Pengusaha Asal Aceh Investasi di Ladong  

Seorang pengusaha asal Aceh yang juga Founder & CEO, Trans Continent, Ismail Rasyid menyatakan tidak ragu berinvestasi

Pengusaha Asal Aceh Investasi di Ladong   
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
KIA Ladong 

BANDA ACEH - Seorang pengusaha asal Aceh yang juga Founder & CEO, Trans Continent, Ismail Rasyid menyatakan tidak ragu berinvestasi di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong,, Aceh Besar. Trans Continent adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi, logistik, pertambangan, minyak, kargo dan lainnya, yaitu PT Trans Continent, masuk menanamkan investasinya, akan membangun gudang logistik dan jasa transportasi.

“Kawasan KIA Ladong memiliki prospek bagus untuk investasi awal bangun gudang logistik dulu.  Kami tak ragu masuk karena Pemerintah Aceh melalaui PT PEMA (PDPA) sudah mengurus perizinan, termasuk lahan dan fasilitas apa saja yang kami butuhkan untuk menjalankan bisnis pergudangan logistik dan jasa transportasi ,” kata Ismail Rasyid seusai acara peletakan batu pertama (down breaking) pembangunan Pusat Logistik Berikat Terpadu di KIA Ladong, Sabtu (31/8).

Disebutkan, kerja sama pihaknya dengan PT PEMA didasari oleh trush atau kejujuran dan keikhlasan untuk membangun Aceh. Seperti dijelaskan Kakanwil Bea dan Cukai Perwakilan Aceh, Dr Safuadi bahwa potensi sumber ekonomi di Aceh, sangat besar, cuma belum dikelola secara profesional dan maksimal.

“Pernyataan itu ada benarnya. Contohnya komoditi kopi gayo. Kopi ini sangat terkenal dan sudah lama dijadikan bahan baku kopi  oleh perusahaan terkenal di Amerika, seperti starbuk dan lainnya. Biji kopi starbuk itu berasal dari dataran Tinggi Gayo. Mereka mengimpor biji kopi dari Gayo, kemudian mengolahnya menjadi bahan sudah jadi yang siap disajikan degan nilai jual ekonomi yang tinggi,” jelasnya.

Selain kopi, masih ada komoditi perkebunan dari Aceh yang sangat terkenal dan digemari dunia, yaitu komoditi minyak nilam. Produk minyak nilai dari Aceh, yag terbagus di dunia. Tapi karena perajin nilam di Aceh, belum mampu mengolahnya menjadi produk siap saji dan jual, danperdagangannya masih dilakukan melalui Sumut, bukan dari Aceh, nilai ekonomi yang diterima dari penyulingan daun nilam itu jadi rendah.

Banyak lagi komoditi kehutanan, pertanian dan perkebunan, kelautan dan perikanan, peternakan,  pertambangan, yang bisa menjadi komoditi ekspor bernilai ekonomi tinggi. “Tapi karena pabrik pengolah dan teknologinya belum tersedia di Aceh, kita hanya menjadi penyuplai bahan mentah dan setengah jadi. Sedangkan produk jadinya dan siap sajinya di olah di luar negeri,” tandas Ismail Rasyid.

Sementara Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah  mengatakan, kehadiran PT Trans Continent di KIA Ladong, akan menjadi daya tarik bagi para investor. Menurutnya, setelah PT Trans Continent, ada beberapa perusahaan lain yang akan masuk ke KIA Ladong. Diantaranya perusahaan pengolah kerangka baja ringan dan berat, dari Korea dan dalam negeri yang akan membangun gudang logistik di KIA Ladong. Pengusaha Aceh yang bergerak dalam pergunangan juga, akan membangun gudang tempat penampungan produk jadinya di KIA Ladong.

Permudah Perizinan

PADA kesempatan itu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengingatkan para SKPA untuk memberi rasa nyaman bagi para investor. Rasa nyaman itu, katanya, bisa berupa mempermudah dalam pengurusan izin dan dokumen lainnya.  “Kalau diperbolehkan, suruh mereka jalan dulu bangun pabriknya. Setelah itu baru urus dan bantu pengurusan perizinannya,” ujarnya.

Karena, tambah Nova, jika investor dibuat nyaman, maka mereka tidak akan ragu-ragu menanamkan modalnya di Aceh. Kenyamanan investor harus menjadi perhatian para SKPA. “Ini sangat penting untuk memberikan kepercayaan dan kenyamanan kepada investor yang masuk Aceh. Mereka diurus secara maksimal untuk berinvestasi di daerah ini,”ujar Nova Iriansyah.(her)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved