Rumah Wartawan Terbakar
Misteri Pria Tinggi Besar, Di Balik Kebakaran Rumah Wartawan Serambi di Aceh Tenggara
Rumah milik Asnawi Luwi (38), wartawan Serambi Indonesia di Aceh Tenggara (Agara), Selasa (30/7) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB
BANDA ACEH - Rumah milik Asnawi Luwi (38), wartawan Serambi Indonesia di Aceh Tenggara (Agara), Selasa (30/7) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB, musnah terbakar. Empat hari menjelang musibah itu, seorang pria tak dikenal berpostur tinggi besar sempat singgah di rumah yang berlokasi di Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-gala, tersebut sambil menanyakan keberadaan Asnawi.
Informasi tentang sosok pria yang digambarkan tinggi besar tersebut dilaporkan Lisnawati (36), istri Asnawi, menjawab Serambi, kemarin. Menurut Lisnawati, pada Jumat (26/7) pagi sekitar pukul 09.30 WIB, seorang pria yang mengendarai sepeda motor dinas--menurutnya mirip pelat kendaraan dari salah satu institusi--terlihat mengamati rumahnya dari sisi kiri dan kanan. Waktu itu, sebut Lisnawati, di rumah dirinya bersama tiga anak dan seorang pembantu.
“Seorang anak saya keluar. Saya mengitip dari balik jendela untuk memastikan siapa pria di luar,” kata perempuan asal Montasik, Aceh Besar yang sehari-hari bertugas sebagai bidan desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala. “Saya bertanya, Bapak cari siapa?” kata Lisnawati mengutip komunikasinya dengan orang tak dikenal itu. Orang yang berpakaian preman itu, menurut Lisnawati, balik bertanya, “ada Pak Asnawi?”
“Saya bilang Pak Asnawi sedang di Banda Aceh rapat. Apa ada yang mau bapak titip pesan biar saya sampaikan. Atau kalau penting sekali hubungi saja ke nomor hp beliau, apa Bapak ada nomor hp-nya?” timpal Lisnawati sambil memberikan nomor hp Asnawi karena menurut orang tersebut dia tidak punya nomor Asnawi.
Setelah dialog singkat itu, laki-laki yang berbicara dengan Bahasa Indonesia namun logat Alas tersebut langsung pamit. Lisnawati mengaku tidak pernah melihat orang itu di Kecamatan Lawe Sigala-gala padahal dia sering keluar masuk kampung sebagai bidan desa. “Saya yakin orang itu bukan orang sini, tapi dari kota (maksudnya Kutacane, ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara-red),” ujar Lisnawati. Jarak antara Desa Lawe Loning Aman dengan Kutacane sekitar 28 km sedangkan ke Lawe Pakam, perbatasan Sumut-Aceh berjarak 7 km.
Ditanya apa kira-kira permasalahan yang dihadapi suaminya hingga ada dugaan memunculkan kemarahan pihak-pihak tertentu, menurut Lisnawati dia tidak tahu karena suaminya hampir tak pernah cerita kalau menyangkut pekerjaan. “Tapi suami saya sering menyampaikan kurang nyaman bertugas di Aceh Tenggara,” ungkap Lisnawati.
Mengenai kedatangan pria tak dikenal itu ke rumahnya, Lisnawati mengaku sudah memberitahukan kepada sang suami, saat suaminya kembali dari Banda Aceh pada Senin (29/7). “Saya juga tidak kenal dengan orang dengan ciri-ciri yang disampaikan istri saya. Tak ada juga telepon yang masuk dari nomor tertentu,” kata Asnawi ketika melaporkan kronologis kasus itu kepada Serambi, malam tadi.
Berkacamata hitam
Dugaan bahwa rumah Asnawi bukan terbakar (tapi dibakar) dikuatkan dengan keterangan warga setempat. Menurut warga, beberapa orang asing mendatangi rumah itu dalam kesempatan berbeda sebelum kebakaran tersebut terjadi. Muslim, abang Asnawi, kepada Serambi, kemarin mengatakan, sebelum kejadian itu, ada warga yang sempat melihat seorang pengendara sepeda motor menggunakan helm serta kaca mata hitam, memasuki lorong rumah korban. Namun, warga tersebut tak menaruh curiga terhadap orang tersebut. Dijelaskan, api berasal dari garasi mobil yang berdinding triplek. Kemudian, api menyambar bagian depan rumah.
Korban meyakini rumahnya dibakar OTK terkait dengan pemberitaan yang sebelumnya dimuat di Serambi Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, Aswani sering memberitakan kasus Galian C dan illegal logging di lokasi PLTMH Lawe Sikap. “Sebelumnya ada seseorang mendatangi rumah korban dan meminta nomor Hp Asnawi dari istrinya. Orang itu menggunakan sepeda motor dinas,” pungkas Muslim yang menguatkan dugaan tersebut.
Peristiwa itu memunculkan keprihatinan berbagai kalangan, seperti aktivis sosial dan kemanusiaan, pekerja pers, aktivis antikorupsi, aktivis lingkungan, dan berbagai kalangan lainnya. Semua pihak mendesak agar polisi bergerak cepat mengusut kasus yang mereka nilai sebagai bentuk teror kepada pekerja pers. Lembaga/organisasi yang menyampaikan sikap antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI), PWI, Koalisi NGO HAM Aceh, Walhi, anggota DPD-RI, anggota legislatif, Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Forum PRB Aceh, dan sejumlah elemen sipil lainnya.(nas/c40)
Polisi Periksa Enam Saksi
Blangkejeren - Kapolres Aceh Tenggara (Agara), AKBP Rahmad Hardeni Yanto Eko Putra SIK, berjanji dan komit untuk mengusut tuntas kasus kebakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia di Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Agara, Selasa (30/7) dini hari WIB.
Menurut Kapolres, pihaknya akan menurunkan tim forensik dari Medan dan tim dari Polda Aceh untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait kejadian tersebut. “Sampai saat ini, kita sudah periksa enam warga setempat sebagai saksi terkait kasus kebakaran itu,” ujar AKBP Rahmad Hardeni.
Kapolres mengungkapkan, dirinya yang pertama kali mengetahui kejadian itu setelah dikabari oleh korban (Asnawi-red) dan meminta bantuan agar mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi rumahnya. Sehingga, saya bersama anggota lain langsung turun ke lokasi. Saya bersama anggota dan sejumlah warga sampai pukul 05.00 WIB pagi masih berada di tempat kejadian,” jelas Kapolres.
Agar segera terungkap siapa pelaku dan apa motifnya, AKBP Rahmad Hardeni meminta bantuan dan dukungan dari semua elemen masyarakat untuk melapor ke pihaknya jika ada informasi baru yang terkait dengan kejadian tersebut.(c40)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rumah-wartawan-serambi-asnawi-luwi-tinggal-puing-setelah-terbakar.jpg)