Salam

Bisnis Sabang-Andaman, Logis dan Layak Didukung

PEMERINTAH Republik India berencana berinvestasi secara serius di Aceh

Bisnis Sabang-Andaman, Logis dan Layak Didukung
SERAMBI/BUDI FATRIA
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menerima kunjungan Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (5/8/2019). 

PEMERINTAH Republik India berencana berinvestasi secara serius di Aceh. Dan, lokasi yang dipilih untuk menanamkan modalnya adalah Pulau Weh, Sabang. Salah satu yang akan dilakukan Pemerintah India adalah membangun sebuah rumah sakit dengan Perjanjian Bangun Guna Serah atau Build Operate Transfer (BOT). Artinya, India akan berinvestasi penuh untuk membangun rumah sakit, mulai dari bangunan, tim medis, hingga pengelolaannya.

Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat seusai bertemu Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, di Banda Aceh mengatakan, India akan membuat agreement atau persetujuan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Aceh terkait dengan tenggat waktu pengelolaannya. Setelah tenggat waktu nanti selesai, maka rumah sakit akan diserahkan 100 persen kepada Pemerintah Aceh untuk dikelola secara mandiri. Untuk kepentingan itu lah, India memilih Sabang.

Pradeep Kumar Rawat, juga berharap agar konektivitas antara Aceh dan Andaman/Nicobar bisa segera terhubung, baik laut dan udara. Untuk jalar laut‑‑Sabang atau Pelabuhan Malahayati ke Andaman‑‑diharapkan bisa terhubung agar ekspor‑impor komoditas pertanian terbaik dari India dan Aceh bisa terlaksana, di samping juga perdagangan lainnya, seperti building material (bahan bangunan).

Kepulauan Andaman dan Nicobar adalah sebuah kepulauan dalam wilayah negara India yang terletak di Samudera Hindia. Meski demikian, dibandingkan ke India, jarak tempuhnya lebih dekat ke Aceh. Karena itulah, sebelum konektivitas perdagangan jalur laut terhubung, Dubes Rawat mengharapkan Aceh membantu dalam mengembangkan wilayah kepulauan tersebut, mengingat Aceh lebih mudah dijangkau.

"Dia (Dubes India) minta kita kirim building material (bahan bangunan). Cuma dia bilang, dari sana (Andaman) produk yang mau dikirim ke sini (Aceh) belum siap, jadi itu mungkin agak berat, makanya dia minta kita kirim building material dengan subsidi dari pemerintah," kata Nova Iriansyah.

Kita tidak tahu bagaimana konsep bisnis perdagangan Sabang-Andaman yang akan berkembang kelak. Yang pasti rencana ini sangat masuk akal dilihat dari banyak hal. Dari segi geografis, kebudayaan, dan potensi masing-masing sangat prospektif.

Karena rencana bisnis Sabang-Andaman ini sudah kita katakan masuk akal, maka langkah berikutnya adalah kita semua memberi dukungan agar rencana itu terlaksana. Apalagi, pemerintah sudah lama membuka diri untuk masuknya investasi asing. Hal yang salalu menjadi rumit bagi calon investor adalah iklim investasi, termasuk kepastian hukum dan transparansi birokrasi.

Karenanya, Aceh salah satu daerah yang sangat potensial untuk menjadi bidikan investor‑investor yang ingin melakukan ekspansi bisnis, harus memperhatikan hal-hal itu agar tak lagi menjadi faktor penghambat. "Semua investor akan mendekati pasar yang masih memungkinkan ekspansi. Tinggal kebijakan pemerintah untuk mempercepat deliver dana, tidak hanya komitmen yang tidak jelas implementasinya," kata Aviliani, Sekertaris Komite Ekonomi Nasional.

Kemudian, masalah transparansi legalisasi pertanahan di daerah harus dibereskan. Sebab, ini menjadi kunci memuluskan investasi yang menguntungkan daerah, masyarakat, dan investor. "Masalah kepemilikan tanah paling banyak problem, ini harus ada jaminan. Pengalihan harus transparan, supaya ada penyelesaian yang baik. Gubernur harus berani jamin investor yang masuk ke daerahnya," kata pejabat tinggi di Jakarta.

Terkait dengan banyaknya calon investor yang melirik Sabang, maka Badan Pengelolaan Kawasan Sabang (BPKS) yang kita ketahui sudah membeli banyak lahan di Sabang, hendaknya membereskan legalitas terkait semua aset tanah yang dimiliki. Sebab, kita tahu banyak aset BPKS yang surat-menyuratnya kurang beres.

Sekali lagi, kita berharap iklim investasi di Aceh akan terus lebih menarik para pemilik modal di dalam dan luar negeri.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved