Info Haji 2019
Mengemis di Dalam Masjid
Meski sama-sama negara dengan penduduk Muslim paling banyak, Indonesia memiliki perbedaan yang kontras dengan Arab Saudi
Lain lubuk lain ikannya. Lain negeri lain pula kebiasaannya. Meski sama-sama negara dengan penduduk Muslim paling banyak, Indonesia memiliki perbedaan yang kontras dengan Arab Saudi. Terutama dalam kebiasaan sosial sehari-hari. Satu di antaranya kebiasaan pengemis.
Awal saya beranggapan Arab Saudi bebas dari peminta-minta alias pengemis. Dengan pendapatan per kapita di atas 25.000 dolar, Arab Saudi termasuk negara paling makmur di dunia.
Hasil dari minyak bumi dan gas membuat Arab Saudi mampu memberikan layanan kesejahteraan kepada rakyatnya. Di antaranya pendidikan gratis semua tingkat, tanggungan kesehatan yang tidak terbatas, sandang, dan jaminan hidup di hari tua.
Sebagai produsen dan pemilik cadangan minyak nomor satu di dunia dan nomor enam untuk migas, Arab Saudi membangun infrastruktur yang serba canggih dan penyediaan kebutuhan rakyat yang tidak terbatas. Tak pernah ada informasi rakyatnya kelaparan dan kekurangan makanan. Bahkan, suplai air minum dan sanitasi dalam volume yang besar dan lancar dengan harga yang sangat murah.
Padahal Arab Saudi adalah negara padang pasir tandus, tanahnya kering kerontang. Sedikit sekali daerahnya yang hijau. Dari yang sedikit itu adalah daerah Kota Taif yang iklimnya mirip Indonesia.
Taif menjadi tempat berlibur para raja dan keluarganya ketika musim panas di bulan Juni, Juli, dan Agustus melanda sebagian besar jazirah Arab.
Kembali kepada pengemis atau peminta-minta. Berbeda dengan Indonesia, sebagian besar pengemis beroperasi di jalanan atau di perempatan jalan. Justru di Arab Saudi pengemis ada di dalam masjid.
Begitu siap shalat berjamaah, tanpa kita sadari, tiba-tiba saja, seorang Arab yang berpakaian jubah Saudi berdiri. Di dalam pangkuannya ada seorang anak cacat. Biasanya anak yang lumpuh layu. Beberapa kali terlihat dibawa anak dengan selang oksigen di hidung.
Lalu sang penggendong berkhutbah dalam Bahasa Arab dengan nada suara yang tinggi. Khutbah berisi seakan-akan pengantar menjelaskan kondisi "sang anak" yang dibawa atau dalam gendongan.
Bagi yang belum biasa mendengarnya bisa terkejut. Sambil mengatakan permintaan bantuan, sang pengemis berjalan di antara para jamaah dengan menenteng kantong plastik. Ketika sudah di pertengahan jalan dan belum banyak sumbangan, sang pengemis bicara dengan nada lemah dan seperti orang berhiba minta belas kasih.
Pemandangan seperti itu hampir terjadi di sepanjang shalat wajib lima waktu di beberapa masjid. Paling sering begitu selesai shalat dan sekali waktu sebelum shalat. Uniknya, anak yang menjadi "daya tarik" sadaqah adalah anak yang sakit lumpuh layu atau terganggu pernapasan.
Di luar masjid, jarang sekali kita menyaksikan pemandangan orang minta sedekah. Yang banyak adalah orang minta tips setelah melakukan sesuatu seperti membersihkan toilet dan sampah.
Sebagian besar peminta tips tersebut berasal dari Banglades, India, dan Yaman. Setelah bekerja atau menyelesaikan sesuatu lalu mengulurkan tangannya minta tips.
Baik pengemis maupun peminta, paling senang dengan orang Indonesia. Konon, menurut mereka, orang Indonesia mudah tersentuh dan dermawan. Begitu sang pengemis beroperasi, mungkin ratusan riyal sudah terjaring.
Jamal, mukimin dari Aceh yang sudah lama menetap di Makkah mengatakan, peminta sedekah itu sebagian besar dari luar Arab Saudi. Sebagian besar dari Yaman, sebagian lainnya dari India dan Afrika.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/laporan-mohd-din-pemimpin-perusahaan-serambi-indonesia.jpg)