Berita Aceh Tamiang
Begini Panen Perdana Padi Hasil Penangkaran di Aceh Tamiang
"Kasihan petani lokal kita karena terganjal peraturan ini. Kami berharap ada kebijakan untuk membantu petani lokal," kata Yunus
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Nur Nihayati
"Kasihan petani lokal kita karena terganjal peraturan ini. Kami berharap ada kebijakan untuk membantu petani lokal," kata Yunus
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Pemkab Aceh Tamiang untuk pertama kalinya di tahun ini memanen padi dari benih hasil penangkaran di Kampung Rantaupakam, Kecamatan Bendahara, Rabu (2/10/2019).
Panen perdana ini dihadiri sejumlah pejabat provinsi maupun kabupaten, di antaranya Kabid Produksi Distanbun Aceh Safrizal, Wakil Bupati Aceh Tamiang HT Insyafuddin dan sejumlah pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Aceh Tamiang.
"Kebutuhan pangan ke depannya akan terus meningkat seiring terus bertambahnya jumlah penduduk.
Baca: Merasa Terisolir, Mahasiswa Kampus PSDKU Unsyiah Gayo Lues Butuh Jaringan Seluler
Berbagai program terus kami lakukan untuk mendorong peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi," kata Kadis Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Taniang, Yunus.
Dijelaskan Yunus, tahun ini Aceh Tamiang menanam benih padi di atas lahan 155 hektare dengan hasil produksi 157 ribu kilogram atau rata-rata produktivitas mencapai empat ton per hektare.
Baca: Sosok Istri Khabib Nurmagomedov, Wajah Cantiknya Dibalut Cadar Tak Bisa Dilihat Orang Sembarangan
Program penangkaran ini sendiri disebutnya sudah dimulai sejak 2015.
Ketika itu benih padi ditanam di areal lahan 80 hektare dengan hasil produksi 170 ribu kilogram, tahun berikutnya 190 hektare dengan produksi 251 ribu hektare.
Selanjutnya di tahun 2017 seluas 105 hektare dengan hasil produksi 132 ribu kilogram dan 2018 areal tanam menjadi 115 hektare dengan produksi benih padi 158 ribu kilogram.
Baca: Terkait Pemberian Sanksi kepada Siswa yang Ikut Demo, Mahasiswa Temui Kepala Dinas Lhokseumawe
"Kami berharap melalui panen hari ini bisa memotivasi kelompok tani penangkar agar lebih bersemangat mengelola usaha taninya menjadi lebih baik," kata Yunus.
Saat ini kata dia, Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah yang berkontribusi penghasil benih padi bersertifikat di Aceh.
Namun dari delapan kelompok penangkar yang ada, cuma tiga yang aktif.
Dalam kesempatan itu Yunus sempat mengeluhkan sistem pendistribusian yang harus menggunakan e-katalog.
Ini menyebabkan benih padi yang dihasilkan sulit dipasarkan karena belum adanya distributor lokal yang terdaftar di e-katalog.
"Kasihan petani lokal kita karena terganjal peraturan ini. Kami berharap ada kebijakan untuk membantu petani lokal," kata Yunus. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/panen-padi-hasil-penangkaran.jpg)