Minggu, 17 Mei 2026

Berbekal Becak, Satu Keluarga Babalan Susuri Jalan, Botol Minuman Bekas Jadi Sumber Pendapatan  

Satu keluarga miskin dari Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) menjadikan jalan nasional

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Hendra dan keluarga asal Langkat mencari botol bekas menggunakan becak motor sampai ke Aceh Timur. Foto direkam, Sabtu (7/9/2019). 

IDI - Satu keluarga miskin dari Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) menjadikan jalan nasional sebagai sumber pendapatan. Kepala Keluarga Hendra (42) bersama istri Mariani (36) dan dua anak, Raga (20) dan Reza (6) mengumpulkan botol minuman bekas di sepanjang jalan yang disusuri dengan beca mesin sampai Idi, Aceh Timur.

Pekerjaan itu telah dilakoni keluarga itu selama beberapa tahun, melintasi jalan lintas provinsi, Sumatera Utara ke Aceh. "Sudah enam tahun kami bekerja mencari botol bekas minuman di jalan raya, dari Pangkalan Brandan, hingga Aceh Timur, " ujar Hendra kepada Serambi, di Idi Rayeuk, ibu kota Aceh Timur, Sabtu (7/9).

"Kami hanya sampai Idi, karena tauke kami hanya bersedia menampung sampai pukul 20.00 WIB, dengan harga Rp 2000 per kilogram" kata Hendra, yang mengaku tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Dia mengaku masih mengontrak rumah di Gang Datok, Pangkalan Brandan.

Hendra beserta istri dan dua anaknya tidak ambil pusing dengan pelintas di jalan raya, dengan tetap fokus memperhatikan setiap botol minuman bekas di tepi jalan dan saat botol minum tampak, istrinya, Mariani dan anaknya Raga langsung turun mengambil dan memasukkan ke dalam goni berukuran besar, sedangkan Reza, anak terkecil hanya duduk di atas beca.

"Tidak hanya botol minuman berupa Aqua, dan botol lainnya, tapi juga botol minuman kaleng, dan botol bekas oli kami ambil di sepanjang jalan raya ini," ujar Hendra. Berbeda dengan harga botol Aqua, kata Hendra, botol oli dibeli Rp 4 ribu/kg dan kaleng bekas Rp 10 ribu/kg. Dalam sehari katanya, mereka bisa mengumpulkan botol bekas minuman Aqua sampai puluhan kilogram.

“Paling banyak, 60 kilogram per hari dan jika dikali Rp 2 ribu/kg, maka kami mendapat Rp 120 ribu per hari dengan jam kerja dari Pangkalan Brandan pukul 02.00 WIB dini hari," jelas Hendra, seraya menyebutkan terkadang juga hanya dapat mengumpulkan botol bekas sebanyak 40 kilogram. Meski membutuhkan semangat yang tinggi, dan harga jual tak seberapa. Namun Hendra dan keluarga tampak semangat mengumpulkan botol bekas minuman.

Tak sedikitpun terlihat rasa malu, atau minder, mereka tetap semangat mengumpulkan botol bekas sebanyak-banyaknya. Karena hanya berdasarkan hasil penjualan botol bekas tersebutlah mereka bisa mewujudkan keinginan dan biaya menyambung hidup. "Hasilnya untuk makan. Kalau untuk nyekolahkan Reza belum mampu, karena tak punya uang," ungkap Hendra, seraya mengucap syukur masih bisa berusaha mencari rezeki.

"Jangankan HP, untuk makan aja susah," jawab Hendra, saat Serambi meminta no HP Hendra yang tak memiliki no hp. Usai karung besar berisi puluhan kilogram botol bekas diikat di atas becak bagian belakang. Hendra, beserta keluarga melanjutkan perjalanan pulang ke Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. (c49)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved