Jurnalisme Warga
Talaqqi, Program Unggulan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Berbicara wisata tentu bukan hanya soal piknik atau wahana alam bebas dengan laut atau pegunungan yang membentang
OLEH M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh
Kali ini saya coba membahas tentang salah satu lokasi yang bisa menjadi wisata religi bagi para pencinta ilmu. Berbicara wisata tentu bukan hanya soal piknik atau wahana alam bebas dengan laut atau pegunungan yang membentang. Wisata juga dapat dilakukan pada sebuah ruangan, monumen, bahkan universitas, tak terkecuali Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Sebab, wisata secara defenitif adalah bepergian bersama-sama untuk bersenang-senang ke suatu lokasi yang sebelumnya mungkin masih asing bagi si pengunjung.
Beberapa waktu lalu saat berbincang dengan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat di ruangannya, ada beberapa program kreatif yang mungkin sangat disayangkan bila terlewatkan. Program ini cukup solutif, karena berupaya menjembatani dikotomi antara masyarakat dayah dan basis UIN Ar-Raniry yang sejauh ini kerap terjadi pergesekan pemikiran. Program ini disebut dengan istilah ‘talaqqi’, yakni program unggulan kebanggaan fakultas.
Talaqqi sudah mulai dibentuk sejak Fuadi menjabat dekan pada tahun 2018. Dalam bahasa Arab, talaqqi bermakna menuntut ilmu, sedangkan secara lebih substantif dapat diartikan sebagai pembelajaran berbasis dayah. Dalam pengembangannya, talaqqi memiliki tiga pilar, yaitu keislaman, kebahasaan, dan keterampilan.
Keislaman
Pilar ini bervisi agar lulusan Ushuluddin dan Filsafat dapat memahami Islam secara mendalam, layaknya sarjana yang mapan secara intelektual. Ini merupakan respons dari aksi kurikulum yang dianggap belum berjalan maksimal. Kurikulum yang ada dinilai tak mampu meningkatkan pemahaman keislaman mahasiswa karena hanya sebatas kontestasi birokrat semata.
Agar target ini tercapai, tentu dibutuhkan percepatan. Perkuliahan dalam praktiknya seperti potongan puzzle yang belum utuh. Agar sempurna, talaqqi hadir guna meningkatkan kemampuan mahasiswa agar lulusan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat nantinya mampu membaca kitab. Menurut dekan, agar harapan ini bisa terealisasi, maka harus ada keseriusan yang dilakukan secara rutin dan mendalam. Salah satu upayanya adalah akan dihadirkan tenaga pendidik atau dosen yang mahir membaca kitab seperti lulusan dayah yang menyelesaikan studi di Mesir, Sudan, Arab, dan negara Timur Tengah lainnya.
Model pemahaman membaca kitab dinilai urgen, mengingat sumber Islam yang hakiki adalah yang berasal dari kitab-kitab primer. Kendati di zaman milenial sekarang sudah banyak buku terjemahan dari bahasa Arab, tapi tanpa memahami bahasa Arab dan skill baca kitab kuning, misalnya, para mahasiswa dikhawatirkan akan terseret arus pemikiran orientalis yang terkadang jauh dari sumber asli. Model inilah yang sedang dicari dan dikembangkan oleh fakultas.
Ushuluddin, seperti namanya, adalah induk. Tidak boleh berdiri sepihak, apalagi saling menyesatkan satu dan yang lainnya. Program membaca kitab ini diplot selama tiga tahun. Harapannya, walaupun output (mahasiswa) nantinya tidak maksimal, minimal sudah bisa membaca, bisa mengartikan, dan mendeskripsikan teks. Bagi mahasiswa yang serius, tiga tahun dirasa cukup untuk menjadikannya kelak sebagai ahli tafsir dan pembedah kitab-kitab klasik. Dalam budaya Aceh, apabila sudah mampu membaca kitab, maka sudah mendapat mandat (ijazah) untuk menjadi ulama (teungku). Program ini sudah berlangsung sekitar satu tahun, dengan agenda sepuluh kali tatap muka setiap semesternya. Dengan mampu membaca kitab, keilmuan Islam diyakini akan berkembang secara efisien dan siap bersaing.
Kebahasaan
Program talaqqi mengajarkan mahasiswa secara lebih terstruktur, baik dalam muhadasah serta mengkaji ilmu nahwu dan saraf. Ini adalah indikator penting yang menjadi aspek kemahiran dalam menginterpretasikan kitab. Selama ini, banyak alumni dayah tamatan MAN sederajat yang masuk ke UIN bukan makin berkembang kemampuan bahasa Arabnya, tapi justru kian kabur karena kesibukan kampus yang tak memforsir kemampuan kebahasaan mereka sebelumnya.
Pada dataran kurikulum, selama ini hanya ada bahasa Arab 1 dan 2, tidak ada tujuan yang serius agar bahasa Arab dapat dimengerti secara totalitas. Sejauh ini, pengajar biasanya tidak terlalu menargetkan mahasiswa, sedangkan mahasiswa tak begitu peduli, karena dianggap beban SKS semata. Itu terbukti, dari banyaknya alumni universitas Islam tapi masih buta bahasa Arab.
Idealnya sebuah kampus Islam harus menghasilkan lulusan yang cakap berbahasa Arab. Sebab, bahasa adalah alat yang tanpa itu maka tidak mungkin bisa membedah nilai keislaman secara hakiki. Tapi realitasnya, justru pisau bedah keilmuan ini hanya dipahami oleh jurusan terkait saja, seperti Tarbiah Bahasa Arab, Sastra Arab, dan sebagainya.
Ketika bisa berbahasa Arab, lulusan Ushuluddin nantinya berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Fakultas dengan segala potensinya akan mendukung, baik secara relasi maupun informasi agar mahasiswanya bisa go international. Oleh sebab itu, mahasiswa melalui agenda talaqqi akan digembleng sehingga memiliki skill kebahasaan (Arab/English), serta lulus nilai TOEFL atau TOAFL dengan standar internasional. Melalui program kebahasaan talaqqi ini, alumni sudah bisa bermimpi ke luar negeri. Mereka harus bisa melanjutkan studi minimal ke Mesir, Sudan, Maroko, dan negara-negara berbasis Islam lainnya dengan target akan kembali untuk membangun Ushuluddin suatu hari nanti.
Keterampilan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/m-anzaikhan-sfili-mag-dosen-fakultas-ushuluddin-dan-filsafat-uin-ar-raniry.jpg)