Nyaris Picu Perang 2 Negara, Inilah Drone Pengintai RQ-4A Global Hawk Milik AS yang Ditembak Iran
Iran mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone mata-mata milik AS, pada Kamis (20/6/2019) pekan lalu,
Pesawat tanpa awak tersebut juga diklaim mampu terbang dalam segala kondisi cuaca selama lebih dari 24 jam setiap kalinya.
Dalam salah satu misi disebutkan, drone ini mampu menyajikan informasi intelijen secara rinci dari hasil pengawasan dan pengintaian real-time untuk area seluas lebih dari 100.000 kilometer persegi.
Drone pengintai ini juga telah menerima sertifikat kelaikan udara militer dari Angkatan Udara AS pada Januari 2006, sebagai bukti rekam jejak yang telah terbukti dari operasi yang dijalankan.
Drone AS Langgar Perbatasan

Salah satu komandan Garda Revolusi Iran menerangkan, keputusan mereka menembak drone Amerika Serikat (AS) merupakan respon yang "wajar" karena wilayah udaranya dilanggar.
Kepala Korps Pasukan Angkasa Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh berkata, mereka kini sudah mengoleksi drone itu sebagai bukti AS sudah melanggar wilayah Iran.
"Jika agresi seperti ini terus dilakukan, maka kami akan menambah lagi dengan drone lain AS untuk melengkapi koleksi kami," ancam Hajizadeh dikutip Russian Today Sabtu (22/6/2019).
Sementara Menteri Luar Negeri Mohammed Javaz Zarif mengunggah sebuah peta berisi koordinat di Twitter yang memperlihatkan bahwa drone AS itu berada di wilayah mereka.
Sebelumnya pada Kamis (20/6/2019), sistem pertahanan Iran menjatuhkan drone jenis RQ-4A Global Hawk yang dipunyai oleh Angkatan Laut AS di wilayah mereka.
Sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan drone itu dijatuhkan dari perairan internasional dan sempat menyebut Teheran melakukan "kesalahan besar".
Media AS memberitakan Trump memerintahkan serangan balasan dengan jet tempur sudah diterbangkan dan kapal perang di posisi.
Namun membatalkannya di 10 menit terakhir.
Hajizadeh menuturkan, dia meyakini ada salah satu jenderal AS yang berada di belakang agresi mereka.
"Masuknya drone ke wilayah kami adalah pelanggaran yang berbuntut respon normal," ucapnya.
Sementara juru bicara kementerian luar negeri Abbas Mousavi mengatakan mereka tidak akan membiarkan perbatasan mereka diterobos.