Bukan dari Iklan, Ternyata Begini Cara YouTuber Peroleh Pendapatan Besar
Untuk bisa mendapatkan Adsense, YouTuber harus memiliki minimal 1.000 subscriber (pelanggan) dan 4.000 jam tayang dalam 12 bulan terakhir.
Uang yang dihasilkan para kreator adalah berkat rencana bisnis yang matang melalui konten yang ditampilkan di kanal YouTube, bukan semata-mata mengandalkan jumlah subscriber.
"Ini merupakan kombinasi dari kesungguhan menciptakan konten, menyampaikan, lalu menangkap nilainya," kata Shcmoyer.
Karena itulah, AdSense tidak menjadi satu-satunya sumber pendapatan bagi YouTuber untuk meraup untung.
Apalagi, menurut Irwan, algoritma YouTube sering berubah dan tidak pasti sehingga menyulitkan para pembuat konten. Lantas, dari mana sumber pendapatan lainnya?
Endorsement dan jualan merchandise
Irwan mengaku bahwa endorsement dan kegiatan acara offline menjadi sumber pendapatan lain Sobat Hape di luar AdSense.
Endorsement adalah promosi produk pengiklan oleh sang pemilik kanal.
Sementara, kegiatan offlinecontohnya menjadi pembicara di sebuah event.
Keduanya bisa dilakukan apabila sang YouTuber sudah dikenal luas dan memiliki jumlah pengikut yang signifikan sehingga dipandang sebagai influencer.
Dengan kata lain, mereka bisa memanfaatkan pengaruh sebagai influencer untuk mendatangkan uang.
Endorsement yang dipilih tentunya juga yang berkaitan dengan konten video kanalnya.
Misalnya, kanal kencantikan mempromosikan produk make-up. Endorsement semacam ini memang lazim dilakukan di media sosial dan platform konten seperti YouTube.
YouTuber lain memiliki cara berbeda untuk memperoleh pendapatan di luar sekadar iklan AdSense.
Jake Paul, misalnya, menjual berbagai merchandise di kanal YouTube miliknya.
YouTube memang menyediakan saluran khusus bagi YouTuber untuk menjual merchandise.
Namun, hanya YouTuber tertentu yang bisa menggunakan layanan ini.
Syaratnya, ia harus memiliki minimal 10.000 subscriber, tidak melanggar pedoman YouTube, dan mengikuti YouTube Partner Program.
Layanan ini juga belum merambah ke Indonesia, baru tersedia di 18 negara saja.
Di Indonesia, beberapa YouTuber juga menjual produk buatan mereka, seperti T-Shirt atau make up, meski tanpa memanfaatkan layanan merchandiseYouTube.
Selain mendapatkan uang segar dari penjualan merchandise, YouTuber juga bisa menerima merchandise gratis dari vendor.
Merchandise ini memang tidak berwujud uang segar, tapi nilai barang yang diterima biasanya cukup berharga.
Peter McKinnon, sinematografer yang terjun ke dunia per-YouTube-an, seringkali menampilkan video yang mengulas produk gratisan dari para vendor.
Konten berbayar
Para YouTuber juga sering mendapatkan pesanan untuk membuat konten berbayar.
Biasanya, mereka diminta untuk membuat review atau ulasan sambil memperkenalkan fitur-fitur atau keunggulan dari produk yang mereka ulas.
Produk yang ditawarkan bisa jadi berbeda dengan audiens kanal YouTube tersebut.
Ini berbeda dengan ketentuan AdSense yang membutuhkan kesesuaian antara konten dan penonton.
Apakah akan menerima tawaran konten berbayar atau tidak, keputusan itu tentu terserah sang pemilik kanal.
Misalnya, kanal YouTuber Minority Mindset pernah ditawari 150.000 dollar AS (Rp 2,1 miliar) untuk konten berbayar soal cryptocurrency, tetapi mereka tolak lantaran merasa tak cocok untuk disajikan ke pentontonnya.
Honor untuk konten berbayar ini bisa bernilai cukup besar.
Menurut The Economist, YouTuber dengan subscriber di kisaran 100.000 rata-rata menghasilkan 12.500 dollar AS (Rp 177 juta) dari konten berbayar.
Nilai ini tentu lebih besar dibanding AdSense yang diterima YouTuber pemilik 2 juta subscriber, tapi hanya mengandalkan AdSense, seperti diceritakan Shcmoyer tadi. Sumber: (Kompas.com/ Wahyunanda Kusuma Pertiwi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/logo-youtube.jpg)