Jurnalisme Warga
Diam-Diam Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Jadi Ancaman
Selama ini, kita mengira plastik hanya berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari lingkungan. Namun kenyataannya
MIRDA MASTURA, Staf Sekretariat Rumah Sakit Mulia Raya, alumnus UBBG, melaporkan dari Peudawa, Aceh Timur
Selama ini, kita mengira plastik hanya berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari lingkungan. Namun kenyataannya, sebagian plastik justru kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak terlihat. Melalui makanan, minuman, dan udara yang kita hirup, partikel kecil bernama mikroplastik diam-diam masuk ke dalam tubuh manusia.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk yang paling banyak
terpapar mikroplastik. Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 15 gram per bulan, angka yang
menunjukkan betapa dekatnya paparan ini dengan kehidupan kita sehari-hari.
Kondisi ini tidak terlepas dari kebiasaan hidup yang serbapraktis. Penggunaan plastik sekali pakai masih sangat tinggi, mulai dari kantong belanja, kemasan makanan, hingga wadah minuman.
Tanpa disadari, kebiasaan ini menjadi pintu utama masuknya mikroplastik ke lingkungan dan akhirnya kembali ke tubuh manusia.
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil (nano), umumnya kurang dari 5 milimeter.
Partikel ini berasal dari benda-benda berbahan plastik di sekitar kita yang mengalami kerusakan, pelapukan, atau gesekan seiring waktu. Artinya, plastik yang kita gunakan tidak benar-benar hilang. Ia hanya terurai menjadi bagian yang lebih kecil dan semakin sulit terlihat, lalu tanpa disadari dapat masuk ke dalam tubuh manusia.
Sumber mikroplastik ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Wadah makanan dan minuman sekali pakai, seperti ‘paper cup’ atau kemasan plastik, dapat melepaskan partikel kecil
terutama saat terkena panas. Peralatan dapur seperti talenan plastik juga dapat terkikis seiring waktu dan menghasilkan serpihan mikroplastik yang menempel pada makanan.
Selain itu, pakaian dari industri ‘fast fashion’ berbahan polyester, nilon, dan spandex juga menjadi sumber mikroplastik yang sering tidak disadari.
Dalam satu kali pencucian, pakaian jenis ini bahkan dapat melepaskan hingga sekitar 700.000 partikel mikroplastik.
Temuan ini sejalan dengan pengamatan sampel air di sekitar pabrik tekstil yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Indonesia Baru. Hasilnya menunjukkan bahwa limbah tekstil dan proses pencucian kain sintetis melepaskan jutaan serat mikroplastik ke saluran air. Serat ini kemudian menyebar ke lingkungan dan kembali ke manusia melalui udara maupun rantai makanan. Fenomena ini bahkan telah terdeteksi di udara.
Laporan Mongabay Indonesia pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa hujan di Jakarta mengandung mikroplastik. Dalam laporan tersebut, peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan bahwa setiap sampel air hujan yang diteliti mengandung partikel mikroplastik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MIRDA-MASTURA-OKE-BARU.jpg)