Kesehatan

Belasan Balita Terserang Diare, Bener Meriah Tetapkan Kejadian Luar Biasa

Dominan yang terkena penyakit tersebut merupakan balita 16 orang dan dua lagi dewasa.

Belasan Balita Terserang Diare, Bener Meriah Tetapkan Kejadian Luar Biasa
SERAMBINEWS.COM/MUSLIM ARSANI
Seorang balita harus dirawat di Puskesmas Buntul Kemumu, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Minggu (2579/2019) karena terjangkit diare. 

Laporan Muslim Arsani I Bener Meriah

SERAMBINEWS. COM, REDELONG - Setidaknya ada 18 masyarakat Burni Pase, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah dalam sepekan ini terjangkit diare.

Dominan yang terkena penyakit tersebut merupakan balita 16 orang dan dua lagi dewasa.

Penyakit menular tersebut hampir setiap hari menginfeksi masyarakat setempat, khususnya balita.

Bahkan, Dinkes setempat harus merujuk empat balita untuk dirawat secara intensif di RSUD Muyang Kute.

Kepala Dinas Kesehatan Bener Meriah, Iswahyudi, kepada Serambinews.com, Minggu (25/8/2019) mengatakan, terjadi kasus lonjakan penyakit diare yang menyerang balita beberapa keluarga di Kampung Burni Pase.

Baca: Oknum TNI Yang Ucapkan Kata Rasis ke Mahasiswa Papua Terekam Kamera, Kini Nasibnya di Ujung Tanduk

Baca: Bertanding di Stadion Krueng Mane, PSLS Optimis Bakal Bungkap PSAP Nanti Malam

Baca: Peran Egianus Kogoya di Balik Penghadangan TNI dan Baku Tembak, Punya Misi Besar soal Kodap di Papua

"Mulanya hanya satu orang yang terjangkit, namun dalam sepekan ini terus mengalami peningkatan dalam waktu singkat, dan hari ini juga ada terkena penyakit. Untuk itu Pak Bupati sudah menetapkan kejadian ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Bener Meriah," kata Iswahyudi.

Pihaknya terus melakukan peninjauan di Kampung Burni Pase, untuk menemukan penyebab awal terjadinya diare yang menyerang balita.

"Tim kita sudah di sana dalam beberapa hari terkahir ini, empat balita sudah kita berikan rujukan ke RSUD Muyang Kute, sementara yang lainnya dilakukan penanganan di Puskesmas," ungkapnya.

Mayoritas balita tersebut, lanjutnya, mengalami muntah mencret lebih dari tiga kali sehari, sehingga sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.

Penyakit tersebut, katanya, terdeteksi sejak Minggu (18/8/2019) lalu, dan terus terjadi mengalami peningkatan sampai hari ini.

"Biasanya menyangkut tentang kebersihan di lingkungan keluarga, apakah itu karena sanitasi aliran pembungan limbah manusia. Dan ternyata memang wilayah tersebut tidak ada jalur pembungan limbah manusia," ungkapnya.(*)

Penulis: Muslim Arsani
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved