Inovasi
Dua Mahasiswa Teknik Universitas Abulyatama Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Dua mahasiswa Unaya, Kamalud Damairi dan Shahibul Fajar berhasil menciptakan alat untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM setara Pertalite.
Penulis: Taufik Hidayat | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Taufik Hidayat | Aceh Besar
SERAMBINEWS.COM, JANTHO – Dua mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Abulyatama (Unaya), Kamalud Damairi dan Shahibul Fajar, berhasil menciptakan alat untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang diklaim setara Pertalite.
Kedua mahasiswa ini berkolaborasi mencari solusi atas persoalan sampah plastik yang telah menjadi ancaman lingkungan karena sifatnya yang tidak dapat terurai.
Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), memperkirakan lebih dari 8 juta ton plastik mengalir ke lautan setiap tahunnya.
Dari semua plastik yang diproduksi selama 65 tahun terakhir (8,3 miliar ton), sekitar 12 persen telah dibakar dan hanya 9 persen yang telah didaur ulang. Sisanya 79 persen mencemari tanah dan lautan.
Hal itu menjadi ancaman yang sangat buruk terhadap lingkungan.
Bahkan World Economic Forum memperkirakan pada tahun 2050, lautan akan menampung lebih banyak sampah plastik daripada ikan, jika limbah plastik terus dibuang ke laut.
Hal inilah yang mendasari Kamalud Damairi dan Shahibul Fajar untuk melahirkan inovasi yang dapat menjadi solusi dalam mengurangi sampah plastik, dengan mengubah limbah plastik jenis HDPE (High Density Polyethylene) dan PP (PolyPropylene) menjadi bahan bakar yang bisa digunakan sebagai bahan baku campuran bensin atau bahan baku untuk bahan kimia lainnya.
Kepada Serambinews.com, Shahibul Fajar mengatakan, untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM, ia menciptakan reaktor pirolisis limbah plastik.
Reaktor pengolah limbah plastik ini nantinya akan menghasilkan uap yang dapat dimanfaaatkan untuk kebutuhan bahan bakar minyak dengan cara mengkonversi energi uap menjadi bahan bakar melalui sistem pirolisis.
“Reaktor pirolisis dengan sistem fliudized bed menjadi pilihan untuk proses pengkonversian uap limbah plastik yang hanya membutuhkan waktu 30 sampai 55 menit untuk 3 Kg plastik,” ungkapnya kepada Serambinews.com, Selasa (13/8/2019).
Sementara temannya, Kamalud Damairi, melakukan kaji eksperimental kondensor dengan metode kerja spiral, untuk menghasilkan uap dari limbah plastik, hingga diperoleh minyak yang dapat digunakan sebagai bahan bakar terbarukan.
Menurutnya, kondensor kerja spiral tipe vertikal ini terbukti bisa menghasilkan bahan bakar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tersier dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara melakukan proses kondensasi pada jenis uap hasil pirolisis limbah plastik HDPE (High density Polyethylene) dan PP (PolyPropylene).
“Proses kondensasi uap ini tidak terlepas dari karakteristik jenis uap, waktu dan temperatur pada kondensor. Fungsi dari kondensor ini pun bisa diperluas lagi supaya tidak hanya bekerja untuk kondensasi uap jenis HDPE dan PP, tapi bisa juga untuk jenis plastik lainnya,” kata Kamalud Damairi.
Dari 3 Kg plastik HDPE dan PP yang dikonversi ini, bisa menghasilkan 320 ml hingga 340 ml bahan bakar minyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/konversiplastikjadibbm.jpg)