Prakiraan cuaca
Langit Banda Aceh Seperti Berkabut, Benarkah Terpapar Asap dari Riau? Ini Penjelasan BMKG
Menurut Kasi Data BMKG Bandara SIM, Zakaria jika dilihat dari peta sebaran asap, asap akibat karhutla Pekanbaru tidak mengarah ke Aceh.
Penulis: Subur Dani | Editor: Nur Nihayati
Menurut Kasi Data BMKG Bandara SIM, Zakaria jika dilihat dari peta sebaran asap, asap akibat karhutla Pekanbaru tidak mengarah ke Aceh.
Laporan Subur Dani | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dalam dua hari terakhir, langit Kota Banda Aceh tampaknya diselimuti kabut, terlihat putih seperti cuaca mendung di saat pagi hari.
Pantauan Serambinews.com, Senin (16/9/2019), hampir keseluruhan terlihat sama, mulai dari wilayah kota hingga ke kawasan Darussalam.
Ada yang menyebutkan, Banda Aceh terpapar asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.
Benarkan demikian? Simak penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar ini berikut ini.
Menurut Kasi Data BMKG Bandara SIM, Zakaria jika dilihat dari peta sebaran asap, asap akibat karhutla Pekanbaru tidak mengarah ke Aceh.
"Sudah beberapa hari kami pantau demikian," kata Zakaria, Senin (16/9/2019).
Bila ditinjau dari suhu udara (tanpa alat thermometerpun), suhu udara terasa dingin bila berkendaraan dengan sepeda motor.
Menurut Zakaria, ini menandakan bahwa kabut itu bukan kabut asap.
"Tetapi kabut uap air, kalau kabut asap juga akan menimbulkan bau seperti bau barang yang hangus," katanya.
Dari pantauan BMKG Aceh, kabut yang tampak di pagi hari dalam tiga hari ini, yang nampak di sejumlah wilayah Provinsi Aceh diperkirakan bukan kabut yang disebabkan karena adanya karhutla dari Pekanbaru atau karhutla Aceh.
"Sudah beberapa hari di Aceh tidak ada kebakaran hutan yang signifikan, di samping suhu udara di pagi hari relatif dingin dengan suhu pagi hari berkisar antara 22 - 25°C dan uap air diudara (RH) relatif tinggi antara 90 - 98 persen," kata Zakaria.
Di samping itu juga, mulai pulul 10.00 wib ke atas kabut sudah mulai menghilang bahkan visibity di atas 8 km jarak pandangnya.
"Sedangkan bila itu kabut asap kebalikan apa yang kami sebut, suhu udara tinggi atau di atas 26 °C di pagi hari, RH rendah atau di bawah 90 persen dan juga kabut akan bertahan hingga sore hari bahkan berhari-hari bila tidak diguyur hujan lebat," katanya.
Menurut Zakaria, bila dilihat dari peta sebaran asap yang dikeluarkan oleh BMKG Pusat, juga belum sampai asap dari Pekanbaru ke Aceh.
Baca: Ini Jumlah Lansia di Bireuen dan Nilai Bantuan Diterima dari Kemensos
Baca: Mengenang Chrisye, Penyanyi Legendaris Indonesia, Rokok dan Kanker Paru Menghantuinya
Baca: Perangkat Desa Ditatar Tentang Lembaga Adat
"Dan yang perlu kami sampaikan kepada masyarakat adalah, Aceh secara umum sudah dalam masa transisi, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan.
Ini artinya Provinsi Aceh kita perkirakan akan lebih banyak diguyur hujan walau dengan hujan yang tidak merata," ujarnya.
Tapi walaupun demikian, pihaknya tetap mewaspadai terhadap kebakaran hutan di masa transisi ini karena cuaca cerah masih ada potensinya.
"Di samping mewaspadai terhadap karhutla, BMKG Aceh juga mengingatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi masuknya musim penghujan," jelasnya.
Terutama yang harus diwaspadai adalah banjir dan longsor untuk daerah dataran tinggi, untuk itu perlu menormalisasi sungai-sungai, membersihkan drainase agar air hujan dapat mengalir dengan lancar agar sebagian air hujan juga bisa terserap ke dalam tanah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/grafis-peta-sebaran-asap.jpg)