Info Pendidikan Aceh Besar
SPT, Mencetak Hafiz yang Teknokrat
Selama ini, anak-anak kita memang pintar, tapi tidak banyak yang memiliki karakter. Anak-anak Aceh, termasuk Aceh Besar
SERAMBINEWS.COM,- Sejak dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar periode 2017-2022, Senin (10/7/2017), pasangan Ir Mawardi Ali dan Tgk H Husaini A Wahab, intens membenahi dunia pendidikan di Aceh Besar. Mawardi Ali dan Waled Husaini menginginkan 20 persen APBK Aceh Besar benar-benar dioptimalkan untuk melahirkan generasi yang memiliki aqidah kuat, beriman, dan cakap dalam berbagai urusan dunia. Mawardi dan Waled Husaini pun menggandeng para tokoh pendidikan Aceh Besar, untuk bersama-sama menjalankan Sistem Pendidikan Terpadu (SPT) di setiap jenjang pendidikan sekolah umum, SD, SMP, dan SMA. Salah satu focus dari pelaksanaan Program SPT ini adalah dengan menambah “Program Beasiswa Tahfizul Quran di SMP Negeri 3 Al Fauzul Kabir Kota Jantho”. Program yang diresmikan oleh Bupati Mawardi pada Minggu (14/7/2019) ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Aceh Besar untuk mencetak hafiz yang teknokrat (cendekiawan yang berkiprah dalam pemerintahan). Guna mengetahui lebih rinci tentang program SPT dan pelaksanaan Program Beasiswa Tahfiz Quran di Pesantren Al Fauzul Kabir, berikut kami turunkan hasil wawancara dengan Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali.
Apa yang mendasari Pak Mawardi dan Waled Husaini menerapkan Sistem Pendidikan Terpadu (SPT) di Aceh Besar?
Sejak pertama kali dilantik, kami ingin meletakkan pondasi arah pendidikan Aceh Besar ini ke depan. Karena selama ini pendidikan kita seperti sudah kehilangan arah.
Bicara tentang pendidikan anak, bukan cuma sukses dengan nilai yang diraih, tapi juga harus terbentuk karakternya. Selama ini, anak-anak kita memang pintar, tapi tidak banyak yang memiliki karakter.
Anak-anak Aceh, termasuk Aceh Besar, sama cerdasnya seperti orang Jepang, Cina, dan Amerika, dalam menguasai ilmu pengetahuan. Tapi karakter dia selaku orang Aceh yang beragama, belum muncul dengan sistem pendidikan saat ini.
Oleh karena itu, saya bersama MPD (Majelis Pendidikan Daerah) Aceh Besar menggagas sebuah sistem pendidikan. Saya katakan, kita punya sekolah umum, sekolah agama, dan juga dayah, nah bagaimana ketiga pendidikan ini kita padukan.
Sehingga dari ide itu lahirlah Sistem Pendidikan Terpadu (SPT). Dengan SPT ini kita terus mengenjot pendidikan reguler sama seperti nasional, namun di sisi lain kita memperkuat pendidikan agama dan karakter.
(Catatan: Aceh Besar menjadi satu dari tiga daerah yang telah menerapkan sistem pendidikan berkarakter secara menyeluruh. Dua daerah lainnya adalah, DKI Jakarta dan Yogyakarta)
Bisa Bapak jelaskan karakter dimaksud?
Karakter itu lebih kepada budi pekerti dan jati diri. Bukan cuma sopan dan cium tangan, tapi juga karakter lain. Misalnya dia rajin, jujur, berani menyampaikan pendapat, dan dapat dipercaya. Disamping itu dia juga harus memiliki ilmu agama yang bagus.
Jadi dengan Sistem Pendidikan Terpadu ini, nanti para siswa akan seperti sekolah berasrama (boarding). Mereka belajar pengetahuan umum, belajar agama, belajar akhlak. Tentu jam belajarnya juga akan lebih panjang.
Bagaimana programnya SPT ini dijalankan?
Program SPT ini sudah berjalan hampir 1,5 tahun, sejak 2018, meskipun belum semua sekolah menerapkan sistem SPT ini. Saat ini ada beberapa SD dan SMP yang dipilih oleh dinas untuk menjalankan program SPT ini.
Pada tahap awal ini kita memang terkendala dengan guru. Makanya kemarin kita buka seleksi untuk merekrut guru tahfiz dan diniyah, guna mendukung program ini. Mereka-mereka ini adalah gurunya khusus yang direkrut untuk mengajarkan pendidikan agama.
Bagaimana kesiapan SDM pengajar dan Disdik di Aceh Besar?
Di tahap pertama memang banyak kurang, tapi ini terus kita perbaiki, karena ini program prioritas Dinas Pendidikan Aceh Besar.
Di Dinas Pendidikan Aceh Besar sudah kita lakukan reformasi besar-besaran, orang orang yang memiliki jiwa pendidikan kita tarik. Demikian juga di sekolah, sudah kita tata dengan bagus SDMnya.
Secara nasional, yang sedang kita jalankan ini namanya pendidikan karakter, tapi di Aceh Besar kita namakan pendidikan terpadu yang mana pendidikan karakter ada di dalamnya.
Bagaimana kurikulum SPT ini dilaksanakan?
Kurikulum SPT nilai agama akan lebih banyak, menyangkut dengan tauhid, fiqih, dan akidah akhlak. Anak-anak diajarkan cara berwudhu dengan benar, demikian juga dengan shalat, zakat, dan lainnya, diajarkan dengan lebih jelas.
Termasuk juga diajarkan bagaimana ia membangun karakter dirinya, sopan santun dengan guru, orang tua, dan teman-temannya. Intinya kita menerapkan budi pekerti yang bagus, hubungan antara guru dan murid kurang lebih sama seperti di dayah yang benar-benar memuliakan gurunya.
Setiap hari, sebelum memulai pelajaran, para guru kelas dan siswa bersama-sama membaca doa dan membaca Alquran. Kalau hari Jumat membaca surat Yasin. Ini kan tidak ada dalam pendidikan standar nasional kita saat ini.
Kenapa terpikir menerapkan SPT ini?
Saya terkejut ketika membaca berita banyak calon mahasiswa yang ikut seleksi ternyata tidak tidak bisa membaca Alquran, bahkan pada Pemilu 2019 kemarin, ada 150 caleg DPR Aceh yang gugur pada tahap uji baca Alquran. Ada apa ini? Mau kemana nanti arah kita ke depan? Makanya ini harus kita perbaiki.
Untuk diketahui, memperbaiki pendidikan tak seperti memperbaiki gedung dan jalan, yang langsung nampak dilihat hasilnya. Kalau pendidikan kan butuh waktu. Dalam kampanye dulu, saya katakan “saya orang kampus, wakil (Waled Husaini) orang dayah, nah kita harus bisa membangun karakter anak-anak kita ini menjadi bagus.”
Mengenai Pesantren Al Fauzul Kabir, apakah ini bagian dari Program SPT yang dijalankan Pemkab Aceh Besar?
Iya benar, Fauzul Kabir merupakan bagian dari program SPT Aceh Besar. Ini adalah sekolah tahfiz, kami berharap pada masa kepemimpinan kami ini setidaknya mampu melahirkan satu hafiz di setiap gampong.
Jadi program ini bukan hanya untuk anak yang berprestasi, anak yatim, atau orang miskin. Tapi santrinya harus menjadi representatif yang mewakili gampong-gampong di Aceh Besar, setiap gampong (desa) mengirim satu calon santri.
Kita akan mendidik anak-anak ini agar mampu bersaing untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Mau kuliah, mau jadi insinyur, mau jadi dokter silahkan, yang penting kita sudah bekali mereka dengan ilmu Alquran dan karakter, paling kurang kalau pulang kampung jadi imam di kampungnya. Imam yang kita inginkan bukan hanya sekedar memimpin shalat, tapi juga menjadi tempat bertanya bagi orang-orang kampung.
Memang setelah tamat sekolah tahfiz di Fauzul Kabir mereka belum siap kita turunkan ke kampung, mereka harus belajar lagi, seperti belajar kitab kuning di pesantren. Jadi selama sekolah tahfiz ini mereka free, gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Semuanya akan ditanggung oleh Pemkab Aceh Besar.
Di Aceh Besar ini banyak pesantren terpadu dan dayah, tapi kenapa masih perlu Fauzul Kabir?
Benar, saat ini memang banyak pesantren dan dayah terpadu di Aceh Besar, tapi karena punya yayasan atau perorangan, tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon santri. Biasanya untuk masuk sekolah tahfiz itu berat, harus bersaing dengan anak-anak perkotaan dari seluruh Aceh, yang sejak SD sudah terbiasa dengan sistem pendidikan terpadu. Memang sekolah tahfiz itu berada di Aceh Besar, tapi santrinya berasal dari seluruh Aceh, sehingga lulusannya juga akan mengabdi untuk daerah masing-masing.
Maka, Fuzul Kabir hadir untuk memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak kampung dari seluruh desa di Aceh Besar agar bisa belajar di sekolah tahfiz. Jadi nanti yang masuk ke Fauzul Kabir ini bisa saja nilainya nol, bahkan minus, karena mereka berasal dari desa di pedalaman atau di kepulauan.
Karenanya, seluruh santri Fauzul Kabir ini adalah anak-anak dari seluruh Aceh Besar. Saat lulus nanti, mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan mengabdi untuk daerah kelahirannya di Aceh Besar. Kita boleh lalai, karena kalau sekarang tidak segera kita benahi, maka 10 tahun lalu, kita akan menangis saat melihat generasi kita.
Bagaimana cara rekrutmen calon santri?
Santri di sini (Fauzul Kabir) merupakan representatif desa, dikirim oleh keuchik boleh, camat boleh atau mendaftar sendiri juga boleh. Tahap ini sudah ada sekitar 100 orang santri yang sudah mendaftar, meskipun dalam 100 ini ada yang double (ganda atau berasal dari satu daerah yang sama). Tapi kita terima dulu lah sampai sekolah itu sudah menjadi sekolah favorit di Aceh Besar.
Bagaimana cara membuat pendidikan Fauzul Kabir berkualitas?
Kita merekrut guru-guru yang bagus untuk mengajar ke Fauzul Kabir, malah yang mau tinggal di sekolah, akan kita sediakan fasilitas. Saya sudah lihat, fasilitasnya, asramanya sangat bagus.
Komitenya juga kita rekrut dari sekolah-sekolah tahfiz di Aceh Besar seperti Oemar Diyan, MUQ, Insan Qurani, dan lainnya. Saya panggil ayo bangun ini yang pemerintah punya, demi masyarakat kita Aceh Besar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bupati-aceh-besar-ir-mawardi-ali-meresmikan-program-beasiswa-tahfizul-quran.jpg)