnya adalah anak laki-lakiku dan anak perempuanku.

Kalimat di atas dapat kita pahami bahwa yang berbicara adalah seorang suami dan istri. Karena orang Singkil sangat menghargai antar suami dan istri sehingga sering seorang istri memanggil suaminya dengan panggilan Bapak si Pukak tanpa menamaisuaminya. Demikian juga dengan seorang suami yang memanggil istrinya dengan panggilan Emak Nungkak tanpa menamai langsung istrinya. Biasanya hal ini berlangsung ketika si suami atau si istri sedang bercerita dengan orang lain. Maka dipanggil Bapak si Pukak atau Emak Nungkak.

Namun tak jarang pula menyebutnya dalam rumah tangga suami-istri itu sendiri, yang seharusnya adalah Ogek dan Adik atau khusus untuk panggilan romantis seorang suami kepada istri dengan panggilan Khajani Tukhang. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya perubahan dalam panggilan/sapaan kepada istri atau suami tersebut. Salah satu faktor penyebab yang paling mendasar adalah ketika sudah tak lagi muda. Beranak tiga atau lebih. Dimana perasaan kehangkean/ segan muncul. Disamping itu ada pula penyebutan lain yaitu Jabuku, Okhangku dan Kalak Sapoku yang kesemuanya mendefenisikan seorang istri atau istriku.

Begitu juga ketika yang memanggil adalah orang lain atau yang tidak ada hubungan kekeluargaan tersendiri, akan tetap memanggil/menyapa dengan panggilan Pukak dan Nungkak. Supaya terasa keakraban dalam hubungan antar sesama orang Singkil itu sendiri. Dalam artian lebih luas bahwa orang Singkil sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Sehingga tak mengherankan lagi kalau ada nama orang Singkil yang dilabelkan dengan panggilan Pukak itu sendiri, meskipun nama seseorang tersebut pada dasarnya bukanlah Pukak.

Karena kebiasaan orangtua dari seseorang tersebut memanggilnya dengan sebutan Pukak sehingga orang-orang pun memanggilnya Pukak dengan menambahkan nama sambungan sesudah Pukak. Uniknya lagi hal ini tergantung daripada arti dari panggilan atau sapaan itu sendiri. Seperti misalnya Pukak Singkil yang berarti laki-laki asal Singkil, Pukak Kedek (Kedek: kecil) yang berarti seseorang tersebut memiliki saudara yang lebih tua darinya yang di panggil juga dengan sebutan Pukak Khaja atau Pukak Mbellen (Mbellen: besar), atau Pukak Mbekheng karena seseorang tersebut memiliki kulit warna hitam (Mbekheng: hitam), dan pukak-pukak lainnya yang juga memiliki arti tersendiri.

Begitu juga dengan panggilan dari Nungkak itu sendiri seperti Nungkak Kedek, Nungkak Dakan. Selain itu ada penyebutan lain dengan di tambah awalan Cek yaitu Cek Nungkak. Meski samasama menggandeng sebutan Nungkak, namun keduanya memiliki arti yang berbeda. Cek Nungkak hanya ditujukan untuk panggilan seorang Ibu mertua kepada pekhmainnya (menantunya).

Selain itu panggilan Pukak dan Nungkak juga digunakan alam penyebutan “Duta Wisata” terpilih, namun hal ini belum diberlakukan dengan maksimal. Meski demikian makna Pukak dan Nungkak dalam kehidupan masyarakat Singkil sangat luas dan selayaknya dijaga oleh orang Singkil itu sendiri. Sebab ia adalah bagian dari kekayaan dalam sistem kekerabatan atau pertuturan orang Singkil. Predikat Pukak dan Nungkak diberikan secara khusus kepada laki-laki dan perempuan muda pilihan, tentunya dengan diseleksi terlebih dahulu. Pemilihan “Duta Wisata” yang iselenggarakan oleh Dinas Pariwisata daerah setempat tidaklah hanya mengandalkan tampan, gagah dan perkasa untuk laki-laki, kecantikan dan kemolekan tubuh untuk perempuan saja, akan tetapi juga memiliki kemampuan dalam bidang keilmuan, kecakapan, kualitas fisik dan kejiwaan. Dalam artian Pukak dan Nungkak yang terpilih haruslah cerdik trengginas. Serta yang cukup penting ialah menguasai budaya dan permasalahan daerah setempat.

Jadi, persyaratan untuk memperoleh predikat Pukak dan Nungkak Singkil, dia harus mampu menunjukkan kebolehannya dalam segala bidang. Di samping gagah dan tampan untuk Pukak, serta cantik dan molek untuk Nungkak, dia harus pintar dan cerdas. Harus tahu budaya asli Singkil, lancar menggunakan dialek Singkil, tahu sejarah atau seluk-beluk kelahiran kota sampai perkembangannya hingga sekarang dan lain sebagainya. Salah satu dari tugas dan fungsi staf Balai Bahasa Aceh adalah melakukan penelitian-penelitian dibidang kebahasaan dan kesastraan. Penelitian ini yang kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Balai Bahasa Aceh.

Buku ini merupakan salah satu dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Zainun & Iskandar Syahputera dengan tajuk Sikap Penggunan Bahasa Indonesia dan Implikasinya Terhadap Bahasa Daerah (studi kasus pada guru nonbahasa pada kajian sosiolinguistik). Penelitian ini betujuan untuk mengetahui atau mengukur tingkat sikap bahasa dari pengguna bahasa Indonesia atau penutur bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan guna mengetahui apakah sikap bahasa dari pengguna bahasa Indonesia tersebut apakah masuk dalam katagori positif atau negatif. Namun yang menarik dari buku ini bahwa penelitian yang dilakukan ini berusaha untuk melihat hubungan atau korelasi antara sikap pengguna bahasa Indonesia tersebut terhadap sikapnya dalam penggunaan bahasa daerah. Sehingga dengan membaca buku ini pembaca akan mengetahui apakah jika pengguna bahasa Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia juga akan memiliki sikap yang positif terhadap bahasa daerah? atau sebaliknya?.

Tentu pembaca akan memperoleh jawabanya pada pembahasan dan kesimpulan akhir dari buku ini. Buku dengan ketebalan 56 halaman ini sangat menarik untuk dibaca. Secara umum, isi dari buku ini sudah tergambarkan secara implisit pada halaman judul, yaitu pada anak judul. Anak judul tersebut mampu membawa pembaca untuk dapat memahami lebih cepat isi keseluruhan buku ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved