Rabu, 15 April 2026

Para Cukong Lahan Dituding Penyebab Kebakaran Hutan di Sumatera dan Kalimantan

Cukong-cukong lahan tersebut membiayai warga untuk membuka lahan dengan cara dibakar

Editor: Muhammad Hadi
(Istimewa/kompas.com)
Tangkapan layar video kebakaran hutan dan lahan di Jalan Pelang-Tumbang Titi, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, hingga Minggu (18/8/2019) malam. 

Modal untuk membuka sebuah lahan kebun sawit cukup besar, yakni mencapai Rp 40 juta hingga Rp 60 juta.

Oleh karena itu, tidak mungkin jika pembakaran lahan di kawasan Sumatera dan Kalimantan dilakukan oleh masyarakat atau petani biasa

SERAMBINEWS.COM - Direktur Policy dan Advocacy WWF Indonesia Aditya Bayunanda memandang bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan dikarenakan para cukong lahan.

Cukong-cukong lahan tersebut, kata dia, membiayai warga untuk membuka lahan dengan cara dibakar.

"Saya sih melihatnya, banyak yang sifatnya jadi cukong modelnya. Bisa juga konteksnya perusahaan. Saya lihat, polanya sekarang cukong itu yang membiayai oknum-oknum masyarakat untuk melakukan pembukaan lahan-lahan itu," ujar Aditya.

Baca: Bayi Terpapar Kabut Asap di Riau, Orang Tuanya Tak Punya Biaya Berobat

Sebuah kawasan hutan di Kalimantan Tengah terbakar, 14 September 2019.
Sebuah kawasan hutan di Kalimantan Tengah terbakar, 14 September 2019. ((dok BBC Indonesia))

Hal itu disampaikan saat media briefing WWF Indonesia bertajuk "Indonesia Darurat Karhutla dan Upaya Penyelematan Hutan yang Tersisa" di kawasan TB Simatupang, Jakara Selatan, Selasa (17/9/2019).

Menurut dia, modal untuk membuka sebuah lahan kebun sawit cukup besar, yakni mencapai Rp 40 juta hingga Rp 60 juta.

Oleh karena itu, tidak mungkin jika pembakaran lahan di kawasan Sumatera dan Kalimantan dilakukan oleh masyarakat atau petani biasa.

Baca: Malaysia Siapkan Hujan Buatan, Negara Tetangga Mulai Keluhkan Kiriman Asap dari Indonesia

"Bisa membuka 50-60 hektare, itu pasti ada yang ikut membiayai, memodali," kata dia.

Aditya mengatakan, dalam 7 hari terakhir, berdasarkan pantauan melalui aplikasi eye in the forest, titik api atau hotspot terjadi di banyak tempat di kawasan Sumatera.

Hotpsot tersebut muncul di area hutan produksi yang statusnya konsesi maupun di luar konsesi.

Paling banyak, hotspot tersebut terdapat di area penggunaan lain (APL) atau kawasan bukan hutan dan wilayah-wilayah areal konservasi, salah satunya di wilayah Londerang.(*)

Baca: Ribuan Pelat BL Menumpuk di Kantor Samsat Abdya, Silakan Dicek, Mana Tahu Termasuk Milik Anda

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: WWF Indonesia: Kebakaran Hutan gara-gara Cukong Lahan 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved