Citizen Reporter

Melihat Dubai, Sisi Lain Ekonomi Dunia

Ditemani seorang staf lokal, Konsul Jenderal RI di Dubai, Mutia Safrida--putri Aceh adik kelas saya sewaktu kuliah

Melihat Dubai, Sisi Lain Ekonomi Dunia
IST
DR. DAMANHUR, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh, Aceh Utara dan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Lhokseumawe, melaporkan dari Dubai

Kota yang mempekerjakan 200 suku bangsa dari seluruh penjuru dunia ini mampu membangun infrastruktur yang tidak tertandingi dan merupakan tempat berdirinya beberapa gedung pencakar langit, rumah sakit, dan jalan raya paling mengesankan di dunia.

Dubai berupaya membuat beberapa ikon infrastruktur yang dapat dijadikan destinasi wisata, seperti Burj al-Arab yang terkenal dengan pertandingan tenis di atas lapangan helipad yang dikuti oleh atlet peringkat teratas dunia, seperti Federer dan Djokovic.

Sedangkan Burj al-Khalifah merupakan bangunan yang tertinggi di dunia yang dihiasi dengan cahaya pada malam hari. Pengunjung dapat menikmati makan malam di sekitaran Burj dengan menyaksikan simfoni air terjun ditambah dengan permaninan cahaya yang membuat suasana makan malam Anda lebih berkesan.

Selain itu terdapat juga Dubai Frame, bangunan yang menjulang tinggi mirip bingkai foto, lantai atasnya dilapisi dengan kaca sehingga pengunjung bisa melihat dari atas pemandangan ke bawah dengan jelas. Wisatawan yang mempunyai trauma ketinggian sangat tidak dianjurkan untuk menikmati Dubai Frame ini.

Di sisi lain, rakyatnya sangat mencintai Syeik Muhammad sebagai Raja Dubai, karena kepeduliannya terhadap rakyat. Kebutuhan hidup rakyat menjadi prioritas sang Raja, sehingga rakyat tak terbebani oleh kebutuhan pokok, baik listrik, air, dan minyak, karena harganya sangat terjangkau. Ini yang membuat kecintaan rakyat terhadap rajanya sangat mendalam.

Jika dibandingkan aspek keindahan alam semata, jauh lebih kaya dan menarik Aceh dibandingkan Dubai. Misalnya saja pantai Jumeirah, lautnya biasa saja, tapi fasilitas hiburan untuk wisatawan semuanya tersedia, mulai dari kapal yacht, balon udara yang ditarik dengan speedboad, jetsky, dan flyboard. Kalaulah pantai di Sabang atau Lampuuk menyediakan fasilitas seperti ini tentu nilai jualnya lebih baik daripada pantai Jumeirah.

Semoga kita mempunyai perhatian khusus untuk mengembangkan wisata halal dengan beberapa kelebihan sumber daya alam yang telah Allah anugerahkan kepada kita dan menjadikan Aceh sebagai halal destination. Gelar halal bukan hanya sekadar diraih dari polling internet, melainkan harus ada aksi yang dibarengi dengan kesadaran pemimpin untuk menyejahterakan masyarakat dengan berkembangnya wisata halal, bahkan wisata syariah di Bumi Serambi Mekkah ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved