Menelusuri Sarang Buaya di Raya Singkil  

SIANG itu speedboat bermesin 15 PK melaju pelan menelusuri sungai-sungai kecil yang mengiris hamparan rawa di dekat muara Singkil

Menelusuri Sarang Buaya di Raya Singkil   
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Buaya di pinggir sungai dekat muara Singkil, Aceh Singkil, Jumat (16/8/2019) 

SIANG itu speedboat bermesin 15 PK melaju pelan menelusuri sungai-sungai kecil yang mengiris hamparan rawa di dekat muara Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. Sungai tersebut bagai labirin. Setelah masuk ke pedalaman rimbun nipah dan tanaman khas rawa, begitu banyak ditemukan anak cabang sungai. Hanya warga lokal berpengalaman yang tahu kemana mengarahkan haluan perahu. Jika tidak, perahu bisa terjebak dalam genangan air sepanjang mata memandang.

Hari itu kedua kalinya Serambi, menelusuri sarang buaya. Melihat dari dekat binatang dengan nama latin crocodylus ini. Setelah petulangan pertama gagal mengabadikan keberadaan buaya lantaran langsung menghilang ke dasar sungai sesaat perahu mendekat, kali ini Serambi ditemani  Vetor, kapten speedboat. Selain paham alur-alur anak sungai di sekitar muara Singkil, penduduk Teluk Ambun, itu direkomendasikan kawan-kawannya memiliki penglihatan tajam.

Bersama Vetor, harapan dapat melihat buaya dari dekat menjadi lebih tinggi. Awalnya Kapten Vetor sempat memprotes ajakan itu. Walau akhirnya bersedia menjadi nakhoda. "Orang menghindar dari buaya, ini malah sengaja mencari," katanya menggeleng kepala.

Pencarian buaya dengan menulusuri hamparan rawa yang dihubungkan alur sungai di sekitar muara Singkil, dimulai. Sasaran pertama alur sungai kecil berjarak 500 meter dari pemukiman penduduk Puo Sarok. Buaya berukuran mini hingga dewasa langsung terlihat, sayang dalam hitungan detik menghilang.

Perjalanan dilanjutkan ke sungai lebih besar di belakang Desa Pasar. Saat speed melaju pelan pandangan terpana pada seekor buaya sepanjang dua meter berdiam diri di bibir sungai. Mesin speed boat segera dimatikan. Bermodal pendayung mencoba mendekat. Frekuensi denyut jantung bertambah ketika jarak dengan hewan berdarah dingin itu kurang tiga meter. Tetap ekstra hati-hati keberadaan buaya segera diabadikan.

Setidakanya ada dua ekor buaya dewasa berhasil diabadikan kamera telpon pintar dari jarak dekat. Belasan lainnya secepat kilat menghindar dari pandangan mata. Temaram malam mengganti senja, tanda segara harus ke luar dari sarang buaya. Dalam kondisi gelap itulah uji nyali sesungguhnya. Belasan pasang mata merah terlihat, ketika sinar senter mengarah hamparan air sedalam lutut dewasa. Itulah kawanan buaya. "Jika pasangan mata lebar berarti buayanya besar," kata Vetor memberi tahu.

Hamparan rawa di dekat muara sungai Singkil, dikenal sebagai sarang buaya. Hewan bergigi mirip gergaji itu begitu mudah terlihat, mulai dari ukuran mini hingga raksasa. Berdasarkan ke saksian para penyelam sungai mencari lokan, kerap menemukan buaya dengan ukuran sama dengan perahu. Uniknya, warga lokal menjadikan alur sungai tersebut sebagai tempat mencari lokan (kerang sungai), siput serta daun nipah.

Di kawasan Singkil Lama, umpamnya. Kaum perempuan sambil melempar canda mengumpulkan berkarung-karung siput dengan tangan kosong sambil berendam di sungai. Kurang dari 300 meter buaya berukuran sekitar tiga meter ketika tiba-tiba meronta di samping speedboat kami. Keberadaan buaya di rawa Singkil, menjadi daya tarik bagi wisatawan asal Eropa. Mereka jauh-jauh datang untuk melihat dari dekat buaya di alam liar Singkil. (Dede Rosadi)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved