Massa Bakar Keranda di Kantor Gubernur, Tolak Aktivitas Tambang di Linge

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Bela Linge (Gerbel) menggelar aksi demo penolakan terhadap aktivitas tambang

Massa Bakar Keranda di Kantor Gubernur, Tolak Aktivitas Tambang di Linge
Foto: Miko Arigayo
Para pendemo dari Gerakan bela Linge membakar keranda di halaman Kantor Gubernur Aceh, Kamis (6/9/2019). 

BANDA ACEH - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Bela Linge (Gerbel) menggelar aksi demo penolakan terhadap aktivitas tambang, Kamis (5/9/2019) siang di halaman Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh. Aksi itu diwarnai saling dorong hingga pembakaran keranda.

Dalam aksi itu mahasiswa menolak kehadiran PT Linge Mineral Resource (LMR) yang akan melakukan aktivitas ekplorasi emas di Aceh Tengah. Karena dikhawatirkan dalam merusak lingkungan.

Kemarin, massa yang merupakan mahasiswa berbagai kampus dan daerah itu berkumpul di Taman Ratu Safiatuddin. Lalu dengan menandu keranda dan berbagai poster, mereka bergerak ke halaman Kantor Gubernur.

Koordinator Aksi, Meli Saputri kepada Serambi kemarin mengatakan, para mahasiswa yang datang ke kantor gubernur tidak dijumpai oleh pejabat Pemerintah Aceh. Sehingga jelang akhir aksi terjadi aksi saling dorong antara petugas dengan mahasiswa serta pembakaran keranda.

Meli mengatakan, pembakaran keranda itu sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap rencana membuka tambang emas. Tambang emas di Linge itu berada di empat kampung yaitu Linge, Penarun, Owaq, dan Lumut.

"Tuntutan kami, mendesak Pemerintah Aceh supaya tidak memberikan rekomendasi kelayakan lingkungan. Karena tambang ini memang dapat merusak lingkungan," ujar Meli.

Lalu mereka juga mendesak pihak pemerintah Aceh  supaya tidak menerbitkan izin lingkungan untuk operasi tambang itu. Terakhir, mereka juga meminta pemerintah Aceh menyatakan sikap secara tegas menolak hadir dan beroprasinya PT LMR.

Meli menegaskan, penolakan tambang Linge akan terus dilakukan. Karena dikhawatirkan keberadaan tambang akan merusak lingkungan di kawasan dataran tinggi Gayo. Serta dapat menganggu lahan pertanian di sekitar tambang, yang saat ini banyak ditanami kopi. "Kita juga khawatir nanti akan mungkin danau laut tawar yang kedua," tandasnya.

Dalam pernyataan tertulisnya, Koordinator Aksi, Meli Saputri mengatakan, PT LMR (Linge Mineral Resource) merupakan perusahaan yang sebagian besar saham dimiliki asing atau Penanaman Modal Asing (PMA). Mereka rencananya akan mengelola area sekitar 9.684 hektare di Kecamatan Linge dan akan memproduksi sekitar 800 ribu ton/tahun.

Kawasan Linge diyakini oleh masyarakat Gayo hingga kini sebagai awal mula peradaban rakyat Gayo. Karena terdapat peninggalan sejarah seperti makam Reje Linge dan artefak-artefak peninggalan Kerajaan Linge. Sehingga kehadiran tambang dikhawatirkan hilangnya situs sejarah tersebut.

"Dampak dari aktivitas pertambangan juga akan menyebabkan kekeringan lahan, karena sumber air semakin terganggu pada musim panas dan pada musim hujan dapat terjadi erosi karena berkurangnya areal resapan air," ujarnya.

Kemudian, aktivitas tersebut menyebabkan terganggunya habitat satwa liar yang berada di kawasan Linge. Apabila hal itu terjadi kemungkinan besar dapat mengganggu keselamatan masyarakat setempat.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved