Membawa Taman Khas Eropa ke Tengah Kota

Hamparan bunga celosia yang tengah merekah menyambut pengunjung. Warna warni bunga tersebut telah

Membawa Taman Khas Eropa ke Tengah Kota
SERAMBI/ NURUL HAYATI
WARGA mengunjungi tempat wisata ‘Taman Celosia Beurawe Banda Aceh, Selasa (18/6). 

Hamparan bunga celosia yang tengah merekah menyambut pengunjung. Warna warni bunga tersebut telah ‘menyihir’ banyak mata. Sejak resmi dibuka pada Minggu (16/6), saban harinya tak kurang 200-an pengunjung mengalir ke tempat ini. Ya, itulah ‘Taman Celosia Beurawe’. Membawa konsep taman bunga khas Eropa ke tengah kota. Taman bunga seluas 2.000 meter yang berlokasi di Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, itu bukanlah yang pertama di Aceh. Sebelumnya, Celosia Garden yang berlokasi di Gampong Alue Piet, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, juga mengusung konsep serupa. Mendulang sukses wisata instagramable yang tengah digandrungi warga.

“Ide awalnya karena mama suka berkebun dan ini juga lahan keluarga. Jadi konsepnya wisata keluarga,” ujar Pengelola Taman Celosia Beurawe, Razik didampingi istrinya, Dina kepada Serambi, Selasa (18/6).

Ia menjelaskan, bibit tanaman tersebut didatangkan dari Lembang, Jawa Barat. Membutuhkan waktu sekitar 4 bulan masa tanam sebelum merekah. Dikembangkan dengan cara pembibitan menggunakan volibet. Bukan tanpa resiko, karena jenis tanaman ini harus beradaptasi dengan perbedaan suhu.

Selain rumpun bunga, di sini juga terdapat spot foto lain berupa aneka balon dan payung warna warni yang menaungi gerbang masuk. Sedangkan di tengah taman, menara dengan kincir angin di tengahnya menjadi maskot sekaligus menegaskan konsep yang diusung. Sementara di belakang taman, pagar beton dengan aksen ban yang dijejerkan menempel pada dinding. Ban warna warni itu terlihat kontras dengan dinding putih polos yang membatasi area taman dengan pemukiman warga.

Untuk masuk ke lokasi wisata ini, cukup membayar tiket masuk Rp 10.000 per orang untuk dewasa, Rp 5.000 untuk anak-anak, dan gratis bagi balita. Tempat ini buka tiap hari mulai pukul 09.00 -18.00 WIB dan pengunjung bebas berfoto sepuasnya. Kecuali jika hendak memakai properti foto seperti topi, payung, dan ayunan, maka dikenakan biaya tambahan Rp 5 ribu untuk masing-masing item. “Ke depan akan kita hadirkan inovasi baru berupa perluasan area untuk pondok-pondok bambu dan wahana bermain anak. Untuk saat ini, lahan yang masih kosong akan diperuntukkan bagi perluasan areal parkir,” imbuh Dina.

Ya, dunia pariwisata tengah menggeliat. Konsep objek wisata yang ditawarkan para pelaku usaha ini pun disambut hangat oleh warga. Keberadaan sosial media, tidak bisa dipungkiri menjadi layaknya ‘etalase’. Namun tentu tak lengkap rasanya mengagumi keindahan foto tanpa menyambangi.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved