Rasa Air Kayu Bajakah Tergantung Musim  

Rasa air yang menetes dari kayu bajakah di hutan Rawa Singkil, berbeda-beda tergantung musim. Jika sedang musim kemarau

Rasa Air Kayu Bajakah Tergantung Musim   
Dok: BKSDA Aceh
Suhermi, tim smart patrol BKSDA Aceh, di lokasi di Suaka Marga Satwa Rawa Singkil wilayah Siperkas Kecamatan Rundeng Kota Subulussalam, menemukan liana yang mirip bajakah, Selasa (20/9/2019). 

SINGKIL - Rasa air yang menetes dari kayu bajakah di hutan Rawa Singkil, berbeda-beda tergantung musim. Jika sedang musim kemarau, rasanya sedikit kelat. Sedangkan saat musim penghujan, rasanya segar seperti air mineral pada umumnya. Hal itu disampaikan Kepala Tim Patroli Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Singkil Wilayah Kuala Baru, Admi, yang mencoba mencicipi tetesan air dari kayu bajakah yang ada di hutan Rawa Singkil, Minggu (25/8/2019).

"Sekarang karena sedang musim kemarau walau kadang-kadang turun hujan, saat kita coba cicipi air yang ke luar dari kayu bajakah rasanya kelat, tapi tidak pahit. Tapi, kalau musim bujan rasanya seperti air mineral biasa," kata Admi yang juga herbalis ketika dimintai tanggapannya, kemarin, terkait liputan eksklusif Serambi Indonesia edisi Minggu (25/8/2019) berjudul ‘Kayu Bajakah Hebohkan Singkil.”

Pada musim kemarau, sebutnya, air yang keluar dari kayu bajakah (dalam bahasa lokal Singkil kayu bajakah disebut kayu aka) hanya sedikit. Lagi-lagi berbeda saat musim hujan, air yang menetes dari kayu itu bisa lebih banyak. “Tak ada perasaan berbeda setelah meminum air yang keluar dari kayu bajakah. Selain itu, rasa kelat di mulut hanya berlangsung beberapa saat saja,” demikian Admi.

Kesaksian serupa juga diungkapkan Fardi Akwin, yang ikut mencoba tetes air bajakah di hutan Rawa Singkil, pada Selasa (20/8/2019) lalu. Menurutnya, tidak ada reaksi yang ditimbulkan setelah ia meminum air kayu aka selain rasa kelat di lidah. "Mungkin karena aku sehat, jadi tidak merasakan apa-apa. Kelatnya juga sebentar saja terasa," ujar Fardi Akwin.

Pengalaman lain diceritakan Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid, saat ia masih kerap bekerja di hutan wilayah Kecamatan Danau Paris, sekitar tahun 1990-an. Kala itu, menurutnya, jika kehausan di hutan ia kerap meminum air yang keluar dari kayu aka. “Rasanya seperti air biasa, namun ada juga yang agak gatal di tenggorokan,” ungkapnya.

Dulu, tambah Bupati, dirinya tidak mengetahui bahwa kayu yang airnya kerap diminum setelah dipotong tersebut bernama kayu bajakah. "Kami menyebut kayu itu dengan nama kayu aka," pungkas Dulmusrid.

Kayu bajakah ditemukan saat Serambi, berpetualang di hutan Rawa Singkil, ditemani Admi, Kepala Bappeda Aceh Singkil, Ahmad Rivai, Kepala BPBD Aceh Singkil, Mohd Ichsan, dan sejumlah warga lainnya, awal pekan lalu. Tim penjelajah awalnya tak mengira ada kayu bajakah yang dipercaya dapat mengobati kanker dan tumor di hutan Rawa Singkil, seperti hasil penelitian dua orang siswa di Kalimantan Tengah. Tim baru mengetahui adanya kayu itu di tempat tersebut setelah mendapat informasi dari Admi yang hapal detil nama kayu dan hewan di hutan Rawa Singkil, lengkap dengan bahasa ilmiahnya. (de)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved