Jurnalisme Warga

Gontor, Eksotisme yang Mendunia

INI perjalanan panjang menggunakan berbagai moda transportasi: pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta

Gontor, Eksotisme yang Mendunia
IST
Dr. SRI RAHMI, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Gontor Putri Mantingan, Ngawi, Jawa Timur

OLEH Dr. SRI RAHMI, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Gontor Putri Mantingan, Ngawi, Jawa Timur

INI perjalanan panjang menggunakan berbagai moda transportasi: pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta, lanjut kereta api Jakarta ke solo, beralih naik becak menuju Terminal Bus Solo untuk seterusnya melanjutkan perjalanan naik bus menuju Pesantren Gontor Putri Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. Rangkaian perjalanan yang memiliki cerita mengesankan.

Pesantren yang didirikan oleh tiga sekawan--ulama besar yang dikenal dengan julukan Trimurti--ini benar-benar bikin takjub mata dunia. Berornamen mewah, megah, luas, dan terletak di jalan nasional Solo-Surabaya, membuat Pesantren Gontor menjadi pusat perhatian setiap orang yang melintas.

Berada di lingkungan Gontor Putri untuk mengantarkan anak ikut ujian masuk salah satu pesantren legend di Pulau Jawa, membuat saya memahami kehidupan pesantren yang masih terjaga sampai kini. Di zaman modern seperti saat ini dan di tengah banyaknya hadir sekolah bertaraf internasional, ada rasa haru dan kagum menghinggapi sanubari saat mengetahui bahwa jumlah calon santri yang mendaftar di pesantren ini 3.407 orang! Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada juga yang datang dari Belanda, Arab Saudi, Malaysia, Jepang, dan Amerika. Sungguh, sebuah eksotisme (keistimewaan atau kehebatan) yang mendunia.

Jujur, saya benar-benar yakin bahwa Gontor layak menjadi ikon pesantren terkenal dan besar di Indonesia, bahkan di dunia. Dengan berprinsip membangun disiplin waktu, disiplin pekerjaan, dan disiplin kebersihan, membuat Pesantren Gontor dari waktu ke waktu tetap menjadi incaran para orang tua yang ingin karakter anaknya terbentuk dengan baik.

Kedisiplinan tersebut diwujudkan dalam peraturan yang ditetapkan oleh pihak pengelola pesantren. Untuk membuat setiap anak sama dan tak ada perbedaan strata ekonomi orang tua, maka setiap anak dibatasi hanya boleh membawa enam potong pakaian formal yang tidak bermerek dan tidak bermodel. Yang paling menarik bagi saya adalah pesantren ini tetap menjaga kenyamanan dan perasaan hati anak-anak yang tak pernah dikunjungi oleh orang tuanya karena alasan jarak. Di Gontor disediakan pintu kecil (bukan gerbang utama) tempat santriwati ke luar jika ada orang tua yang datang menjenguk. Si anak akan ke luar melalui pintu tersebut setelah terlebih dahulu dipanggil oleh piket merangkap resepsionis. Cara seperti ini membuat jiwa anak-anak yang tak pernah dikunjungi tetap terjaga dan tidak sedih hati karena sesama mereka pun tak pernah tahu siapa yang dikunjungi oleh orang tuanya.

Pelajaran bagi ortu
Ada perbedaan signifikan yang saya rasakan dengan sistem yang diterapkan Pesantren Gontor dibandingkan pesantren-pesantren lainnya di Indonesia. Jika sebagian besar pesantren yang ada di negeri ini melakukan beberapa tahapan dalam penjaringan santriwati, maka Pesantren Gontor menggabung semuanya dalam satu kesempatan. Sistem yang ada di Gontor adalah saat si anak kita daftarkan untuk mengikuti ujian masuk, maka si anak sudah harus masuk ke asrama yang dibagikan oleh panitia penerimaan santriwati baru. Sejak saat itu kita selaku orang tua (ortu) langsung dipisahkan dengan anak. Saya ditempatkan di “Bapenta” (ruang tamu bagi orang tua), sedangkan anak berada di pesantren dengan pengawasan dan aturan yang telah ditetapkan sebagaimana santriwati lainnya.

Anak langsung diminta beradaptasi dengan teman sebayanya agar tidak canggung dalam mengikuti ujian masuk pesantren. Anak juga langsung dibatasi interaksinya dengan orang tua yang masih menunggu dan hanya bisa menjumpai pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan agar jika si anak lulus dan diterima, ia sudah terbiasa berpisah dengan orang tuanya.

Dari beberapa orang tua santriwati saya mendapat cerita bahwa ada di antara mereka yang telah berada di lingkungan Pesantren Gontor sejak bulan Ramadhan. Bahkan salah seorang orang tua asal Sorong, Papua mengatakan, karena mahalnya harga tiket pesawat, maka dia dan anaknya merayakan Lebaran Idul Fitri di lingkungan Pesantren Gontor karena tak memungkinkan untuk bolak- balik untuk ikut ujian.

Ternyata, jika sudah mulai masuk masa pendaftaran santriwati baru, penginapan di dalam pondok tidak memungkinkan lagi menampung jumlah orang tua santriwati, bahkan rumah penduduk sekitaran pondok pun disulap menjadi tempat penginapan. Beberapa keluarga yang berasal dari Pulau Jawa, dengan kendaraannnya membawa tenda untuk menginap di lingkungan Pesantren Gontor.

Sistem ini juga yang bisa menjadi pelajaran bagi orang tua bahwa tidak mudah untuk memperoleh pendidikan yang bagus bagi anaknya. Butuh perjuangan ekstra bagi para orang tua agar bertahan dan tidak mengeluh dengan berbagai kondisi yang dihadapi saat mendampingi anaknya. Orang tua diajarkan sabar, menaati aturan yang telah dibuat dan yang paling sulit adalah belajar ikhlas dengan segala keadaan yang ada di dalam pesantren tentunya berbeda dari kehidupannya sehari-hari.

Memiliki peradaban
Dalam sejarahnya,Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mempunyai sistem pendidikan islami yang diturunkan dari generasi ke generasi, itulah pesantren. Banyak pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh sentral pada masa perjuangan kemerdekaan atau pun pada masa kini. Sistem pendidikan pesantren tidak dapat dipungkiri merupakan hasil asli dari peradaban Nusantara, mempunyai sistem asrama, kiai sebagai sentral figurnya, dan masjid merupakan sentral kegiatannya, santri (murid) di dalamnya belajar selama 24 jam.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan di pesantrenlah yang nantinya akan memberi efek yang sangat besar bagi sebuah komunitas, seperti halnya yang terjadi di Jepang saat ini, tidak ditemukan kemacetan pada hari-hari kerja, setiap orang berdisiplin waktu dan mendisiplinkan dirinya dalam transportasi. Untuk membentuk sebuah kepribadian seperti itu, bukanlah perkara mudah dan sebentar. Mendisiplinkan dirinya selama 16 tahunlah yang membentuk masyarakat Jepang berdisiplin.

Berada di pesantren bertahun-tahun dalam kondisi yang baik diharapkan cukup untuk membentuk pribadi yang baik. Maka lingkungan yang baik ini akan membentuk pribadi yang baik pula, ini yang dipahami dan coba secara turun-temurun dilaksanakan di Pesantren Gontor.

Sebelum meninggalkan Gontor untuk kembali ke rumah masing-masing, Kiai Sahal sebagai Pimpinan Pusat Pesantren Gontor memberikan arahan bahwa orang tua yang mengantarkan anaknya ke Gontor hendaknya memiliki filosofi: tega, ikhlas, tawakal, ikhtiar, dan percaya. Filosofi ini yang membuat langkah kaki orang tua menjadi ringan saat meninggalkan pesantren. Lebih lanjut Kiai Sahal mengatakan juga bahwa di pesantren ada keselarasan dua tujuan pendidikan, yaitu mentalitas dan keilmuan. Murid-murid di pesantren berasrama dididik untuk membentuk karakter dan keilmuan yang kuat yang akhirnya setamat dari pesantren ia memiliki motivasi yang kuat untuk menghadapi situasi terburuk sekalipun. Dengan asas tauhid yang diajarkan di pesantren, diharapkan seseorang akan menjadi pribadi yang baik. Maka tidak berlebihan jika pesantren merupakan pilihan utama bagi putra-putri bangsa Indonesia untuk membangun dasar yang kuat, sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki peradaban dan beradab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved