Seuramoe UMKM

Pisang Rakit, Makanan Ringan yang Melejit  

DISEBUT pisang rakit, karena makanan ringan ini terbuat dari pisang jenis wak yang diiris tipis-tipis. Kemudian irisan pisang dilengketkan

Pisang Rakit, Makanan Ringan yang Melejit   
IST
PISANG RAKIT Pengrajin pisang rakit di kompleks pengungsian Indrapatra Ladong Aceh Besar, bersama mitra dari Bank Aceh Syariah 

DISEBUT pisang rakit, karena makanan ringan ini terbuat dari pisang jenis wak yang diiris tipis-tipis. Kemudian irisan pisang dilengketkan, sehingga bentuknya menjadi lebar ibarat rakit (perahu).

Makanan ringan yang memiliki cita rasa lezat, enak, gurih, dan rapuh berasal dari Lamno, Aceh Jaya. Setelah irisan pisang dilengketkan, selanjutnya dijemur. Setelah kering baru digoreng dengan dibalur tepung terigu. Meski terkesan mudah cara membuat pisang rakit ini, namun tidak semua orang mampu membuat pisang rakit tersebut.

Adalah Asri Dahlia (43), Ketua Perajin Usaha Pisang Rakit di Kompleks Perumahan Indrapatra, Gampong Ladong, Aceh Besar, yang tergolong mahir membuat pisang rakit. Pengungsi korban tsunami asal Lamno, Aceh Jaya, ini kepada Serambi menjelaskan, ide pembuatan makanan tringan ini ini terinspirasi dari rakit yang ada di Lambeuso, Lamno.

Sebelum USAID membangun jembatan rangka baja Lambeuso pada tahun 2008 pascatsunami, kendaraan maupun warga yang hendak berpergian ke Meulaboh harus naik rakit untuk menyeberang sungai di Lambeuso.

Lebar sungainya sekitar 100 meter, namun arusnya tergolong deras karena langsung bermuara ke Lautan Hindia. Penyeberangan pun harus menggunakan rakit yang digerakkan oleh mesin boat tempel berkekuatan 25 PK.

Sebelum nama pisang rakit terkenal, kata Asri Dahlia, makanan ringan itu dikenal dengan gorengan pisang wak. Karena banyak warga yang menjual pisang itu di rakit, maka makanan camilan itu diberi nama pisang rakit. Namun tersebut menjadi populer hingga kini.

Setiap menjelang Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, permintaan pisang rakit bisa naik 10 kali lipat dari biasanya. Kendati permintaan meningkat, tapi harga jual pisang rakit untuk dijual ke pengumpul dan pengecer, hanya Rp 1.500/keping.

Di Kompleks Perumahan Indrapatra, Gampong Ladong, Aceh Besar ini, kata Asrida, pisang rakit di produksi oleh empat kelompok dari 100 KK yang bermukim di perumahan pengungsi tsunami. Ini artinya, tidak semua ibu-ibu di kompleks mampu membuat pisang rakit. Pisang rakit ini harus dikerjakan dengan sabar, teliti dan tekun.

Bahan baku pisang rakit yaitu pisang wak. Pisang jenis ini tidak begitu sulit didapatkan. Di seluruh pasar, seperti Pasar Lambaro, Ulee Kareng dan Peunayong pisang ini mudah didapatkan dan harganya juga tidak terlalu mahal. Seperti dikatakan Asrida, untuk bahan baku senilai Rp 1 juta, bisa menghasilkan omset penjualan Rp 3 juta.

Dikurangi ongkos kerja dan bahan, keuntungannya mencapai Rp 750.000 untuk satu kali penggorengan. Bahan baku senilai Rp 1 juta itu dikerjakan oleh 4-5 orang dalam tiga hari. Ini artinya dalam satu bulan bisa delapan kali beli pisang wak untuk bahan baku pisang rakit.

Meilani, perajin pisang rakit menambahkan, produksi pisang rakit dari Ladong meningkat setelah pihak Bank Aceh Syariah memberikan pinjaman bunga lunak Rp 10 juta/kelompok. Pinjaman lunak itu sebagian digunakan untuk beli bahan baku, dan sebagian lagi digunakan untuk biaya sekolah dan kuliah anak.

"Dari penjulan pisang rakit kami bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi. Bahkan sudah ada yang selesai S-1 dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri seperti ke Australia," tutur Asri Dahlia.

Kesuksesan para perajin pisang rakit itu juga disampaikan Kabag Pembiayaan dan Komersil Bank Aceh Syariah, Ilham Novizal dan Account Officer Mikro, Yudi Julian. Keduanya mengaku senang bisa bermitra dengan para perajin pisang rakit Ladong, karena selalu tepat waktu menyetor cicilan pinjaman.

"Kita terus akan membina dan memberikan bantuan kredit lunak IKM kepada perajin pisang rakit Ladong, sesuai dengan perkembangan omset penjualan produk yang sudah meluas ke luar Aceh," pungkas Yudi.(her)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved