Selasa, 21 April 2026

Satu Penderita AIDS Meninggal, Dinkes Nagan Raya Intensifkan Penyuluhan

Identitas penderita penyakit berbahaya dan mematikan yang menyerang kekebalan tubuh tersebut diketahui Dinas Kesehatan (Dinkes) Nagan Raya

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/SA'DUL BAHRI
Para keder kesehatan desa mengikuti kegiatan pelatihan sosialisasi HIV/AIDS di masyarakat yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Nagan Raya, di Kompleks Perkantoran Suka Makmue, Rabu (11/9/2019). 

SUKA MAKMUE - Satu dari tujuh penderita HIV/AIDS yang terdata di Nagan Raya telah meninggal, beberapa waktu lalu. Identitas penderita penyakit berbahaya dan mematikan yang menyerang kekebalan tubuh tersebut diketahui Dinas Kesehatan (Dinkes) Nagan Raya saat mereka melakukan pengobatan di Banda Aceh.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Nagan Raya, dr Dedi Apriadi mengatakan, tujuh penderita HIV/AIDS yang terdeteksi tersebut merupakan data yang dihimpun pihaknya pada periode 2017-2019. “Menyangkut dengan identitas para pasien yang sudah terdeteksi dan meninggal dunia, tidak bisa kita sebutkan karena belum dibolehkan lantaran bisa meresahkan keluarganya," terang Dedi Apriadi.

Meski yang terdata hanya tinggal enam penderita, namun Dedi menduga, jumlah penderita HIV/AIDS di daerah itu sebenarnya bisa lebih dari itu, karena banyak masyarakat yang masih malu dan enggan memeriksa diri ke Dinkes atau ke RSUD Sultan Iskandar Muda (SIM) Nagan Raya.

“Karena itu, kita saat ini sedang memberikan penyuluhan terhadap semua kader kesehatan desa sebagai ujung tombak untuk memberikan pengetahuan dan bahaya virus HIV/AIDS tersebut,” ujar dr Dedi Apriadi kepada Serambi di sela-sela pembekalan 222 kader kesehatan desa di Aula Kantor Dinas Kesehatan Nagan Raya, Rabu (11/9).

Menurut Kabid P2P, pembekalan para kader kesehatan desa itu merupakan bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit yang belum ditemukan obatnya tersebut. "Kita berikan pemahaman kepada kader kesehatan desa tentang apa itu HIV, bagaimana penularan HIV, dan cara pencegahannya,” ulas dia.

Dedi memaparkan, salah satu cara mendeteksi virus HIV adalah dengan melakukan pemeriksaan darah pada para pendonor dan pemeriksaan darah bagi ibu hamil ketika mereka memeriksakan kandungannya. “Bila hasil pemeriksaan positif, ibu hamil harus segera minum obat ARV agar penularan HIV ke bayi yang dikandungnya dapat dicegah,” ucapnya.

Pada bagian lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Nagan Raya juga menemukan tujuh penderita penyakit kusta di daerah itu pada tahun 2019. Ketujuh pasien tersebut kini dalam penanganan petugas kesehatan di kecamatan masing-masing.

“Penyakit kusta ini dapat sembuh dengan cara berobat rutin selama 6 bulan hingga 1 tahun. Namun ada juga yang tidak bisa disembuhkan, bahkan ada yang cacat akibat penyakit itu," ujar Kabid P2P Dinkes Nagan Raya, dr Dedi Apriadi kepada Serambi, Rabu (11/9).

Dedi menjelaskan, petugas kesehatan terus mendeteksi secara dini pasien penyakit tersebut agar dapat dilakukan penanganan secara cepat. “Karena para pasien penyakit ini sangat minim yang datang sendiri untuk berobat. Makanya, pihak petugas lah yang harus sering mengunjungi para penderita penyakit kusta ke rumah-rumah mereka untuk memberikan obat secara teratur,” ungkapnya.

Sejauh ini, beber dia, Dinas Kesehatan hanya menemukan 7 penderita penyakit kusta di Nagan Raya. “Kami berharap, ke depan penyakit ini semakin kecil karena penanganan kusta di Nagan Raya sudah masuk dalam tahap eliminasi,” tukasnya.(c45)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved