Selasa, 19 Mei 2026

Gua Tsunami

Guha Ek Luntie Aceh Besar, Perekam Tsunami Purba Bakal Jadi Geopark

Di pesisir Kecamatan Lhoong, Aceh Bcsar, tepatnya di Gampong Meunasah Lhok, sekitar 50 kilometer arah barat Banda Aceh

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/ SUBUR DANI
Kepala BNPB Pusat, Letjen TNI Doni Monardo didampingi Nazli Ismail, Peneliti Geofisikia Kebumian Unsyiah saat berada di dalam Gua Ek Luntie, Rabu (7/8/2019). 

Di pesisir Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, tepatnya di Gampong Meunasah Lhok, sekitar 50 kilometer arah barat Banda Aceh, terdapat satu gua di tebing gunung yang lokasinya tak begitu jauh dari bibir pantai. Masyarakat setempat menamakan gua itu dengan sebutan bahasa Aceh; Guha Ek Luntie.

Guha dalam bahasa Indonesia berarti gua, sedangkan ek luntie adalah kotoran kelelawar. Dinamakan Gua Ek Luntie karena gua itu adalah sarangnya kelelawar. Konon, masyarakat sering memanfaatkan kotoran kelelawar yang jatuh di dalam gua itu untuk pupuk tanaman.

Guha Ek Luntie bukan hanya sebuah lubang besar yang terbentuk secara alamiah, tapi di dalamnya menyimpan misteri bencana alam, tentang rekam kejadian tsunami di Aceh. Hal itu diketahui setelah keberadaan gua itu menjadi bahan penelitian para pakar geofisika di Aceh beberapa tahun lalu.

Dari dalam Guha Ek Luntie lah terungkap, bahwa bencana tsunami di Aceh adalah bencana yang telah terjadi sejak tujuh ribuan tahun silam dan peristiwa itu berulang, temasuk yang terakhir adalah musibah tsunami tahun 2004 yang meluluhlantakkan sebagaian daratan Aceh. Hal itu terungkap setelah para pakar meneliti lapisan-lapisan tanah dan pasir atau endapan lumpur di dalamnya. Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan secara profesional dan ilmiah membuktikan, bahwa lapisan itu berasal dari gelombang tsunami di masa lampau.

Usia lapisan itu pun sudah puluhan abad lamanya. Hal itu dikatakan oleh Nazli Ismail, Peneliti Geofisika Kebumian Unsyiah, saat mendampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat, Letjen TNI Doni Monardo masuk ke dalam Guha Ek Luntie di sela-sela kunjungan kerjanya ke Aceh, Rabu (7/8).

Menurut Nazli, usia lapisan di dalam gua itu berbeda-beda, ada yang sudah berumur 7.400 tahun, 3.500, 2.500, dan yang terakhir adalah lapisan yang terbentuk karena gelombang tsunami 2004 silam. Itu artinya, tsunami di Aceh sudah terjadi ribuan tahun lalu, peristiwa itu disebut dengan tsunami purba.

Kejadian-kejadian tsunami di Aceh ternyata terjadi berulang dengan periode perulangannya sangat beragam. Ada tsunami yang berulang dalam 2000 tahun, namun ada juga yang berulang dalam rentang kurang dari seratus tahun.

Kawasan geopark

Nazli Ismail mengatakan, Guha Ek Luntie pantas menjadi museum alam yang telah merekam dengan baik kejadian tsunami di Aceh. Kawasan ini diharapkan bisa menjadi kawasan geopark tsunami untuk destinasi, edukasi, dan upaya pengurangan risiko bencana.

Dan ternyata, Pemerintah Aceh sedang melakukan hal itu. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBA, HT Ahmad Dadek, mengatakan, dalam tahun ini sedang dilakukan pembebasan lahan warga di sekitar Guha Ek Luntie sebagai salah satu upaya menjadikan kawasan itu sebagai geopark tsunami.

Pemerintah Aceh ternyata juga akan mengucurkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk pemugaran lokasi itu. "Tahun ini sedang proses pembebasan tanah lebih kurang 1 ha. Tahun ini juga sedang ditender DED dan tahun 2020 sudah dianggarkan dana lebih kurang Rp 2 miliar," kata Dadek.

Nantinya, di gua tersebut akan dilengkapi pagar, gedung pertunjukan, sejarah kejadian tsunami, dan beberapa tempat edukasi, serta museum tsunami mini. Kepala BNPB Pusat, Letjen Doni Monardo mendukung penuh hal itu, menurutnya ini salah satu upaya mengedukasi masyarakat.

"Kita mendukung penuh. Ini gagasan cemerlang, gagasan ini juga bisa menjadi pelajaran bahwa kita tidak boleh lupa sejarah, bahwa kita harus terus waspada, terutama masyarakat di pesisir pantai karena sewaktu-waktu musibah seperti 2004 lalu, akan berulang kembali," katanya.

Penjelasan Nazli Ismail katanya menjadi rujukan bahwa tsunami di Aceh memang terjadi berulang. "Endapannya ada empat lapis, usianya berbeda-beda, ada yang 7.500 tahun, 5.400 tahun, 3.300 tahun, 2.800 tahun, dan yang terakhir ada yang dibawa tsunami pada tahun 2004 silam," kata Doni.

Lapisan yang terkumpul di dalam gua ini menunjukkan, peristiwa gempa yang diikuti tsunami telah terjadi berulang kali di wilayah tersebut. "Ini menunjukkan, persitiwa gempa yang diikuti tsunami di sini bukan pertama pada tahun 2004, tetapi telah terjadi beberapa kali sebelumnya," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved