Jurnalisme Warga

Burung Gagak dan Pertanda Kematian

SAAT mendampingi ibunda berobat ke sebuah rumah sakit di Kota Malaka, Malaysia, beberapa tahun lalu, masih terngiang ucapan

Burung Gagak dan Pertanda Kematian
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

SAAT mendampingi ibunda berobat ke sebuah rumah sakit di Kota Malaka, Malaysia, beberapa tahun lalu, masih terngiang ucapan ibu saya ketika melihat kawanan burung gagak hitam menghiasi Kota Malaka. Kawanan burung tersebut beterbangan hilir mudik dan bertengger di atas pohon, bahkan di trotoar, di atap hotel dan toko atau rumah.

"Menarik ya Malaysia. Kalau di tempat kita (maksudnya Aceh -red) tidak terlihat lagi pemandangan seperti ini. Di tempat kita, burung gagak sering dikaitkan dengan berita duka, orang yang akan meninggal," ucap ibu.

Menarik menyaksikan, burung yang penuh misteri ini bisa hidup berdampingan dengan masyarakat kota metropolitan. Miris rasanya kalau membandingkan dengan di Aceh, tidak kita temukan lagi pemandangan seperti ini, kawanan burung dengan beragam jenis dapat hidup berdampingan dan meramaikan suasana kota. Mereka disayangi pengunjung dan warga kota, diberi makan, bukan malah dijerat atau bahkan ditembaki.

Burung gagak adalah anggota burung pengicau yang memiliki ciri khas, bulu berwarna dominan gelap (hitam), ada juga yang berwarna hitam dan putih, cokelat atau abu-abu. Suaranya cukup nyaring dan serak dengan paruh yang panjang dan keras. Kalau di Aceh, orang menyebutnya dengan cicem got-got. Sekarang sudah sangat sulit menemukan burung ini. Jika pun ditemukan, habitatnya di rawa dan bukit.

Di banyak negara keberadaan burung gagak hitam sering dikaitkan dengan cerita-cerita mistis dan pertanda akan adanya kematian. Dalam kepercayaan masyarakat Eropa kuno, gagak hitam adalah jelmaan Dewi Morrigan (Dewa Perang dan Kehancuran). Kemunculannya di suatu tempat akan memberi pertanda bahwa di tempat tersebut bakal mengalami perang atau musibah yang berujung pada kematian. Burung ini juga dipercaya sebagai hewan piaraan para penyihir.

Jika mengunjungi Kota London, salah satu detinasi terkenal yang banyak dikunjungi turis mancanegara adalah Tower of London (Menara London). Sebuah kastil kuno nan megah abad ke-11 (dibangun tahun 1066 Masehi) berada di tepi utara Sungai Thames dan dihuni sekumpulan burung gagak. Di balik kemegahan dan keindahannya, bangunan ini menyimpan kisah tragis, lokasi tempat dieksekusi atau dipenggalnya Lady Jane Gray pada tahun 1554, Ratu Inggris yang hanya menjadi penguasa sembilan hari (Nine days’ Queen). Konon, karena bau mayat pemenggalan Lady Jane Gray itulah yang menyebabkan burung gagak mendatangi kastil tersebut.

Sejak kejadian itu, sekumpulan burung gagak mendiami kastil dan keberadaannya dikaitkan dengan legenda yang banyak dipercaya oleh warga Inggris. Jika burung gagak tersebut diusir atau meninggalkan kastil maka bangunan tersebut bakal ambruk (Economy.okezone.com, 11/06/2017).

Saya bertanya pada antropolog Australia, Dr Bianca Smith, apakah di Australia ada kepercayaan seperti itu? Ia katakan ada, yakni pada suku-suku Aborigin di mana masing-masing suku memiliki pemaknaan yang berbeda-beda tentang gagak. Namun, secara umum, katanya, gagak dianggap burung penjaga hutan, burung sakti (berkaitan dengan kesaktian dewi-dewi/pendekar perempuan suku Celtic), dan pengantar jiwa orang yang meninggal ke surga. Masih menurut Dr Bianca, dalam budaya suku Celtic di Inggris (Skotlandia) yang pernah menjadi suku terkuat di Eropa, burung ini dianggap muncul sebagai pertanda kematian.

Dalam obrolan bersama keluarga besar dari pihak istri (Saudara yang berdarah Bugis), saya mendapat cerita bahwa salah seorang keluarganya yang meninggal di Sumatra Barat, sehari sebelumnya keluarga mereka yang di Medan, dikejutkan dengan suara koak-koak burung gagak di tengah malam di atap rumahnya. Suaranya begitu nyaring dan jelas terdengar. Tapi ketika dilihat, burung itu tak ada. Katanya, burung itu tidak dapat dilihat, kita hanya dapat dengar suaranya saja. Kalau suaranya terdengar jelas dekat kita maka itu pertanda pesan bahwa orang yang terdekat kita akan ada yang meninggal. Tapi kalau ia hanya suara yang melewati rumah kita dan hilir mudik maka itu pertanda akan ada orang di sekitar rumah kita atau di kampung kita yang meninggal.

Saya teringat pada tahun ‘90-an, ketika bersilaturahmi ke rumah Mami Cut Gambang (kakak kandung ayah saya) di Spoordex, Banda Aceh, ia bercerita dua hari sebelum ayah saya meninggal di RSUZA Banda Aceh, ia mengalami kejadian didatangi burung gagak. Sewaktu ayah sedang diopname, ia dikejutkan dengan kedatangan burung gagak yang hinggap di jendela rumahnya. Burung terlihat jelas. Waktu itu, sekitar pukul 4 sore. Ia langsung terkejut dan merinding. Burung itu terus hinggap, tak mau pergi, dan bersuara koak-koak. Saking merinding, ia sempat sampaikan, “Semoga kedatangan kamu tidak membawa berita buruk bagi keluarga kami. Semoga ini menjadi pesan yang baik untuk kami.” Setelah itu, barulah burung itu pergi. Tapi Mami langsung lemas dan sedih, teringat adiknya yang sedang berbaring di RSUZA. Dua hari kemudian, ayah saya pun meninggal. Pesan yang disampaikan oleh burung gagak menjadi pengalaman kedua yang dialami Mami Cut Gambang yang membuat ia semakin peka akan pesan tersebut.

Ternyata, cerita-cerita yang dianggap mitos ini, akhirnya saya alami juga. Sebelum ibu dan adik ipar saya berangkat haji, ibu berpesan untuk menjaga adik dan tiga keponakan yang masih kecil di Banda Aceh. Suatu malam sekitar pukul 02.30 WIB, saya dikejutkan oleh suara nyaring “koak-koak” di samping jendela kamar ibu. Malam itu saya temani keponakan tidur di kamar ibu. Saya intip dari jendela untuk mencari dari mana sumber suara, tapi tidak terlihat burung gagaknya. Lalu saya tidur kembali. Kemudian dibangunkan kembali oleh suara koak-koak yang lebih nyaring. Saya intip kembali dari jendela, tetap tidak kelihatan burungnya. Lalu saya duduk dan termenung. Dalam hati berdoa, semoga bukan pertanda tidak baik. Dua hari kemudian, saya mendapat berita bahwa mertua saya meninggal di Medan, Sumatera Utara.

Mitos burung gagak hitam yang dikaitkan dengan pertanda kematian atau membawa kesulitan hidup telah menjadi cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Tak terkecuali di Aceh. Karena itu dianggap mitos maka orang dengan mudah mengatakan itu sesuatu yang tidak ilmiah, tidak masuk akal (tidak rasional), dan tidak benar.

Dalam dunia antropologi, sebagaimana kata antropolog Dr Bianca, kepercayaan itu diistilahkan “ethnocentric.” “Kalau kita beranggapan bahwa itu tidak masuk akal maka kita akan merasa paling benar atau ilmiah atau merasa orang yang paling tahu. Sebenarnya itu hanya tidak masuk akal bagi orang yang belum bisa mengerti. Kalau bisa mengerti dan alami, baru bisa dikatakan masuk akal,” ungkapnya. Ya, demikianlah adanya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved