Info haji 2019
Bilik Musyawarah
Banyak juga jamaah, khususnya dari Aceh, yang mengisi waktu luang dengan berziarah ke tempat-tempat bersejarah
Laporan MOHD DIN, WARTAWAN Serambi Indonesia
Waktu panjang seusai melaksanakan rukun haji banyak diisi jamaah dengan berbagai aktivitas. Ada yang melakukan tawaf di Masjidil Haram (Haram) atau melaksanakan umrah. Banyak juga jamaah, khususnya dari Aceh, yang mengisi waktu luang dengan berziarah ke tempat-tempat bersejarah.
Tak sedikit pula jamaah yang berwisata ke Jeddah dan Taif, dua kota yang berdekatan dengan Mekkah. Sedangkan sebagian jamaah sibuk berburu barang souvenir atau belanja. Barang yang paling banyak dipesan adalah karpet, sajadah, dan kopiah haji. Tiap sore, mobil kargo mampir di maktab untuk memungut barang jamaah dan selanjutnya dikirim ke Aceh.
Jamaah dari Aceh sangat mungkin melaksanakan ziarah, wisata, atau belanja dalam jumlah banyak karena punya persediaan uang yang cukup. Pasalnya, setiap jamaah di samping mendapat pengembalian biaya hidup sebesar 1.500 riyal saudi (RS) atau sekitar Rp 6 juta, jamaah Aceh juga mendapat hibah dari Baitul Asyi senilai 1.200 RS atau Rp 4,8 juta.
Untuk jamaah yang berstatus suami istri, waktu luang yang panjang juga terkadang menjadi masalah tersendiri. Ketua Sektor Maktab Syisyah 2, Dr Kaswad Sartono yang juga Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Sulawesi Selatan, dalam pertemuan dengan jamaah kloter 7 Aceh, baru-baru ini sambil bercanda mengatakan, menjalankan ibadah haji ini penuh jihad dan pengorbanan.
Salah satu pengorbanan tersebut adalah jamaah yang berstatus suami istri tidak bisa tinggal satu kamar. Padahal, waktu perjalanan haji mulai dari kedatangan hingga kembali ke Tanah Air relatif lama. Menurutnya, hal yang manusiawi jika seorang istri atau suami ingin satu kamar dengan pasangannya, apalagi yang masih berusia muda. "Tapi, itu tak mungkin. Atas nama panitia haji, saya mohon maaf," ujar Kaswad.
Satu kamar pada penginapan maktab diisi oleh 4 hingga 6 jamaah dan itu tergantung besar kecilnya kamar. Pria dan wanita dipisahkan. Dalam suasana seperti itu, tentu saja suami istri tak bisa melaksanakan hak dan kewajiban bathiniah sebagai pasangan yang sah. Untuk menyiasatinya, ada pasangan yang mencari tempat penginapan lain di luar maktab. Setelah tawaf ifada, sai, dan thahalul, diam-diam ada jamaah yang pasangan suami istri pergi keluar, sambil pamit dengan teman satu kamar.
"Izin ya, mau cuti mata dulu di Zamzam Tower. Mungkin agak lama baliknya," kata seorang jamaah dari Banda Aceh yang sehari-haru berprofesi sebagai pengusaha. Mendengar hal itu, seisi kamar mafhum dengan maksus bahasa ‘basa-basi’ tersebut. Apa yang dilakukan pengusaha tersebut juga dilakukan oleh pejabat yang ikut haji reguler.
Bagi yang punya kemampuan ekonomi lebih seperti pengusaha itu, ia punya banyak pilihan mengisi waktu jeda. Ada yang tinggal di hotel-hotel kawasan Zamzam Tower, penginapan mewah dekat Masjidil Haram, dan ada yang memilih agak jauh. Saat musim haji, satu malam atau peak seation, hotel berbintang 5 haranya bisa mencapai 2.000 RS atau setara Rp 8 juta. Padahal, pada hari-hari biasa harganya hanya 250 RS atau Rp 1 juta atau bahkan bawah tarif tersebut.
Di Haram, banyak pilihan. Ada juga tarif hotel senilai Rp 700 ribu, tergantung kelas hotel. Tapi, tentu pada masa puncak haji jarang ada hotel di Haram yang murah. Ada juga hotel di dekat Masjidil Haram yang menyewakan kamar untuk durasi waktu 3 hingga 4 jam. Tujuannya, kamar itu menjadi transit atau istirahat bagi jamaah sambil menunggu jadwal shalat fardhu berikutnya.
Tapi, hotel transit ini banyak digunakan untuk istirahat jamaah yang berpasangan. Tarifnya juga variatif, tergantung jarak dengan Haram dan fasilitasnya yaitu Rp 300 hingga Rp 500 ribu untuk 3-4 jam.
Ada juga jamaah yang mengisi waktu bersama pasangannya dengan berkunjung ke tempat kerabat, keluarga, teman atau kenalan di Mekkah sambil menginap. Lain cerita jamaah yang dananya terbatas. Ada yang menyiasati pemenuhan kebutuhan dasar dengan musyawarah sesama teman sekamar. Tentu bukan dengan bahasa yang vulgar, tapi dengan bahasa simbol. Misalnya, pura-pura bertanya, kapan ambil umrah, belanja, tawaf, atau ziarah?
Dengan cara itu, mereka sudah tahu waktu masing-masing. Tinggal sepakat berapa jam baru pulang ke maktab. Itu dilakukan secara bergilir dan minimal 3 atau 4 jam sekali. Ada juga yang menyiasati dengan cara lain, seperti meminta bantuan atau jasa mukimin (petugas haji) untuk membicarakan tempat "bermalam" sementara. Biasanya mukimin menawar jasa untuk sewa kamar hotel tertentu atau apartemen tempat mereka tinggal dengan harga yang cukup bersahabat yaitu untuk beberapa jam sebesar 25 hingga 50 RS. Sementara untuk satu malam, bisa dua kali lipat dari tarif tersebut.
Soal kebutuhan suami isteri selama musim haji, memang sesuatu yang tabu dibicarakan. Meski sebenarnya ini sesungguhnya merupakan persoalan universal dan sesuatu yang alamiah. Karena itu, isu ini jarang terekspose keluar. Meski sebagian jamaah membutuhkannya. Sehingga, hal tersebut akan jadi pembicaraannya di bawah permukaan atau menggunakan bahasa isyarat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/laporan-mohd-din-pemimpin-perusahaan-serambi-indonesia.jpg)