Breaking News:

Pendemo dan Sekper PIM Berdebat, Tuntut Besi Eks PT AAF Dihibahkan

Seratusan masyarakat Kecamatan Dewantara Aceh Utara dari berbagai elemen, Senin (7/10), berdemo

Serambi/Jafaruddin
Warga Kecamatan Dewasa Aceh Utara demo PT PIM di kecamatan setempat, Senin (7/10). serambi/Jafaruddin 

LHOKSUKON – Seratusan masyarakat Kecamatan Dewantara Aceh Utara dari berbagai elemen, Senin (7/10), berdemo ke pintu gerbang PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berada di pinggir jalan nasional. Aksi itu diwarnai dengan perdebatan  pendemo dengan Sekretaris Perusahaan PIM, Yuanda Wattimena saat memberikan penjelasan terkait tuntutan pendemo yang meminta besi tua eks PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) dihibahkan ke masyarakat. 

Mereka mulai berkumpul di depan Masjid Bujang Salim Keude Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara sekira pukul 08.30 WIB. Lalu, sekira pukul 09.30 WIB, berangkat ke pintu gerbang PIM dengan menggunakan sepeda motor, dan mobil. Setelah memarkir kenderaannya, seratusan warga mulai berdemo.

Demo itu diawali dengan penyampaian orasi oleh koordinator aksi, Musliadi Salidan. “Kita memiliki rakyat saudara, tapi ketika aspirasi kita ditolak dan dibungkam tanpa ditimbang. Bahkan kita diadu domba sesama kita, maka hanya ada satu kata, lawan,” ujar Musliadi mengawasi orasi.

Kemudian dilanjutkan oleh sejumlah perwakilan organisasi lainnya. Tak lama setelah berdemo, warga meminta kepolisian tidak menghalangi pemasangan spanduk bertuliskan “PT PIM DISEGEL,”. Namun, rencana tersebut tak berhasil karena dihalangi pihak kepolisian. Saat pendemo dan polisi sempat bersitegang.

Pendemo dengan aparat kepolisian berhadapan dengan jarak sekitar empat meter. Lalu, Musliadi mengomandoi pendemo untuk maju beberapa langkah guna menerobos barisan polisi. Namun, saat muka pendemo berhadapan dengan polisi tanpa jarak lagi, mereka menghentikan rencana menerobos barisan polisi.

Tak lama kemudian, Sekretaris Perusahaan (Sekper) PIM Yuanda Wattimena didampingi Manager Humas PIM, Nasrun menuju ke lokasi. Karena itu, pendemo yang sudah merapat ke barisan polisi mundur lagi. Namun, saat Sekper PIM itu memberikan penjelasan terkait aksi tuntutan demo, sebagian pendemo langsung membantahnya.

Sehingga Koordinator berulangkali mengingatkan agar memberikan kesempatan kepada PIM untuk memberikan penjelasan. “Semua memiliki kesempatan berbicara, kalau semua berbicara tidak ada yang mendengar,” ujar Musliadi menenangkan massa yang ramai-ramai membantah penjelasan Sekper PIM.

Pendemo tak bisa menerima penjelasan Sekper PIM, karena tak bisa menjelaskan secara detil kenapa besi tua eks PT AAF tak bisa dihibah kepada mereka. Selain itu, juga tidak menyebutkan regulasi yang melarang besi tua tersebut dihibahkan ke masyarakat. Sehingga penjelasan tersebut selalu dibantah beramai-ramai.

Karena itu, Musliadi kembali mengingatkan. “Kita memiliki etika berpendidikan, biarkan dulu bapak tersebut menyelesaikan penjelasa. Nanti diberikan kesempatan untuk menanggapi dengan argumen dan landasan yang cukup,” ujar Musliadi. Usai memberikan penjelasan, tak Lama kemudian Sekper PIM meninggalkan lokasi demo.

Sekper PT PIM, Yuanda Wattimena saat bertemu pendemo menyampaikan, bahwa manajemen PIM sangat peduli dengan masyarakat. Karena itu, mereka berjanji akan bertemu dengan masyarakat. Ia menyebutkan, tuntutan masyarakat yang meminta hibah besi eks PT AAF tidak bisa dipenuhi, karena pihaknya membeli.

“Kami mengundang lima orang, untuk berdiskusi dengan kami di dalam (PIM). Perusahaan ini bukan perusahaan direksi dan bukan perusahaan saya,” ujar Sekper PIM.

Karena penjelasannya terus dibantah pendemo, Wattimena kembali mempertegas, PIM tidak bisa menghibah besi PT AAF. “Kalau ditanya ya, jawaban saya tidak boleh (hibah),” pungkasnya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved