Lagi, Sidang Kasus Sabu 70 Kg Ditunda

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (2/7) kemarin, kembali menunda sidang kasus

Lagi, Sidang Kasus Sabu 70 Kg Ditunda
IST
Bob Rosman

LHOKSUKON – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (2/7) kemarin, kembali menunda sidang kasus penyelundupan sabu-sabu 70 kilogram dan ekstasi 3 kilo (sekitar 10 ribu butir) dari Malaysia ke Aceh. Penundaan ini menyusul empat petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) RI tidak bisa hadir.

Mereka terdiri dari Arvendra Nurcahyaji, Dendi Suasanto, Dwi Suryanti dan Sodikan. Ini merupakan penundaan yang ketiga kalinya. Karena, pada dua kali dua kali sebelumnya juga ditunda akibat saksi tak bisa hadir.

Kasus ini melibatkan empat pria dan satu wanita muda sebagai terdakwa. Masing-masing Ramli (55) narapidana asal Desa Calok Geulima, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Kemudian anaknya, Metaliana (28). Lalu, menantunya dan sekaligus suami Metaliana, Muhammad Zubir (28). Sementara dua tersangka lagi, Saiful Bahri alias Pon (29), dan Muhammad Zakir (23), keduanya warga Desa Seuneubok Baro, Kecamatan Idi Cut, Aceh Timur.

“Berdasarkan surat yang kami terima. Mereka tak bisa hadir karena sedang melaksanakan tugas dari Direktur Tindak Kejar,” ungkap Humas PN Lhokseumawe, Bob Rosman MH kepada Serambi, kemarin.

Surat bernomor B/158/VII/DR/PB/06.03/2019/BNN ditujukan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, tertanggal 1 Juli 2019, dengan perihal panggilan saksi untuk perkara tersangka Saiful Bahri dkk.

Menurut Bob Rosman, majelis hakim yang menangani kasus itu sudah membuat kembali penetapan jadwal sidang sebagai penegasan kepada jaksa. Di mana menghadirkan saksi pada dua pekan mendatang yaitu 16 Juli mendatang. “Majelis hakim menyampaikan penetapan jadwal secara tertulis kepada jaksa, bukan lagi dalam proses sidang,” ujar Humas PN Lhoksukon.

Diberitakan sebelumnya, BNN RI dan Bea Cukai menggagalkan upaya penyelundupan 72 kg narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi di Perairan Jambo Aye, Aceh Utara dalam sebuah operasi gabungan di Lhoksukon, Aceh Utara pada 10 Januari 2019. Dalam penelusuran terungkap kalau sabu dan ekstasi itu milik bandar besar bernama Ramli. Yakni napi asal Aceh yang ditahan di LP Tanjung Gusta, Medan.

Dari lima terdakwa yang terlibat dalam kasus itu, empat diantaranya sudah menjalani sidang perdana dengan pembacaan dakwaan. Sedangkan untuk terdakwa Ramli, baru menjalani sidang perdana pada Selasa (2/7) dengan agenda mendengar dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Harri Citra Kesuma SH. Sementara disidang dipimpin T Latiful SH, didampingi dua dua hakim anggota, Maimunsyah SH dan Fitriani SH.

“Saat empat terdakwa lain menjalani sidang perdana, Ramli sedang sakit. Sehingga, dia tak bisa menghadiri sidang. Karena agenda pembacaan dakwaan sudah selesai, untuk sidang lanjutan akan dilanjutkna dengan mendengar keterangan saksi bagi semua terdakwa,” ujar Bob Rosman.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved