Jejak Sang Legenda
Kisah PMTOH, Bus Asal Aceh yang Sering Dikenal dengan Sebutan
Publik delama ini henya mengetahui bahwa PMTOH singkatan Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Tak banyak yang tahu, bahwa PMTOH adalah akronim lain dari "Pak Minta Tolong Ongkos Habis."
Ini diceritakan Jumadi Hamid sambil tertawa.
"Karena, sering kali masyarakat naik PMTOH tak ada ongkos atau tak cukup ongkos. Baik di Aceh maupun luar Aceh. Ada mahasiswa dan sebagainya. Bapak saya tidak pernah melarang kalau ada kasus seperti itu. Dan itu banyak sekali," kata Jumadi.
Publik delama ini henya mengetahui bahwa PMTOH singkatan Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan.
Hasan adalah pendiri dan kakek dari Jumadi Hamid.
Salah seorang mahasiswa Aceh yang pernah naik PMTOH tanpa bayar karena tak ada ongkos adalah Dedi Kalee.
Ia kuliah di Yogyakarta.
Pulang ke Banda Aceh, tak ada ongkos, tapi tetap bisa pulang kampung dengan menumpang PMTOH dari Yogyakarta.
Dedi juga pernah pulang ke Banda Aceh dengan membantu sopir bisnya.
Pilihan Redaksi
Kisah PMTOH, Bus Aceh Pertama yang Trayeknya Tembus ke Pulau Jawa
Ini Penampakan 3 Km Jalan Tol Banda Aceh-Sigli yang Sudah Dicor Beton, Lokasinya Mulai Desa Pakuk
FOTO-FOTO : Mantan Bupati Simeulue, Darmili Tertunduk Lesu Saat Ditahan Penyidik Kejati Aceh
"Nama supirnya Bang Adek orang Medan. Paling tidak sudah gratis dapat makan dan silaturrahmi dengan beliau berjalan baik. Karena juga sering kirim paket barang ke Aceh," kenang Deddi.
Deddi Kalee kini dosen di ISBI Aceh.
Ia mengaku tidak hanya sekali pulang menumpang PMTOH karena tak ada uang.
"Sering bang. Maklum saya kan mahasiswa. Kantong tipis," kenang Dedi Kalee.
Ia memuji PMTOH sebagai bus perjuangan mahasiswa dan memiliki peran sosial sangat tinggi.
Jumadi Hamid menceritakan, ia dilarang ayahnya menolak penumpang yang tak ada ongkos atau yang tak cukup ongkos.
"Dulu saya protes, prihal kebijakan ini. Tapi saya kemudian mengerti. Dan sekarang giliran saya diprotes anak saya, sebab meneruskan kebijakan ayah saya. Semoga kelak anak saya juga akan mengerti," ujar Jumadi Hamid.
Ia tidak menampik, ada kalangan masyarakat menjuluki PMTOH sebagai bus perjuangan.
"Mungkin karena peran sosial seperti itu tadi. Tapi itu terserah kepada masyarakat saja," ujar Jumadi.
Saat ini PMTOH memiliki 50 unit armada.
Berita Seleb
Pamer Lamborghini dan Barang Mewah di Medsos, Selebgram Ini Ditangkap atas Dugaan Pencucian Uang
Raffi Ahmad Jadi Salah Satu Selebriti Paling Kaya, Pada Awal Karir Honor yang Didapat Rp 500 Ribu
Cantiknya Gadis Aceh Ini Bak Boneka, Kini Jadi Selebgram dan Banjir Endorse
Jauh di bawah perusahaan bus lainnya yang ada di Aceh.
"Tapi kami pelan-pelan menyesuaikan diri. Beli bus baru seharga 2-3 miliar, sulit bagi kami menutupinya apabila mengandalkan penumpang," ujar Jumadi.
Ia berharap ekonomi Aceh bisa meningkat naik.
Sehingga mendorong kemajuan angkutan darat.
"Dulu saat era industri Aceh Utara, sehari bisa 30 bus ke Medan. Sekarang sepi. Semoga ekonomi Aceh bergerak lagi, dan itu harus diusahakan secara bersama," katanya.(*)