Jurnalisme Warga

Memaksimalkan Potensi Wisata Sejarah di Pesisir Pantai Aceh

Bagi saya Aceh adalah lumbung sejarah dengan situs-situs peninggalan masa lampau yang masih dapat kita temukan di berbagai pelosok wilayah ini

Memaksimalkan Potensi Wisata Sejarah di Pesisir Pantai Aceh
IST
Guru SMA 2 Seulimeum, Aceh Besar, perajin karya sastra berupa cerpen novel dan puisi, melaporkan dari Aceh Besar

FARIZAL SIKUMBANG, Guru SMA  2 Seulimeum, Aceh Besar, perajin karya sastra berupa cerpen novel dan puisi, melaporkan dari Aceh Besar

Bagi saya Aceh adalah lumbung sejarah dengan situs-situs peninggalan masa lampau yang masih dapat kita temukan di berbagai pelosok wilayah ini. Peninggalan tersebut dapat berbentuk bangunan yang menyerupai benteng, batu-batu nisan, keramik,  bahkan mesjid tua. Namun, peninggalan-peninggalan sejarah tersebut ada yang kurang terawat, bahkan ada terlupakan begitu saja.  Saya rasa sudah sepantasnyalah sebagai pewaris sejarah dari tuan-tuan budiman orang-orang terdahulu kita  untuk menjaga dan memelihara peninggalan tersebut. Seorang politikus dan filusuf Ingris  Edmund Burke (1729-1792) berujar dan mengingatkan generasi berikutnya bahwa sejarah adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal, mereka yang masih hidup, dan mereka yang belum dilahirkan. Seperti ada konsensus atau kesepakatan apakah itu bermakna untuk melanjutan sejarah atau untuk menjaga  dan merawat sejarah itu sendiri. Tapi apa pun ceritanya, merawat bukti-bukti peninggalan sejarah adalah sebuah keharusan, agar anak cucu kita kelak tidak melupakannya. Soekarno, Presiden Indonesia  bahkan pernah bersuara lantang akan hal ini,”Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Berbicara perihal kedigjayaan Aceh tentu kita tak boleh melupakan sosok Iskandar Muda. Kesultanan Aceh di bawah kepimpinannya pada kurun 1607-1636  mengalami masa keemasan. Ini tidak hanya mengacu pada sosok kepemimpinannya tapi juga dari segi kekuatan armada perangnya yang sangat disegani dan tangguh. Dalam catatan sejarahnya armada Iskandar Muda pernah memukul mundur kapal-kapal Portugis di Selat Malaka. Tidak itu saja kesultanan Aceh juga mampu meluaskan daerah jajahannya hingga pulau-pulau Sunda, yakni Jawa, Kalimantan, dan beberapa daerah di wilayah semenanjung Melayu. Selain itu kesultanan Aceh juga telah menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain, seperti Turki.

Bukti-bukti peninggalan sejarah yang ada di Aceh tentulah tidak berupa pada masa Islam berkembang di Aceh dengan masa kejayaan di bawah pemerintah Sultan Iskandar dan setelahnya, tapi jauh sebelum Iskandar Muda memerintah. Hal ini dapat mengacu pada bukti peningalan pada masa  Hindu-Budha di wilayah Lamreh, di daerah Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar serta Benteng Indra Patra peninggalan Hindu-Budha di Ladong, Krueng Raya, Aceh Besar. 

Saya hampir setiap hari menyusuri pantai pesisir Aceh, yang membentang dari pantai Ujong Batee hingga pesisir Krueng Raya. Dalam perjalanan tersebut acap kali mata saya tertuju pada bukti-bukti sejarah yang tertinggal  di seputaran daerah tersebut. Bukti sejarah masa lalu yang pertma saya temukan menyusuri pesisir pantai tersebut adalah Benteng Indra Patra. Benteng ini benteng peninggalan pada masa agama Hindu-Budha. Benteng ini digambarkan juga sebagai Trail Aceh Lhee Sagoe,  yang bentuknya  segi tiga menghubungkan tiga benteng besar. Benteng utamanya seluas 4900 meter persegi. Didirikan pada posisi yang strategis jauh sebelum Islam masuk ke Aceh di tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya dari India yang melarikan diri dari pengejaran bangsa Huna.

Lalu yang kedua adalah Benteng Iskandar Muda yang terletak di Desa Brandeh, Krueng Raya. Benteng ini sendiri dibangun oleh Iskandar Muda pada abad ke-16 dalam upayanya melindungi wilayah Aceh dari serangan Belanda dan Portugis. Salah satu sejarah yang tercatat  mengenai benteng ini adalah ketika Laksamana Malahayati menggunakan benteng ini untuk menghadang laju  armada Portugis yang datang dari Selat Malaka.

Yang ketiga adalah peninggalan sisa Kerajaan Lamuri di desa Lamreh, Krueng Raya. Di Desa Lamreh ini ditemukan makam-makam tua dan alat-alat rumah tangga pada masa Kerajaan Lamuri. Kerajaan Lamuri yang hidup pada masa Hindu ini  diyakini sebagai kerajaan tertua di Aceh dan merupakan cikal bakal berdirnya kerajaan Aceh Darussalam.  Kerajaan Lamuri diyakini pula sudah ada jauh sebelum adad ke-13.

Dari gambaran situs-situs sejarah yang terdapat di pesisir pantai Aceh tersebut jika kita telusuri lebih jauh perihal sejarahnya tentu akan membuat kita takjub dan bangga  bahwa Aceh memiliki sejarahnya penuh gilang gemilang. Namun, perlu juga saya sampaikan perihal animo dan minat masyarakat untuk mengetahui apalagi untuk mengunjungi tempat itu sangatlah minim atau boleh dikatakan tidak ada. Faktor utama mungkin sosialisasi dari pemerintah daerah sendiri yang kurang tanggap dan kurang peduli pada objek sejarah. Kesepian dan kesunyian sisa-sisa sejarah yang  ada di sepanjang pantai tersebut sungguh menyedihkan. Atau tidakkah kita bangga dengan segala peninggalan sejarah yang diwariskan kepada kita?

Memaksimalkan  keberadaan situs-situs peninggalan sejarah tersebut tentu akan memiliki dampak positif bagi masyarakat Aceh sendiri. Dari segi ekonomi bila terjadi kunjungan wisata ke wilayah ini tentu akan menghidupkan denyut nadi perekonomian masyarakat sekitar. Sebab, kita tahu sendiri setelah Pelabuhan Malayati tidak difungsikan untuk kapal penyeberangan ke Sabang, boleh dikatakan wilayah pesisir pantai ini serupa wilayah yang mati.

Pemerintah daerah mungkin perlu menganggarkan dana untuk melakukan semacam rehabilitasi pada situs-situs tersebut sehingga menarik masyarakat untuk berkunjung. Membangun tempat rekreasi baru misalnya sebagai pendukung agar masyarakat tertarik untuk berkunjung. Atau Dinas Pendidikan perlu mendorong guru-guru sejarah agar melakukan wisata sejarah bersama murid-muridnya dalam rangka pembelajaran mata pelajaran sejarah misalnya.

Memaksimalkan keberadaan situs-situs sejarah tersebut bagi saya adalah sesuatu yang urgen, di antara minimnya  objek wisata di tanah Aceh. Dinas Pariwisata, misalnya jangan hanya terpaku pada kemegahan Masjid Raya Baiturrahman pada kesejarahan Museum Tsunami dan kebaikan Kapal  Apung.

Menggali dan memperkenalkan kembali sejarah yang terlupakan sebagai objek wisata tentu akan mengembirakan, sebab akan melahirkan aspek pengetahun sejarah bagi anak-anak Aceh. Hal ini juga dalam upaya menghadapi zaman milinel yang serbacepat. Mengimbangi informasi-informasi global yang dapat membutakan lokalitas, sebab pepatah lama pernah berdendnag dan mengingatkan kita, “Gajah di depan pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan kelihatan.” Semoga kita tidak terkena karma petuah bijak yang demikian.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved